Selasa, 10 Juli 2012
~ KESAKSIAN BENI WIJAYA:
"TUHAN UBAHKAN FAKTA MEDISKU" ~
Waktu itu saya naik ke atas, saya sedang memasang tower yang tingginya 4,5 meter. Sampai diatas tower itu saya tersengat listrik dan langsung jatuh ke bawah dan tidak sadarkan diri lagi.
TETANGGA MENOLONGNYA.
Saat itu saya sedang bekerja, sekitar jam setengah sembilan pagi. Tiba-tiba keluarga dari keluarga bapak Beni teriak-teriak minta tolong, katanya pak Beni jatuh. Saya bersama teman saya langsung mendatanginya, kami langsung naik ke atas dan mendapati pak Beni sudah tergeletak di tanah. Keadaannya sangat parah, darah mengalir dari mulut dan telinganya. Saya buru-buru mengakatnya dan menurunkannya pelan-pelan dan menggotongnya ke mobil.
ISTERI BENI TIDAK PERNAH MENYANGKA KECELAKAAN ITU.
Pada waktu kejadian itu saya dan anak-anaka kami sedang berpergian. Otomatis di rumah hanya suami saya dan satu pembantu. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika akan terjadi kecelakaan terhadap suami saya, apalagi kecelakaan apa sih yang bisa terjadi di rumah sampai akibatnya separah itu.
Saya tidak pernah menyangka apa yang suami saya alami, sampai akhirnya saya tiba di rumah sakit. Saya melihat keadaan suami saya begitu parah. Hampir dari semua bagian ddi kepala, dari mata, hidung dan telinga semuanya mengeluarkan darah. Tulang panggulnya hancur. Dan setelah dilakukan CT scan akhirnya juga diketahui jika ada retak di tulang tengkoraknya sepanjang 12 centimeter sehingga terjadi pendarahan hebat di otaknya.
Tim dokter pada waktu itu bilang kepada saya jika kemungkinannya sangat tipis untuk tertolong. Para dokter hanya bisa melakukan tindakan mengeluarkan darahnya saja, tidak bisa melakukan hal yang lain. Namun saya katakan kepada dokter supaya melakukan apa yang dilakukan saja, saya percaya Tuhan hadir di dalam ruang operasi dan akan menolong suami saya.
BENI HILANG INGATAN.
Setelah dioperasi akhirnya saya sadar. Namun saya cuma membuka mata saja, belum bisa bicara dan belum bisa apa-apa sama sekali. Bahkan saya sempat hilang ingatan sementara. Jadi untuk menyebut isteri atau saudara saya tidak tahu. Saya tidak mengenali mereka sampai beberapa saat.
ISTERI BENI TETAP BERHARAP.
Kejadian ini amat luar biasa sehinga jika untuk menggambarkannya seperti bumi ini terbelah dan saya masuk di dalamnya dan kemudian tertutup kembali. Saya tidak tahu kapan suami saya sembuh, saya juga tidak tahu apakah suami saya bisa berjalan dan berbicara kembali. Saya tidak tahu masa depan keluarga saya akan seperti apa. Namun ada satu keyakinan saya bahwa dibalik semua ini pasti akan indah pada masanya.
DOKTER PUN TAKJUB.
Ketika saya melihat foto hasil Rontgen-nya saya juga kaget. Jadi saya tidak berani ngomong banyak kepada isterinya karena memang keadaanya parah sekali. Menurut pengalaman saya selama diri, dari kaeadaan yang begitu kritis hingga pulh sepeerti sekarang, baru kali ini saya menemuinya. Biasanya bisa saja pulih tapi pasti masih ada gejala sisa-sisanya. Para dokter hanya bisa berusaha saja, yang menentukan segalanya itu adalah kuasa Tuhan.
Saya benar-benar bersyukur bahwa Tuhan itu begitu baik buat saya dan keluarga saya. Tuhan telah menyembuhkan saya dengan caranya yang sungguh ajaib dan tidak terselami. Saya pulih hingga sekarang.
“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” (1 Petrus 2 2:24)
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Beni Wijaya ]
~ KESAKSIAN HERCE ROMPIS:
"KADO ULANG TAHUN TERINDAH" ~
Hari itu, Herce Rompis berulang tahun yang ke 53. Tapi itu mungkin merupakan ulang tahun yang terakhir dalam hidupnya. Karena hari itu, ia terbaring tanpa harapan di sebuah rumah sakit.
Herce:
"Saya nggak tahu bahwa hari itu adalah hari ulang tahun saya. Saya lagi nggak sadar karena saya di ICU. Tapi semua anak-anak, kakak dan adik saya serta keponakan-keponakan, merayakan ulang tahun saya di ruang jaga, tapi dengan hati yang menganggap bahwa ini untuk yang terakhir kali."
Suami:
"Kenapa harus terjadi pada saat ulang tahun itu… Padahal seharusnya kami sama-sama bersukacita, tapi kok Tuhan ijinkan hal ini terjadi."
Kakak sulung:
"Perasaan kami sangat sedih sekali dan kami menyanyikan Happy Birthday sambil menangis. Dan satu persatu kami berdoa, kami minta pada Tuhan Yesus supaya menolong adik kami. Kami benar-benar minta tolong dan sembah sujud pada Tuhan supaya adik kami disembuhkan."
