Selasa, 10 Juli 2012

~ KESAKSIAN PROF. IRWANTO: "MALPRAKTEK MENGUBAH HIDUPKU DALAM SEJAM" ~ Professor Irwanto adalah sesosok pria yang aktif dalam isu-isu sosial, sepert HIV / AIDS, narkoba dan penghapusan seksual komersial anak. Di dalam kondisinya yang cacat, ia dianugerahi penghargaan oleh MURI sebagai Guru Besar Penyandang Cacat pada bidang Kemanusiaan. Namun tahukah Anda bahwa kondisi cacat yang dialaminya adalah akibat dari kasus malpraktek yang berawal dari rasa sakit yang ia rasakan di dadanya? “Sebelum tidur, saya merasakan dada saya tidak enak rasanya. Seperti ada yang menekan dan mengikat saya. Sebenarnya tidak sakit sekali, tapi seperti ada yang menekan di dada saya,” kisah Irwanto. Berawal dari rasa sakit inilah, ia pun pergi ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, tanpa diduga, dokter langsung meminta agar Irwanto menjalani pengawasan di ICCU, karena dikuatirkan terjadi sumbatan pada jantungnya. Semenjak awal, dokter hanya melakukan pembicaraan dengan isteri Irwanto. Kehadiran Irwanto tidak dianggap sama sekali. Tanpa berkonsultasi lansung dengan Irwanto, tindakan medis dilakukan oleh para dokter terhadap Irwanto. Ternyata, cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuhnya akan mengubah hidupnya untuk selama-lamanya. Tanpa pemeriksaan kondisi klinis lebih lanjut, Irwanto langsung diberikan obat untuk mencairkan darah, koagulan yang namanya streptoginase. Satu jam setelah masuk rumah sakit dan diberikan obat dalam cairan infusnya, Irwanto merasakan sakit yang luar biasa di tengkuknya, lalu terjadi trombose, keluar darah dari gusi-gusi Irwanto dan ia langsung mengalami kelumpuhan. Irwanto dipenuhi kebingungan, apakah yang dialaminya saat itu nyata atau tidak? Darah terus keluar dari hidung dan mulutnya. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa dirinya baik-baik saja, lalu kemudian ia sudah seperti mayat hidup, tidak dapat menggerakkan anggota badannya sama sekali. Saat itu, dokter yang merawat Irwanto mengajak isterinya untuk pergi ke pojokan kamar dan menjelaskan bahwa Irwanto sudah tidak memiliki pengharapan lagi. Ia akan segera meninggal. Parahnya lagi, Irwanto mendengar sendiri percakapan yang dilakukan oleh dokter dengan isterinya. “Dokter tega-teganya memanggil isteri saya di sebuah ruang sempit dan mengatakan, ‘Ibu, saya sudah tidak dapat membantu ibu. Bapak pasti akan meninggal karena infeksinya sudah sampai ke paru-paru’,” kisah Irwanto. Semua pikiran akan masa depan kehidupannya dan kehidupan keluarganya terus melintas di kepalanya. “Bagaimana nanti dengan tugas-tugasku? Berapa biaya yang harus aku tanggung nanti? Anak-anakku akan makan apa nanti? Semuanya campur aduk di otak saya. Saya melihat isteri saya sudah mulai bingung menangis, anak-anak saya menangis, teman-teman saya sudah mulai bingung juga, dan saya hanya bisa bengong seperti zombi,” kisah Irwanto dengan kepiluan yang tergambar jelas di wajahnya. Namun kematian ternyata belum berpihak pada Irwanto. Ia masih bertahan hidup meskipun mengalami kelumpuhan dari dada ke bawah. Karena kondisi tersebut, Irwanto sempat berpindah-pindah rumah sakit dan mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan. Ketika ia memutuskan untuk berobat ke Singapura, bertolak belakang dengan semua diagnosa dokter yang telah diterimanya, dokter di Singapura menyatakan kala itu sebenarnya ia hanya menderita kelelahan semata. “Pada tagihan obat saya, tercatat sebuah obat yang namanya streptoginase, dan obat itulah yang diduga memecahkan syaraf saya. Dan saya mulai ingat, persis pada waktru infus berisi obat itu masuk, saya sakit tengkuk, dan saya minta dioleskan obat gosok, lalu kemudian darah keluar dari mulut dan hidung saya, itulah saatnya saya mengalami