Suami:
"Waktu pertama kali dianval, saya memang melihat sudah tidak ada harapan lagi, sebab badannya sudah dingin semua, sudah tidak sadarkan diri. Saya merasa pada waktu itu dia sudah tidak tertolong lagi."
Prof. Bob:
"Waktu itu saya juga pesimis, karena kalau orang sudah tidak ada nafasnya itu sudah buruk sekali. Dia juga kan lumpuh."
Akhirnya ditemukan bahwa Herce menderita miastenia gravis yang akut. Miastenia gravis merupakan penyakit auto-imune, ini berarti imunitas Herce terganggu, sehingga terjadi kelumpuhan. Menurut dokter, oksigen yang ada di kepala Herce hanya tinggal 10%.
Anak:
"Saya sedih sekali waktu itu, saya nggak tahu harus berbuat apa karena kabar dan kejadiannya sangat tiba-tiba. Kami semua nggak ada yang siap dengan peristiwa ini."
Kakak sulung:
"Kami semua langsung berdoa, saya bilang Tuhan kami percaya bahwa Engkau akan mendengar doa-doa kami."
Herce:
"Di ICU itu saya merasa melihat film “The Passion of The Christ”, saya melihat Yesus itu mati untuk saya. Saya hanya melihat itu dan saya berkata bahwasanya untuk selamanya kasih setia Tuhan. Itu yang saya sebut. Saya memang merasakan ada yang selalu membelai saya, seperti ada sesuatu yang menguatkan saya."
Selama 2 minggu di ruang ICU, kondisi kesehatan Herce perlahan-lahan mulai membaik. Doa yang dipanjatkan oleh keluarganya dijawab Tuhan.
Prof. Bob:
"Memang itu mukjijat Tuhan… Karena sudah tiga kali dia dalam kondisi kritis tapi bisa sembuh."
Suami:
"Tuhan itu luar biasa, Tuhan masih ijinkan dia hidup dengan kami, dan Tuhan kabulkan doa kami."
Kakak:
"Kami semua bersukacita dan mengucap syukur, Tuhan itu baik."
Herce:
"Walaupun dokter pernah mengatakan bahwa saya sudah tidak bisa hidup lagi, dan diagnosa dokter bahwa penyakit saya tidak bisa disembuhkan lagi, tetapi Tuhan mengasihi saya. Sampai saat ini saya bisa merasakan kehangatan keluarga dari suami dan seluruh keluarga saya. Semua ini karena kasih dan anugrah Tuhan kepada saya."
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Herce Rompis ]
~ KESAKSIAN IBU FANG FANG & LINAWATI KUSUMA:
"KU AMPUNI PENEMBAK IBUKU" ~
Segala sesuatu terjadi dengan waktu sekejap. Ketika Linawati Kusuma keluar dari mobil yang dikemudikan ayahnya, Irwan Kusuma, perampok bermotor mendatangi dirinya. Linawati berusaha mempertahankan tas yang ia miliki. Mendengar keributan di jalan, sang ibu, Fang Fang segera menghampiri Linawati. Sambil merebut tas milik Lina, perampok yang panik segera melepaskan tembakan kearah perut ibu Fang Fang.
Linawati Kusuma begitu terkejut :
Dari jarak kurang lebih setengah meter, mama saya ditembak
Di dalam mobil Irwan Kusuma hanya bisa tertegun:
Saya sempat nggak percaya, bahwa ia benar-benar ditembak. Saya nggak percaya. Begitu orang-orang kasih tahu, semuanya teriak-teriak begitu, seketika itu juga saya turun.
Irwan Kusuma segera melarikan sang istri ke rumah sakit :
Saya sebentar-sebentar melongok, sebentar-sebentar melongok. Di bangku mobil itu memang ada darah. Di depan pintu rumah sakit, di depan UGD, dia sudah kehabisan suara. Disana dia ditolong dengan pertolongan pertama yaitu untuk memberhentikan darah. Peluru masih bersarang di dalam tubuh.
Namun dokter tidak bisa mengoperasi ibu Fang Fang :
Karena alatnya nggak lengkap dokter nggak berani mengoperasi. Kita lalu cari tempat lain. Setelah itu saya menghubungi salah satu temen yaitu bapak Mangkunarko. Dia lalu telepon ke rumah sakit pantai Indah Kapuk. Sampai di RS pantai Indah kapuk, dokter bilang bahwa istri saya tidak bisa dioperasi karena darahnya sudah terlalu banyak keluar. Nanti kira-kira jam sebelas malam baru bisa dioperasi karena dia harus mendapat tambahan darah dulu.
Melihat ibunya kritis, Linawati diliputi kepedihan :
Saya hanya bisa nangis terus. Terus terang saya tidak tega melihat mama seperti itu. Saya sayang sama mama walaupun saat ini saya belum bisa membahagiakan mama, tapi kehidupan saya menjadi lebih berwarna ketika mama itu ada.
17 Juli 2006 jam 23.00 malam operasi dilakukan. Tampaknya operasi berlangsung dengan baik. Namun pasca operasi, hal yang ditakutkan terjadi. Ibu Fang Fang mengalami pendarahan parah. Ia bahkan mengalami muntah darah akibat pendarahan di bagian perutnya.