kelumpuhan. Bukan karena sebab yang lain,” ujar Irwanto menceritakan awal kelumpuhan dirinya yang mengubah jalan hidupnya secara total. Dan ternyata semua diagnosa dokter mengenai infeksi yang sudah sampai ke paru-parunya adalah sebuah kesalahan. Para dokter di Singapura bahkan mentertawakan diagnosa awal yang divoniskan pada Irwanto. Irwanto merasakan kebingungan yang tak berkesudahan akibat peristiwa ini. Hal itulah yang meyebabkan ia akhirnya menderita depresi. Menyadari bahwa dirinya telah mengalami kelumpuhan dari dada sampai ke ujung kaki, Irwanto harus menerima kenyataan bahwa hidupnya akan berakhir di kursi roda. Irwanto pun merasa putus asa. “Hari-hari itu saya benar-benar menderita depresi berkepanjangan. Saya tidak mau ada sinar lampu, saya tidak mau mendengar suara apapun, saya benar-benar hanya berpikir untuk mati saja waktu itu. Lalu kemudian kalau berdoa saya selalu mempertanyakan Tuhan, kenapa harus saya yang mengalami ini? Dan bukan hanya itu saja, saya juga mempertanyakan kenapa saya sekarang jadi begini?” ujar Irwanto. Secara manusiawi, Irwanto pun mengalami keterpurukan akibat malpraktek yang menimpanya. Namun isterinya selalu ada di sampingnya untuk memberikan dukungan. Dengan setia ia terus memperhatikan Irwanto dan mendampingi Irwanto dengan penuh pengertian. Jika Irwato sudah mulai memukuli meja, tempat tidur dan badannya dengan kedua tangannya yang sudah mulai bisa digerakkan, isterinya akan langsung mengajak Irwanto untuk membaca Alkitab. Meskipun berada dalam keterpurukan yang terdalam dalam hidupnya, namun firman yang dibacakan isterinya terus didengarkan oleh Irwanto. Dalam keputusasaannya, Irwanto bergelut dengan pilihan-pilihan yang ada di dalam benaknya. Mau tidak mau, ia harus mengambil keputusan dan respon yang tepat atas kejadian yang menimpanya. “Pada waktu sudah diberitahu bahwa ini kesalahan dokter, saya kemudian mulai merefleksikan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Apakah saya mau tetap hidup sambil terus menyesali apa yang telah terjadi di belakanga, atau saya mati saja, atau pilihan lain saya memilih hidup sambil mulai melupakan apa yang telah terjadi dan fokus ke depan. Perlahan-lahan, saya mulai menemukan jawaban saya sendiri. Kalau saya selalu hidup dengan penuh beban karena dokter yang salah, hidup saya akan selalu dipenuhi dengan kemarahan. Dan setiap kali saya marah, kondisi saya drop. Suhu badan saya tiba-tiba turun, saya menjadi sangat tidak nyaman di tempat tidur, emosi saya pun mulai jelek. Lalu saya akhirnya mengambil keputusan, saya harus bisa memaafkan dokter itu. Saya terus berdoa agar saya betul-betul bisa menghilangkan segala kemarahan saya terhadap dokter itu dan mengatakan, urusan saya dengan dia selesai,” kisah Irwanto. Semenjak saat itulah Irwanto mulai bisa menikmati latihan yang harus ia jalani untuk menggerakkan anggota-anggota tubuhnya, dan setiap kunjungannya ke dokter bisa dinikmatinya dengan baik. Dengan semangat yang baru, Irwanto pun bangkit untuk melangkah dalam panggilannya. Irwanto sekarang dapat melihat bahwa apa yang dialaminya bukanlah suatu cobaan ataupun ujian semata, namun Tuhan hanya ingin agar ia melakukan tugas yang lain, tugas yang telah ditetapkan-Nya menjadi tujuan Irwanto hidup di duia ini. “Tadinya saya melakukan tugas yang lain, tapi sekarang saya diberikan hak istimewa untuk melakukan pekerjaan saya saat ini. Dan buktinya dengan keadaan saya yang seperti ini, saya bisa bertemu dengan banyak orang, saya bisa memberikan inspirasi kepada banyak orang, mungkin itulah maksud dari segala peristiwa yang harus saya lewati kemarin. Bagian dari pemulihan saya justru ketika saya melakukan tugas-tugas ini, saya mendapatkan dan menemukan banyak sekali hal yang memompa semangat saya untuk bangkit kembali. Optimisme hidup saya justru bangkit karena saya ketemu langsung dengan anak-anak yang saya bantu, ketemu NGO-nya, ketemu masyarakat. Pada akhirnya saya menyadari, selain Tuhan, yang menentukan hidup saya itu adalah pilihan yang saya buat sendiri. Jadi kalau saya tidak mengusahakan apa-apa, menyerah dengan keadaan saya, maka tidak akan terjadi apa-apa,” ujar Irwanto menutup kesaksian hidupnya yang begitu menginspirasi banyak orang. Bagi Anda yang mengalami sebuah peristiwa yang tak dapat dimengerti, jangan pernah menyerah. Teruslah bangkit, maka Anda akan menemukan pelangi dari segala peristiwa menyakitkan yang harus Anda alami. TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu... [ Sumber: Prof. Irwanto ]
~ KESAKSIAN BONG CHANDRA: "UNGKAP RAHASIA SUKSESNYA" ~ Bong Chandra, pemuda usia 24 tahun ini dikenal sebagai “Motivator Termuda di Asia”. Ia berhasil menjadi seorang milyader di usia yang sangat muda, tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi idola banyak orang. Namun siapa sangka bahwa perjalanannya menuju kesuksesan ternyata penuh liku. Berikut adalah wawancara dengan Bong Chandra. Bagaimana sih ceritanya hingga Anda bisa sukses seperti sekarang ini? Saya dibesarkan di keluarga yang biasa saja. Orangtua saya seorang pengusaha. Namun saya dibesarkan dalam keadaan penuh kelemahan. Dalam artian yang pertama adalah kelemahan fisik. Waktu saya lahir, saya terkena penyakit flek paru-paru. Jadi waktu kecil saya suka kejang. Akhirnya hal itu membuat tubuh saya sangat kurus, dan hal tersebut membuat saya tidak percaya diri dan kuper. Hingga pada tahun 1998, pada saat saya kelas 6 SD Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kerusuhan. Salah satu yang kena adalah pabrik papa saya. Papa saya bankrupt, sehingga mulai dari kelas 6 SD sampai 2 SMA saya hidup sangat kekurangan. Saya juga melihat bagaimana ayah saya dari punya pabrik, kerja dengan mesin, kebetulan pabrik kue, jadi buat adonan kue sendiri. Bagaimana keringatnya, bagaimana beliau masuk ke pasar-pasar basah, panas, pada hal usia beliau sudah 50 tahun lebih saat itu. Saya seringkali juga hanya makan seadanya, dan juga hutang sana dan hutang sini. Bahkan seringkali kalau saya terima telephone di rumah diminta bilang papi ngga ada, mami ngga ada. Karena yang telephone adalah penagih hutang. Listrik dan telephone kami juga sering di putus. Masa-masa paling pahit bagi saya adalah saat kami sekeluarga harus mengumpulkan uang-uang receh yang ada di sudut-sudut jendela, pojok-pojok lemari. Uang receh bisa buat apa sih? Tapi saking berharganya uang-uang receh itu bisa kami buat bayar listrik atau telephone. Bagaimana dengan prestasi di sekolah? Saya tidak punya prestasi sama sekali (di sekolah – red). Seringkali saya hanya fotokopi buku pelajaran karena tidak mampu beli buku baru. Saya hampir tidak naik kelas waktu SMA kelas 2 semester pertama. Raport saya merah 11 pelajaran dari 13 mata pelajaran. Saya menangis, saya sedih sekali. Itu adalah titik paling rendah dalam hidup saya. Ternyata Bong Chandra pun pernah merasa iri… Wajar, namanya juga anak muda waktunya aktualisasi diri. Mereka bisa punya handphone baru, saya ngga bisa. Mereka bisa pergi sama keluarganya, saya ngga bisa. Saat itu ada teman saya yang ngga ada jemu-jemunya menjenguk saya, bukan karena saya sakit, tapi untuk mengajak saya ke gereja. Waktu itu ngga tahu kenapa saya merasa ini saat yang tepat. Akhirnya saya putuskan untuk ke gereja. Di sana saya sadar bahwa selama ini saya masih mengandalkan kekuatan saya sendiri. Kadang saya bertanya, untuk apa sih Tuhan ciptakan kesulitan. Kenapa Tuhan ciptakan masa-masa down. Akhirnya saya menemukan (jawabannya), ternyata kalau tidak ada