Dr. Riki Tenggara Spd Pd yang merawat ibu Fang Fang :
Setelah masuk ICU ternyata pendarahan masih berlangsung terus. Dokter bedahpun memutuskan untuk melakukan re-operasi. Itu bukan keputusan mudah karena itu artinya melakukan operasi dalam kondisi yang lebih berat. Dokter mengatakan beberapa organ vital dari ibu Fang- Fang harus diangkat.
Dalam keadaan yang kritis, beberapa kerabat tetap : mempersalahkan Linawati yang ketika terjadi perampokan tetap mempertahankan tas yang dipegangnya. Mereka mengatakan kalau saja Lina menyerahkan tas itu maka mamanya tidak akan mengalami keadaan kritis seperti itu. Mereka mempersalahkan Lina yang dianggap tidak punya belas kasihan pada mamanya.
Linawati begitu tertekan dan merasa amat bérsalah :
Saya semakin penuh perasaan berdosa. Sepertinya saya menganggap semua ini penyebabnya adalah saya. Saat itu saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Sebagai manusia saya sedíh sekali. Hati saya hancur, saya hanya bisa menangis.
Kesedihan yang sama dialami Irwan Kusuma :
Menyendiri, saya hanya banyak menyendiri. Kadang-kadang cuma merenungi kenapa kok sampai begini?. Saya merasa sedíh sekali, hanya khan kadang-kadang saya tidak mau orang tahu kesedihan saya
19 Juli 2006 dilakukan operasi kedua. Ibu Fang Fang mengalami luka berat. Banyak organ tubuhnya hancur karena peluru. Organ tubuh yang diangkat adalah sebagian pánkreas, keseluruhan ginjal kirinya, limpa yang sudah hancur, dan liver yang robek-robek akibat diterjang peluru.
Ibunda Lina ini mengalami penolakan transfusi :
Setelah operasi yang kedua mama saya tidak bisa menerima darah. Setiap masuk kamar ICU saya tanya : “Dokter, kondisi mama bagaimana?” Dokter bilang : “Mama kamu nggak bisa tarima darah. Darah yang dimasukin – yang ditransfusi, keluar lagi.
Karena Lina mempertahankan hal yang bersifat materi, ibunya menjadi korban. Peluang hidupnya tinggal 25%. Lina tidak bisa membalikkan waktu untuk memperbaiki keadaan. Lina hanya bisa meratap dengan penuh penyesalan.
Malam itu saya bergumul, saya meratap pada Tuhan. Saya hanya bisa bilang : “Tuhan tolong mama saya. Mama saya tidak bisa terima darah. Kalau kondisinya seperti ini dokterpun bilang tidak ada harapan.” Saya mau berserah karena saya tahu hidup mama ada didalam tangan Tuhan. Saya bilang : “Tuhan, saya mau mengampuni orang-orang yang menjahati keluarga kami”
Saat itulah Lina melihat harapan dari Tuhan :
Pada saat itu saya hanya melihat dengan pandangan rohani saya, ranjang di rumah sakit dimana mama saya tidur, saya melihat dia tidur. Dan saya bilang : “Tuhan, saya tahu Engkau hadir disana. Dan saya melihat dari tanganNya itu ada satu selang yang mengalir ke tangan mama saya. Saya tahu yang mengalir di dalam tubuh mama saya adalah darah Tuhan Yesus. Mulai saat ini saya tahu mama saya pasti bisa menerima darah.”
4 Hari kemudian kondisi ibu Fang Fang semakin tidak karuan. Ia mengalami perubahan total. Ingatannya mengalami trauma, ibu Fang Fang mengalami penglihatan aneh-aneh. Ia melihat kaca-kaca ditembaki, penglihatannya sudah lain.
Lina seakan putus harapan :
Saya bilang : “Tuhan saya menderita, saya tidak kuat.” Saat itu Roh Kudus mengingatkan saya : “Kenapa kamu tidak mengucap syukur, bahwa Aku masih menyertai kamu, bahwa Aku ada selalu untuk kamu.”
Kondisi ibu Fang Fang tampak membaik. Malamnya Lina masih bisa bercanda dengan mama pada waktu jam besuk. Saat Lina kembali ke rumah, adiknya menelpon dan mengabarkan kembali bahwa ibu Fang Fang ada dalam keadaan kritis
Tapi kemudian ada telepon : “Ci cepat kembali ke rumah sakit!”. Saya sempat panik karena suaranya panik . Saya bilang : “Mama kenapa?, mama kenapa?”. “Pokoknya cepetan saat ini juga harus balik.”
Lina mulai memikirkan hal-hal buruk :
Saat itu di mobil saya hanya bisa berdoa, saya menangis. Saya terus berdoa karena saya sempat terpikir pikiran negatif : “Ohh tadi tuh seneng-seneng sama mama mungkin yang terakhir kalinya.”
Malam itu jantung ibu Fang Fang tiba-tiba berhenti. Dapatkah ia bertahan dalam kondisi yang sangat lemah?. Lina hanya bisa berdoa.