masa-masa sulit, tidak ada masa down, manusia akan mengandalkan dirinya sendiri, itu yang saya yakini yang dulunya saya belum yakin. Ketika mengalami masa sulit, manusia sudah tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan orangtuanya, orang lain, maka manusia mulai mencari satu pribadi, itulah yang saya alami. Bong menemukan satu pribadi itu dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Mulai saat itulah paradigmanya mulai berubah. Kita manusia ini bukan apa-apa, dalam artian kita ini bisa hidup karena anugrah. Kita bisa sehat, bisa makan karena anugrah. Jadi jangan lagi mengandalkan manusia. Jangan lagi percaya sepenuhnya sama manusia. Tapi andalkan dan percayakan sepenuhnya sama Tuhan. Sekali lagi hidup ini seperti permainan catur. Tuhan baru bisa majukan pionnya kalau kita majukan pionnya. Karena kalau kita majukan pion, satunya hanya diam kan tidak bisa. Jadi kita berharap sepenuhnya pada Tuhan, tapi kita harus berusaha jadi yang terbaik. Jadi dua keseimbangan ini yang menjadi paradigma yang baru ketika saya mengenal Kristus. Berlahan Bong mulai bangkit.. Yang membuat saya bangkit adalah orang-orang yang saya cintai. Yaitu orangtua saya, adik, pasangan saya dan lain sebagainya. Jadi yang membuat saya bangkit adalah alasan yang kuat, karena saya percaya motivasi terbesar bukanlah ketika kita berjuang untuk diri kita sendiri tapi berjuang untuk orang lain. Saya berkomitmen untuk tidak egois lagi. Dalam arti, saya siap bayar harganya. Dulunya saya nyaman, diam di rumah. Kemudian sudah uangnya terbatas, malah habiskan uangnya ke warnet. Main game, sama teman-teman main basket. Saya bilang, mulai hari ini saya tidak mau egois berpikir untuk diri saya, dan saya mau bangkit, bukan untuk saya tapi untuk mereka. Demi keluarganya Bong rela bekerja keras.. Saya pernah gonta-ganti pekerjaan, dari pertama serabutan. Saya jualan baju, saya jual parfum, apapun yang bisa saya jual. Saya punya prinsip, lebih baik susah sekarang. Dan saya bersyukur, karena keluarga kami bankrut dan kami punya keterbatasan, jadi keluarga kami sangat dekat. Yang kedua adalah saya bersyukur, karena hidup saya dari kecil sudah sulit, saya jadi anak yang tidak manja. Jadi saya balik, dari awalnya saya iri sama teman-teman saya, teman-teman saya harus iri sama saya. Karena apa? Karena mereka tidak mengalami kesulitas yang saya rasakan. Karena mereka tidak mengalami kesulitan, mereka tidak tumbuh sekeras saya. Saya percaya ketika kita tumbuh dalam lingkungan yang keras, maka Tuhan akan menjadikan kita lebih keras. Kerasnya tekad Bong itulah yang membuat ia tidak pernah menyerah. Berbagai bisnis seperti MLM dan event organizer ia jalani. Untung dan rugi juga silih berganti. Namun ia tidak pernah putus asa. Luar biasanya, setiap saya jatuh Tuhan angkat saya lebih tinggi. Jadi setiap kali saya jatuh, mentalnya bukannya sama atau lebih rendah, tapi lebih tinggi. Ketika saya pernah jatuh, ternyata Tuhan mempertemukan saya dengan bisnis property. Di bisnis property inilah Bong Chandra berhasil mencapai kesuksesannya. Ia berhasil menjadi milyader di usia muda dan berhasil mewujudkan impian orangtuanya untuk ke luar negeri. Saat dipuncak keberhasilannya, ia ingin orang lain berhasil juga. Karena itulah ia menjadi seorang motivator. Apa yang menjadi kepuasan Bong saat ia menjadi motivator? Paling puas adalah saat saya mendapatkan email, atau mendapat mention di twitter saya yang mengatakan hidupnya berubah, mereka jadi memiliki semangat lagi. Pernah saya mendapat email dari orang yang dulu katanya pernah dibilang hampir gila sama orang-orang, dan akhirnya mereka bisa temukan jati diri yang baru. Ada yang pernah hampir bunuh diri, saya bisa bantu mereka. Itulah salah satu yang membuat