Di ruangan ICU itu hanya ada adik saya, Yoseph yang melihat mama diberikan pertolongan pertama. Saat itu kita semua hanya bisa berdoa. Saya tahu ini merupakan proses, tapi tolong Tuhan beri kekuatan. Saya bilang : “Tuhan tolong selamatkan mama saya”.
Tuhan mendengar doa Lina dan keluarganya. Ibu Fang Fang berhasil melewati masa krisis. Namun tantangan belum berakhir bagi keluarga Irwan Kusuma dan putrinya Lina. Selama berada di rumah sakit, biaya yang harus ditanggung besarnya hingga 360 juta rupiah. Dalam hal ini kembali Tuhan menyatakan kasihNya.
Irwan Kusuma yang mengalami kebaikan Tuhan :
Dalam 22 hari, hari demi hari setelah drop itu dia mulai ada perkembangan yang bagus. Walau tidak secara drastis, tapi sedikit demi sedikit dia semakin baik. Setiap hari selalu ada saja orang membantu, tidak ada henti-hentinya. Bantuan doa apalagi. Bantuan makanan, bantuan dana, semua diberikan. Saya bersyukur dan berterima kasih.
Setelah satu bulan berada di RS, ibu Fang Fang dinyatakan sehat dan bisa meninggalkan RS dan pulang ke rumah. Bahkan Dr. Riki Tenggara Spd Pd merasa digerakkan Tuhan untuk meringankan biaya pengobatan.
Kita hanya mengatakan súdahlah, mungkin untuk biaya dokternya tidak usah bayar. Yang penting apa yang sudah kita upayakan itu bisa menjadi suatu kehidupan. Penyembuhan dari ibu Fang Fang ini lebih merupakan mujizat dari Tuhan
Saat ini ibu Fang Fang telah bisa melakukan aktifitasnya seharí-hari tanpa ada keluhan sedikitpun.
Hanya syukur yang ada dalam hidup Irwan Kusuma :
Ini adalah satu mujizat yang bisa kita lihat dengan mata karena menurut siapapun juga, termasuk dokter sebetulnya telah angkat tangan dan mengatakan tidak ada harapan.
Linawati Kusuma :
Tuhan Yesus itu adalah papa saya, sahabat saya, Juruselamat saya dan Allah yang hidup karena dia telah memberikan anugerah untuk kehidupan mama saya dan juga keluarga kami. Dia pemberi mujizat yang luar biasa, tidak ada Tuhan seperti Dia.
Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. (Mazmur 18:5-7)
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Ibu Fang Fang & Linawati Kusuma ]
~ KESAKSIAN BAMBANG SYUMANJAYA:
"IMPIAN SIRNA DALAM SEKEJAP AKIBAT SEBUAH TABRAKAN MAUT" ~
Saya merasa menjadi anak yang spesial pada waktu kecil. Saya bisa melakukan segala hal yang ada di sekolah dan juga menjadi harapan keluarga,” ujar Bambang kepada Tim Solusi.
Bambang memiliki keluarga yang sangat sederhana dan sangat mengasihinya. Ia menjadi harapan keluarga. Pada waktu kecil Bambang sering diajak naik motor oleh Ayahnya. Selama perjalanan Ayahnya selalu bilang bahwa ia harus menjadi orang yang berhasil.
Kata-kata itu yang selalu dingat oleh Bambang dan ia selalu berusaha membahagiakan ayahnya. Demi masa depan yang lebih baik, keluarganya rela memberikan yang terbaik bagi Bambang.
Menurut Franky Darmawan, kakak kandung Bambang, karena orang tua mereka terbentur biaya, maka sebagai kakak-kakaknya Bambang mereka mengalah. Mereka berharap biarlah Bambang yang sukses menjadi sarjana, mereka sudah rela.
Masa depan yang penuh kepastian siap menanti untuk digapai oleh Bambang. Namun sebuah peristiwa tragis terjadi dan mengubah sejarah hidupnya.
Suatu siang bersama teman-teman kuliahnya, Bambang hendak pergi ke suatu tempat menggunakan sebuah mobil. Di tengah perjalanan ternyata rem mobil tidak berfungsi sama sekali dan sebuah tabrakan maut pun terjadi.
Ketika sadar dari pingsannya, Bambang menemukan dirinya terbaring di tengah jalan dan kap mobil menindih sebagian kakinya. Setelah kap mobil itu diangkat, sebagian kaki Bambang dipenuhi darah, pasir dan kaca. Bambang pun kemudian dilarikan ke rumah sakit dan kakinya langsung dioperasi saat itu juga.
Saat Bambang tersadar setelah menjalani operasi, hati Bambang menjerit dengan keras saat menyaksikan kaki kirinya dalam keadaan meyedihkan. Rasa sakit yang dirasakannya pun sungguh tak tertahankan. Selama Bambang dirawat di rumah sakit, kedua orang tuanya dengan setia menemani Bambang.
“Dunia ini terasa gelap, karena harapan kami hanya kepada Bambang. Kami sungguh berharap dia akan menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sarjana,” ujar Lili Widjaja, ibunda Bambang, sambil menangis.
Selama berada di rumah sakit, perasaan kecewa mulai menyelinap ke dalam hatinya. Bambang kecewa kepada Tuhan dan ia tidak dapat menerima musibah yang telah dialaminya. Ia selalu mempertanyakan Tuhan, kenapa bukan teman-temannya yang mengalami hal seperti ini.
Hari demi hari, perasaan kecewa yang dirasakan Bambang terhadap Tuhan semakin mendalam. Namun Bambang sadar, seringkali Roh Kudus berbicara di dalam hatinya.
“Ketika saya sedang sedih di rumah sakit, saya mendengar satu suara yang berbunyi, ‘Bambang, sekalipun manusia meninggalkan kamu, Aku tidak akan meninggalkan engkau’,” ujar Bambang.
Hati Bambang mulai diliputi kebingungan. Yang ia ingin agar Tuhan atas dirinya adalah secepatnya keluar dari rumah sakit dalam keadaan sembuh. Namun impiannya itu tidak juga terwujud. Apalagi sampai pada akhirnya saat dokter mengijinkannya pulang, ia divonis akan menjadi cacat seumur hidup.
Kecelakan itu menghancurkan seluruh mimpi dan harapan keluarganya. Bambang pulang dari rumah sakit dengan hati yang hancur dan pedih. Ia merasa telah gagal mewujudkan harapan keluarganya.
Hati Bambang semakin hancur setelah mendengar apa yang dikatakan oleh teman-temannya. Mereka mengatakan bahwa Bambang telah melakukan suatu dosa makanya ia dihukum Tuhan dan menjadi orang cacat. Namun Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan Bambang seorang diri.
“Saya berharga di mata Tuhan. Itulah yang membuat saya bersemangat. Perlahan tapi pasti, saya mulai bangkit. Kuliahpun dapat saya selesaikan dan menjadi lulusan yang terbaik. Semua karena kasih anugerah Tuhan semata,” ujar Bambang.
Saat ini Bambang telah menjadi pemilik dari “Family Discovery”, sebuah pelayanan konseling keluarga yang memulihkan begitu banyak keluarga yang berada di ambang kehancuran. Hidupnya begitu diberkati Tuhan. Dan secara luar biasa Tuhan memakai hidup Bambang untuk memberkati orang lain. Pelayanan keluar negeri acap kali telah dilakoninya. Dan penyertaan Tuhan Yesus atas hidup Bambang sungguh nyata. Janji Tuhan yang dinyatakannya secara pribadi saat Bambang berada dalam titik nadir terendah dalam hidupnya telah digenapi dengan indah.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Bambang Syumanjaya ]
~ KESAKSIAN JORWIL:
"NYARIS DIJEMPUT AJAL" ~
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pada tanggal 15 Februari 2007, Jorwil sedang mengendarai sepeda motornya. Waktu itu pukul 3 sore dan ia pulang kerja melewati jalan Cibadak. Namun mendekati perempatan, ia merasa agak kurang nyaman. Perempatan yang akan ia lalui tampaknya rawan karena hanya lampu kuning saja yang menyala dan tidak ada cahaya dari arah kiri. Namun entah bagaimana, tiba-tiba dari arah kiri itulah melintas sebuah mobil. Jorwil tak melihat mobil itu datang dan ia tak sempat menghindar sehingga tabrakan pun tak terelakkan. Menurut saksi mata yang berada di tempat kejadian, Jorwil langsung ‘mental’ begitu ditabrak. Setelah itu, ia sekali lagi terlindas oleh ban mobil dan kemudian tubuh Jorwil masih terseret hingga 9 sampai 10 meter.
Ketika Ana, istri Jorwil, mendapat kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan dan tengah berada di UGD, ia mengira kecelakaan itu hanya tabrakan biasa. Namun sesampainya di rumah sakit, ia sangat terkejut. Rasa sedih, kuatir dan ngeri menjadi satu karena melihat kondisi sang suami yang ternyata sangat parah: kaki terlindas dan tempurung sebelah kiri lepas.
Kengerian dan keterkejutan tak hanya dirasakan Ana. Veronika, adik Jorwil, tak urung shock melihat kondisi kakaknya. “Saya punya keinginan dan doa bahwa Tuhan akan menyelamatkan keluarga kami. Tapi, mengapa caranya harus seperti ini?” protes Veronika kepada Tuhan pada waktu itu. Veronika yakin Tuhan akan menyelamatkan nyawa kakaknya tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa Tuhan akan memakai cara ‘kecelakaan maut’ untuk menuntun Jorwil kembali di dalam Tuhan. Veronika takut, AW, panggilan akrab Jorwil, merasa frustasi dan tidak kuat menghadapi kenyataan pahit yang menimpa dirinya. Apalagi menurut dokter, cidera yang diderita Jorwil cukup berat. Ia terlindas oleh ban mobil dan mengalami cidera pada tulang dada dan paru-paru yang cukup parah sehingga Jorwil harus menerima nafas bantuan dengan bantuan mesin. Tak hanya itu, Jorwil juga mengalami patah pada tulang paha, lengan atas, dan tulang selangka. Kalau saja tidak cepat ditolong dan tindakan menyadarkan pasien (resusitasi) tidak segera dilaksanakan, Jorwil dipastikan akan meninggal di tempat atau sesaat setelah tiba di UGD. Cidera paru-paru yang cukup berat, kemudian ditambah dengan cidera pada anggota-anggota gerak serta kehilangan darah yang banyak hanya memberi peluang fifty-fifty bagi Jorwil alias Jorwil bisa meninggal atau hidup.