saya senang memberi motivasi. Apa arti kesuksesan bagi Bong Chandra? Buat saya sukses adalah saya bisa menjadi lebih baik dari yang kemarin, itulah yang pertama. Yang kedua, sukses adalah ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri. Dalam artian, manusia itu Tuhan kasih potensi yang sangat luar biasa. Jika manusia itu tidak bisa melawan dirinya sendiri maka potensinya akan terhambat. Sukses adalah ketika kita bisa menggunakan talenta yang Tuhan kasih, kita develop sehingga kita bisa bermanfaat bagi banyak orang. Dimana peran Tuhan dalam kesuksesan Bong Chandra? Peran Tuhan Yesus sangat-sangat besar. Terutama dalam filosofi-filosofi hidup saya dalam membangun bisnis. Sebagai contoh, dalam Alkitab ada yang mengatakan barang siapa yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Saya pegang firman Tuhan itu, dan saya lakukan. Dalam artian, ternyata apa yang kita tabur walaupun itu susah, tenang saja, hanya waktu yang akan menentukan segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Yang kedua juga, apa yang Tuhan bilang: siapa yang mau lebih tinggi, dia harus mau menjadi yang lebih melayani. Dari situ saya belajar harus senyum kepada orang-orang siapapun itu. Dari situ saya bisa belajar rendah hati. Prinsip-prinsip apa yang dijalankan Bong Chandra dalam bisnisnya? Yang pertama adalah prinsip kebenaran, dalam arti kita tidak boleh kompromi. Yang kedua adalah kerjasama. Apa pesan Bong Chandra untuk hadapi tahun 2012? Saya percaya bahwa di dalam Tuhan kita bukanlah manusia yang lama tapi manusia yang baru. Jadi saya percaya di dalam Tuhan setiap hari adalah tahun yang baru. Untuk tahun yang baru selalu ada masalah yang baru. Tahun yang baru selalu ada berkat yang baru. Pelajari, evaluasi apa yang sudah terjadi di tahun 2011. Jangan jadikan suatu kegagalan sebagai akar pahit, jadikan kegagalan sebagai kuliah. Ketika saya ingat uang kuliah yang saya bayar begitu besar, maka saya tidak mau menyia-nyiakan ketika masuk ke tahun yang baru. Demikian juga dengan Anda. Terima kasih, sukses untuk Anda semua, GOD Bless you all... [ Sumber: Bong Chandra ]
~ KESAKSIAN BONG CHANDRA: "UNGKAP RAHASIA SUKSESNYA" ~ Bong Chandra, pemuda usia 24 tahun ini dikenal sebagai “Motivator Termuda di Asia”. Ia berhasil menjadi seorang milyader di usia yang sangat muda, tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi idola banyak orang. Namun siapa sangka bahwa perjalanannya menuju kesuksesan ternyata penuh liku. Berikut adalah wawancara dengan Bong Chandra. Bagaimana sih ceritanya hingga Anda bisa sukses seperti sekarang ini? Saya dibesarkan di keluarga yang biasa saja. Orangtua saya seorang pengusaha. Namun saya dibesarkan dalam keadaan penuh kelemahan. Dalam artian yang pertama adalah kelemahan fisik. Waktu saya lahir, saya terkena penyakit flek paru-paru. Jadi waktu kecil saya suka kejang. Akhirnya hal itu membuat tubuh saya sangat kurus, dan hal tersebut membuat saya tidak percaya diri dan kuper. Hingga pada tahun 1998, pada saat saya kelas 6 SD Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kerusuhan. Salah satu yang kena adalah pabrik papa saya. Papa saya bankrupt, sehingga mulai dari kelas 6 SD sampai 2 SMA saya hidup sangat kekurangan. Saya juga melihat bagaimana ayah saya dari punya pabrik, kerja dengan mesin, kebetulan pabrik kue, jadi buat adonan kue sendiri. Bagaimana keringatnya, bagaimana beliau masuk ke pasar-pasar basah, panas, pada hal usia beliau sudah 50 tahun lebih saat itu. Saya seringkali juga hanya makan seadanya, dan juga hutang sana dan hutang sini. Bahkan seringkali kalau saya terima telephone di rumah diminta bilang papi ngga ada, mami ngga ada. Karena yang telephone adalah penagih hutang. Listrik dan telephone kami juga sering di putus. Masa-masa paling pahit bagi saya adalah saat kami sekeluarga harus mengumpulkan uang-uang receh yang ada di sudut-sudut jendela, pojok-pojok lemari. Uang receh bisa buat apa sih? Tapi saking berharganya uang-uang receh itu bisa kami buat bayar listrik atau telephone. Bagaimana dengan prestasi di sekolah? Saya tidak punya prestasi sama sekali (di sekolah – red). Seringkali saya hanya fotokopi buku pelajaran karena tidak mampu beli buku baru. Saya hampir tidak naik kelas waktu SMA kelas 2 semester pertama. Raport saya merah 11 pelajaran dari 13 mata pelajaran. Saya menangis, saya sedih sekali. Itu adalah titik paling rendah dalam hidup saya. Ternyata Bong Chandra pun pernah merasa iri… Wajar, namanya juga anak muda waktunya aktualisasi diri. Mereka bisa punya handphone baru, saya ngga bisa. Mereka bisa pergi sama keluarganya, saya ngga bisa. Saat itu ada teman saya yang ngga ada jemu-jemunya menjenguk saya, bukan karena saya sakit, tapi untuk mengajak saya ke gereja. Waktu itu ngga tahu kenapa saya merasa ini saat yang tepat. Akhirnya saya putuskan untuk ke gereja. Di sana saya sadar bahwa selama ini saya masih mengandalkan kekuatan saya sendiri. Kadang saya bertanya, untuk apa sih Tuhan ciptakan kesulitan. Kenapa Tuhan ciptakan masa-masa down. Akhirnya saya menemukan (jawabannya), ternyata kalau tidak ada masa-masa sulit, tidak ada masa down, manusia akan mengandalkan dirinya sendiri, itu yang saya yakini yang dulunya saya belum yakin. Ketika mengalami masa sulit, manusia sudah tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan orangtuanya, orang lain, maka manusia mulai mencari satu pribadi, itulah yang saya alami. Bong menemukan satu pribadi itu dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Mulai saat itulah paradigmanya mulai berubah. Kita manusia ini bukan apa-apa, dalam artian kita ini bisa hidup karena anugrah. Kita bisa sehat, bisa makan karena anugrah. Jadi jangan lagi mengandalkan manusia. Jangan lagi percaya sepenuhnya sama manusia. Tapi andalkan dan percayakan sepenuhnya sama Tuhan. Sekali lagi hidup ini seperti permainan catur. Tuhan baru bisa majukan pionnya kalau kita majukan pionnya. Karena kalau kita majukan pion, satunya hanya diam kan tidak bisa. Jadi kita berharap sepenuhnya pada Tuhan, tapi kita harus berusaha jadi yang terbaik. Jadi dua keseimbangan ini yang menjadi paradigma yang baru ketika saya mengenal Kristus. Berlahan Bong mulai bangkit.. Yang membuat saya bangkit adalah orang-orang yang saya cintai. Yaitu orangtua saya, adik, pasangan saya dan lain sebagainya. Jadi yang membuat saya bangkit adalah alasan yang kuat, karena saya percaya motivasi terbesar bukanlah ketika kita berjuang untuk diri kita sendiri tapi berjuang untuk orang lain. Saya berkomitmen untuk tidak egois lagi. Dalam arti, saya siap bayar harganya. Dulunya saya nyaman, diam di rumah. Kemudian sudah uangnya terbatas, malah habiskan uangnya ke warnet. Main game, sama teman-teman main basket. Saya bilang, mulai hari ini saya tidak mau egois berpikir untuk diri saya, dan saya mau bangkit, bukan untuk saya tapi untuk mereka. Demi keluarganya Bong rela bekerja keras.. Saya pernah gonta-ganti pekerjaan, dari pertama serabutan. Saya jualan baju, saya jual parfum, apapun yang bisa saya jual. Saya punya prinsip, lebih baik susah sekarang. Dan saya bersyukur, karena keluarga kami bankrut dan kami punya keterbatasan, jadi keluarga kami sangat dekat. Yang kedua adalah saya bersyukur, karena hidup saya dari kecil sudah sulit, saya jadi anak yang tidak manja. Jadi saya balik, dari awalnya saya iri sama teman-teman saya, teman-teman saya harus iri sama saya. Karena apa? Karena mereka tidak mengalami kesulitas yang saya rasakan. Karena mereka tidak mengalami