Sementara itu, Ana yang shock merasa bahwa harapan untuk suaminya bisa bertahan hidup sudah tidak ada. Pada saat itu, perasaannya yang paling dalam pada sang suami meliputi dirinya. Di dalam hatinya yang paling dalam, Ana bisa merasakan betapa ia sangat menyayangi dan mencintai Jorwil dengan tulus, apa pun keadaannya. Namun kepada Ana dokter telah menyatakan bahwa mereka tinggal menunggu mukjizat dari Tuhan saja. Kesedihan meliputi hati Ana. Di dalam benaknya terus terbersit apakah suaminya akan normal kembali. Saat itu tidak ada yang dapat dilakukan Ana kecuali berdoa kepada Tuhan. “Setiap hari saya berdoa dan itu membuat saya merasa dekat dengan Tuhan dan saya merasa Tuhan menguatkan hati saya. Saya percaya, Tuhan Yesus pasti memberi mukjizat buat keluarga kami sehingga suami saya bisa bangun dari koma karena saya sangat percaya, Tuhan itu ada di hati saya dan mendengar doa saya,” ujar Ana berharap. Dan benar, selang 3 hari lamanya Jorwil berhasil melewati masa kritisnya. Namun akankah sang suami bisa pulih dan normal kembali?
Oleh dokter, Jorwil kemudian dioperasi di bagian kepala, tangan dan kaki selama 6 – 7 jam. Perjuangan di dalam doa untuk Jorwil masih terus berlanjut. Walaupun Ana tahu bahwa secara medis, mustahil bagi Jorwil untuk sehat kembali seperti sedia kala, toh ia memohon juga kepada Tuhan untuk kesembuhan Jorwil yang sempurna. Dan ternyata Tuhan telah menjawab apa yang Ana minta dalam doanya. Seperti mimpi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, lewat doa Ana, sang istri, Tuhan memberikan kesembuhan bagi Jorwil. “Semua ini mukjizat dari Tuhan dan saya percaya Tuhan Yesus selalu bantu saya,” ujar Ana dengan bersukacita.
Masa-masa kritis akhirnya berlalu dan Jorwil kini melewati masa-masa terapi untuk melatih anggota-anggota tubuhnya yang sudah lama terbujur kaku sampai akhirnya Jorwil dapat melakukan semua kegiatannya seperti semula. “Yang membuat saya benar-benar terkesima, Tuhan benar-benar memulihkan Koko AW step by step sampai Koko AW bisa beraktivitas dan mengendarai mobil secara manual,” ujar Veronika takjub melihat kenyataan yang terjadi pada diri sang kakak. Begitu pula dengan Jorwil. Ucapan syukur terus terucap dari bibirnya: “Rasanya seperti hidup kembali. Padahal waktu tabrakan maut itu terjadi saya merasa seperti mau meninggal. Buat saya, Tuhan Yesus luar biasa.”
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Jorwil ]
~ KESAKSIAN TOTO SUKANTO:
"MISKIN MENJADI KAYA" ~
Aku dibesarkan dari lingkungan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Keluargaku sering berpindah-pindah karena kondisi ekonomi yang tidak pernah membaik. Karena tidak memiliki dana, aku hanya sanggup bersekolah sampai kelas 5 SD. Kemudian di usiaku yang ke 12, aku pindah ke daerah Cikampek untuk mencari pekerjaan, tapi semuanya sia-sia. Tidak ada perusahaan yang mau memperkerjakanku karena aku hanya tamatan kelas 5 SD.
Akhirnya aku hanya menjadi tukang rokok di terminal dan menjadi kuli bangunan demi mencukupi kebutuhan hidupku. Hal itu berlangsung sangat lama, sampai pada puncak penderitaanku di tahun 1973. Ayahku meninggal dunia dan hal itu menjadi tekanan yang sangat besar buatku. Sejak saat itu sifatku berubah total. Aku menjadi seorang pemarah. Emosiku tidak dapat terkendali dengan baik, bahkan aku menjadi mudah tersinggung.
Di usiaku yang ke 14 tahun, aku pergi merantau ke Pamanukan dan bekerja di sebuah toko kelontong milik seorang berkebangsaan Cina. Satu setengah tahun kemudian aku kembali ke Cikampek dan menjadi kondektur angkutan umum.
KETEKUNAN MENJALANI PROSES HIDUP.
Ternyata di balik segala kesusahan yang aku alami, Tuhan punya rencana yang luar biasa dalam hidupku. Pada suatu hari aku merasa kasihan pada seorang pendeta di dekat rumahku. Jemaatnya hanya sedikit, bahkan bisa dihitung dalam hitungan jari. Akhirnya, aku memutuskan untuk datang ke gereja karena ingin memenuhi tempat kosong disana. Semakin sering aku datang ke gereja, ternyata Firman Tuhan yang dibawakan selalu menyentuh hatiku dan aku terus mendapat pengajaran tentang siapa itu Yesus.