kesulitan, mereka tidak tumbuh sekeras saya. Saya percaya ketika kita tumbuh dalam lingkungan yang keras, maka Tuhan akan menjadikan kita lebih keras. Kerasnya tekad Bong itulah yang membuat ia tidak pernah menyerah. Berbagai bisnis seperti MLM dan event organizer ia jalani. Untung dan rugi juga silih berganti. Namun ia tidak pernah putus asa. Luar biasanya, setiap saya jatuh Tuhan angkat saya lebih tinggi. Jadi setiap kali saya jatuh, mentalnya bukannya sama atau lebih rendah, tapi lebih tinggi. Ketika saya pernah jatuh, ternyata Tuhan mempertemukan saya dengan bisnis property. Di bisnis property inilah Bong Chandra berhasil mencapai kesuksesannya. Ia berhasil menjadi milyader di usia muda dan berhasil mewujudkan impian orangtuanya untuk ke luar negeri. Saat dipuncak keberhasilannya, ia ingin orang lain berhasil juga. Karena itulah ia menjadi seorang motivator. Apa yang menjadi kepuasan Bong saat ia menjadi motivator? Paling puas adalah saat saya mendapatkan email, atau mendapat mention di twitter saya yang mengatakan hidupnya berubah, mereka jadi memiliki semangat lagi. Pernah saya mendapat email dari orang yang dulu katanya pernah dibilang hampir gila sama orang-orang, dan akhirnya mereka bisa temukan jati diri yang baru. Ada yang pernah hampir bunuh diri, saya bisa bantu mereka. Itulah salah satu yang membuat saya senang memberi motivasi. Apa arti kesuksesan bagi Bong Chandra? Buat saya sukses adalah saya bisa menjadi lebih baik dari yang kemarin, itulah yang pertama. Yang kedua, sukses adalah ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri. Dalam artian, manusia itu Tuhan kasih potensi yang sangat luar biasa. Jika manusia itu tidak bisa melawan dirinya sendiri maka potensinya akan terhambat. Sukses adalah ketika kita bisa menggunakan talenta yang Tuhan kasih, kita develop sehingga kita bisa bermanfaat bagi banyak orang. Dimana peran Tuhan dalam kesuksesan Bong Chandra? Peran Tuhan Yesus sangat-sangat besar. Terutama dalam filosofi-filosofi hidup saya dalam membangun bisnis. Sebagai contoh, dalam Alkitab ada yang mengatakan barang siapa yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Saya pegang firman Tuhan itu, dan saya lakukan. Dalam artian, ternyata apa yang kita tabur walaupun itu susah, tenang saja, hanya waktu yang akan menentukan segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Yang kedua juga, apa yang Tuhan bilang: siapa yang mau lebih tinggi, dia harus mau menjadi yang lebih melayani. Dari situ saya belajar harus senyum kepada orang-orang siapapun itu. Dari situ saya bisa belajar rendah hati. Prinsip-prinsip apa yang dijalankan Bong Chandra dalam bisnisnya? Yang pertama adalah prinsip kebenaran, dalam arti kita tidak boleh kompromi. Yang kedua adalah kerjasama. Apa pesan Bong Chandra untuk hadapi tahun 2012? Saya percaya bahwa di dalam Tuhan kita bukanlah manusia yang lama tapi manusia yang baru. Jadi saya percaya di dalam Tuhan setiap hari adalah tahun yang baru. Untuk tahun yang baru selalu ada masalah yang baru. Tahun yang baru selalu ada berkat yang baru. Pelajari, evaluasi apa yang sudah terjadi di tahun 2011. Jangan jadikan suatu kegagalan sebagai akar pahit, jadikan kegagalan sebagai kuliah. Ketika saya ingat uang kuliah yang saya bayar begitu besar, maka saya tidak mau menyia-nyiakan ketika masuk ke tahun yang baru. Demikian juga dengan Anda. Terima kasih, sukses untuk Anda semua, GOD Bless you all... [ Sumber: Bong Chandra ]