Dari saat itulah hidupku diubahkan. Aku merasakan kuasa Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Di tengah penderitaanku ini, Ia tetap menyertaiku dan terus menjagaiku. Buktinya, sampai saat ini aku masih dapat hidup dan bernapas. Akhirnya, 5 Maret 1978 aku menyerahkan diriku padaNya dan dibaptis serta mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat dalam kehidupanku.
Setelah menerima Yesus dalam hidupku, kehidupanku mulai mengalami perubahan yang luar biasa. Ada kuasa damai sejahtera yang melingkupi kehidupanku. Perubahan yang terbesar adalah di bidang ekonomiku. Aku mengawali usahaku dengan mulai berjualan es yang kutitipkan di warung-warung kecil untuk dijual. Berkat ketekunanku di dalam Tuhan, aku berhasil memperoleh keuntungan yang cukup besar sehingga aku dapat membeli bahan mentah, yaitu kayu, dan mengolahnya menjadi barang jadi, seperti lemari dan sebagainya. Dari usaha itu aku dapat membeli sepeda motor. Kuasa Tuhan memang luar biasa dalam hidupku.
Karena kasih Tuhan sangat kurasakan dalam hidupku, aku memutuskan untuk taat datang beribadah ke gereja. Di sanalah aku menemukan pasangan hidup, tulang rusukku. Tahun 1981, aku menikah dengan Cindra Ningsih, wanita yang kukenal di gereja. Satu tahun kemudian kami dikaruniai seorang anak yang luar biasa, dan 6 tahun kemudian lahirlah anak kami yang kedua. Kami menjadikan Yesus sebagai kepala keluarga dalam kehidupan keluarga kami dan aku sangat bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa mengalir dalam keluargaku.
MASA DEPAN PENUH HARAPAN MENJADI MILIKKU.
Setelah sekian lama hidupku terbelenggu kemiskinan dan menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, aku menjadi semakin yakin bahwa kuasa Tuhan memang dahsyat dalam hidupku. Sejak aku menyerahkan hidupku bagiNya, ada banyak berkat yang kuperoleh. Setelah menikah, mertuaku memberi sejumlah uang untuk modal usaha. Dari modal tersebut, aku membeli sebuah kios kecil. Sedangkan aku masih tinggal di rumah mertuaku. Usaha pertamaku saat itu adalah menjadi pedagang makanan ringan eceran. Dari usahaku itu, aku bisa mengembalikan modal yang diberikan oleh mertuaku hanya dalam jangka waktu 1 tahun. Kemudian usahaku meningkat menjadi pedagang grosiran. Dari hasil itu aku dapat membeli sebuah mobil box tipe HIZ 1000 secara kredit selama satu tahun.
Karena kuasa Tuhan benar-benar luar biasa dalam hidupku, enam bulan kemudian aku sanggup membeli sebuah mobil box lagi, Toyota L300, secara tunai. Tidak hanya sampai disitu, aku dapat membeli sebuah mobil box lagi dengan ukuran yang lebih besar. Kemudian, tahun 1990 aku dapat membeli rumah dan tahun 1996 aku bisa merasakan jalan – jalan ke Thailand dan Singapore. Tahun 1997 aku mendapat kesempatan untuk merasakan keindahan Hongkong, Swiss, dan Paris. Bahkan, aku dapat menyekolahkan anak pertamaku sampai meraih S1 di STIEB dan membelikannya sebuah mobil Suzuki Katana. Sedangkan anak keduaku saat ini duduk di bangku SMA di Bandung.
Berkat Tuhan juga mengalir begitu ajaib sampai saat ini. Aku sekarang telah memiliki mobil Mitsubishi Kuda dan BMW. Karena tuntunanNya dalam hidupku, aku berhasil menjadi salah seorang pengusaha makanan ringan yang sukses di wilayah Cikampek. Dan berkat kekuatanNya atasku, aku tidak menjadi orang yang sombong karena aku tahu apa yang aku miliki saat ini bukanlah milikku, tapi milikNya yang dititipkan padaku.
MELAYANI TUHAN.
Sebagai bukti pengabdianku padaNya, aku menjadi pelayan Tuhan sebagai ketua kaum pria dan ketua sidang majelis, sebagai ketua pelayanan pengusaha untuk wilayah Subang, Karawang, dan Purwakarta, dan juga aktif terlibat dalam yayasan yang melayani di bidang hubungan masyarakat di wilayah Cikampek. Satu yang pasti di balik kesuksesanku adalah bahwa Tuhan satu-satunya kunci dari semuanya itu.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Toto Sukanto ]
~ KESAKSIAN CIPTA YOPA:
"PERTOLONGAN TUHAN SELALU TEPAT PADA WAKTU-NYA" ~
Shallom, saya seorang TKW yang bekerja di Hong Kong dari tahun 2008, dan oleh karena anugrah-Nya saya dapat bergabung dengan GBI Hong Kong ini sedari pertama saya menginjakkan kaki saya di Hong Kong. Saya bertumbuh di gereja ini, dan saya selalu percaya kepada setiap visi yang Tuhan sampaikan melalui gereja ini.
Saya hendak menyaksikan apa yang baru saya alami di Tahun 2012 ini, yaitu “Tahun Perkenanan Tuhan, Mujizat Masih Ada”. Seperti ada tertulis dalam 2 Korintus 6:2, “ ... Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Melalui firman ini akan ada 3 hal yang akan kita alami saat kita berkenan di hadapan-Nya, yaitu ALLAH akan mendengar, menyelamatkan serta menolong kita.
Pada bulan Mei 2012 ini ada 3 kerinduan di hati saya untuk saya ikuti :
1. Saya rindu untuk bisa mendampingi anak saya yang akan ujian di awal bulan.
2. Saya rindu untuk bisa menghadiri WPA (World Praise Assembly) yang ada di Jakarta.
3. Saya rindu untuk bisa mengikuti KKR Bapak Gembala Pembina kita Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo pada tanggal 20 Mei 2012 di Hong Kong.
Jauh sebelum saya mengajukan cuti kepada majikan saya, mereka sudah pernah bilang bahwa saya hanya bisa mendapatkan cuti pada bulan Juli atau bulan Agustus, dan itupun hanya 2 minggu saja. Karena saya sudah mengetahui ketentuan yang majikan saya berikan, saya bergumul serta berdoa kepada Tuhan, agar saya bisa mendapatkan cuti di bulan Mei saja. Setelah berdoa sekian lama dan juga memperkatakan firman Tuhan, saya beranikan diri untuk mengajukan cuti pada bulan Mei ini, dan puji Tuhan majikan saya pun menyetujuinya!
Setelah saya mendapatkan ijin dari majikan, saya kembali berdoa memohon pimpinan- Nya, apa yang bisa saya lakukan pada saat saya cuti pulang kampung nanti. Lalu Tuhan menyuruh saya untuk mengumpulkan anak – anak remaja / pemuda dari seluruh denominasi gereja yang berada di lingkungan saya. Mendengar Tuhan berkata seperti itu saya tidak yakin dengan diri saya sendiri, karena saya belum memiliki pengalaman dalam bidang pengajaran, maupun saya pribadi mempunyai masa remaja yang tidak baik. Kembali saya bergumul dan berdoa karena saya tidak siap untuk melakukan hal ini. Dan pada satu ketika saya diingkat oleh pesan serta kesaksian Bapak Gembala Pembina kita, asalkan kita taat kepada Tuhan, maka Tuhan akan membuka pengertian untuk kita, dan akhir kata saya berkata “SAYA SIAP TUHAN!”.
Pada awal tahun 2012, bapak Gembala Pembina kita berbicara mengenai buah sulung, dimana kita harus mempersembahkan buah sulung, saya bergumul kepada Tuhan karena kalau saya memberikan buah sulung pada awal bulan ini, saya akan kekurangan. Dan saya mengadakan tawar menawar dengan Tuhan, dan saya janji sehabis saya cuti saya baru akan mempersembahkan buah sulung itu. Lalu Tuhan berbicara kepada saya “AKU menyuruh kamu untuk membawa hasil pertama di tahun ini, BUKAN hasil pertengahan tahun” saya tertegun dan saya menuruti apa yang Tuhan katakan kepada saya. Saya percaya kalau Tuhan akan selalu menyediakan segala sesuatu tepat pada waktunya. Dengan uang pas – pas an, akhirnya saya pulang kampung. Dan sesampainya di kampung, saya mencoba untuk menghubungi semua pendeta / pimpinan gereja setempat, serta menyampaikan keinginan Tuhan untuk membuat seminar ini. Puji Tuhan ada 6 gereja yang merespon dan menyambut positif seminar ini. Dan tiap tiap gereja pun menghimbau anak – anak remaja serta para pemuda untuk menghadiri seminar tersebut. Saya pun terkejut karena mereka berkata bahwa ini adalah pertama kalinya semua gereja dapat duduk bersama seperti ini.
Setelah pertemuan dengan gereja – gereja beres, saya berdoa mengucap syukur atas campur tangan Tuhan. Dan pada saat saya berdoa, Tuhan berkata kepada saya bahwa saya harus menyediakan makan bagi setiap peserta. Saya berpikir secara logika saya mana cukup dengan uang yang saya bawa, karena saya akan mengadakan kebaktian syukuran sebelum saya pulang nanti. Dan pada sore harinya saya menerima telepon dari teman saya yang ada di Hong Kong, mereka menanyakan bagaimana rencananya? Saya jelaskan bagaimana hasil dari pertemuan dengan gereja – gereja dan saya juga minta dukungan doa kepada teman – teman saya yang ada di Hong Kong. Puji Tuhan mereka mengirimkan sejumlah dana pas dengan jumlah yang saya butuhkan disini. Sungguh saya percaya Tuhan yang menggerakan hati mereka untuk mengirimkan dana tersebut. Dan akhirnya semuanya berjalan sesuai dengan rencanaNya.
Saya percaya pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Mari kita terus melekat pada sumber pemberi berkat, terus masuk dalam hadirat TUHAN, serta lebih intim lagi kepada-Nya. Teruslah memperkatakan firman TUHAN dan percaya bahwa MUJIZAT MASIH ADA!
Segala puji, syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi TUHAN kita YESUS KRISTUS, Halleluya, AMIN.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Cipta Yopa ]
Langganan:
Postingan (Atom)