~ KESAKSIAN TOMMY SIHOTANG: "ANAK PEDAGANG SAYUR MENJADI PENGACARA HEBAT" ~ Tommy bersaksi bahwa kehidupan yang sekarang sedang ia jalani adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah ia mimpikan karena semasa kecilnya ia harus hidup dengan biaya pas-pasan. Orangtuanya adalah pedagang kecil. Mereka berdagang hasil bumi seperti bawang, cabai dan sayur-sayuran. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga, Tommy dan ibunya setiap pagi harus pergi ke pasar induk Kramat Jati untuk mengambil bahan-bahan dagangan mereka dan dijual. Mereka harus naik sebuah mobil bak kecil setiap jam 4 pagi. Pada saat itu Ia berpikir bahwa mereka tidak boleh seperti ini terus. Ia harus membuat perubahan dalam kehidupan ekonomi mereka. Setelah lulus SD, Tommy tidak sekolah selama 2 tahun. Ia menjadi makhluk ekonomi yang berjualan es, Koran, permen dan bahkan ia menkadi pemecah batu untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Sesulit apapun situasi perekonomian keluarga pada saat itu, tetapi orangtua Tommy tetap menganggap bahwa sekolah adalah hal yang penting. Perlahan tapi pasti Tommy melanjutkan sekolahnya SMP dan SMU. Kemudian karena kerja kerasnya ia berhasil masuk di perguruan tinggi. Pada tahun kedua ia kuliah, ia diajak temannya untuk bekerja di kantor pengacara. Awalnya ia tidak tahu apa itu pengacara. Yang ia tahu bahwa kalau ia bekerja maka ia akan mendapat uang. Ia bekerja di Firma Hukum Maruli Simorangkir dan menjadi asisten pengacara. Tetapi disana ia melakukan semua pekerjaan. Termasuk pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Office Boy, misalnya bayar tagihan telepon, tagihan listrik, beli Koran sampai menyuguhkan minuman pada tamu. Bahkan sampai membetulkan genteng yang bocor. Ia lakukan semua dengan sukacita. Ia harus bekerja disana sampai jam 5 dan harus ke kampus sepulang kerja. Tanpa ia sadari sebenarnya ia sedang mempelajari praktek hukum yang sebenarnya disana yang tertanam sampai sekarang. Sampai pada suatu saat ia melihat kerjaan diatas meja yang tidak berhubungan dengan hukum, misalnua seperti surat tawaran, dll. Ia akhirnya berinisiatif untuk membuat surat itu dan diperbolehkan oleh bosnya saat itu. Beberapa tahun ia bekerja disana dan mendapat pengajaran yang luar biasa dari kantor itu. Menurut Maruli ia adalah orang yang tekun. Tekun dalam pekerjaan dan sekolah. Ia mengalami kemajuan yang luar biasa dalam percaya diri. Akhirnya ia pada tahun 1988 ia mengundurkan diri dan mendirikan firma sendiri yaitu Tommy Sihotang&Partners. Menjadi kaya adalah pilihan. Menjadi miskin juga adalah pilihan. Setelah ia mengalami masa kecil yang tidak enak. Ia mulai bangkit dan maju untuk memperbaiki keadaan perekonomian. Sejak saat itu ia dipercayakan untuk menangani kasus-kasus besar dan namanya mulai sejajar dengan para pengacara-pengacara besar yang sudah ada. Menurut Tommy untuk keluar dari kemiskinan, kita harus melakukan suatu terobosan dalam hidup. Dan terobosan itu hanya kita bisa lakukan bersama Tuhan Yesus. Tommy Sihotang sudah berhasil melewati semua lingkaran kemiskinan yang membelenggunya dan keluarganya. Ia keluar menjadi pemenang. Dan semua itu berkat Tuhan Yesus yang sudah sangat baik dalam hidupnya. “Ingat selalu, lihat dan kecaplah betapa baiknya Tuhan itu” ujar Tommy menutup kesaksiannya. TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu... [ Sumber: Tommy Sihotang ]
~ KESAKSIAN MERRY RIANA: "MERAIH MIMPI SATU JUTA DOLAR" ~ Merry Riana adalah seorang wanita yang telah mewujudkan mimpi besarnya. Dalam usia yang belum genap 30 tahun, ia sudah menjadi milyader. Namun, seperti orang-orang yang telah mengecap kesuksesan dalam hal finansial, Merry Riana juga mengalami banyak rintangan saat meraih mimpinya tersebut. Dan berikut wawancara dengan Merry Riana seputar bagian dari kehidupannya ini. Anda waktu itu mempunyai mimpi apa ? Ketika saya ulang tahun yang ke-20, pada saat itu saya mempunyai satu mimpi “i can be a millionaire”. Dan mimpi saya pada saat itu adalah sebelum saya berulang tahun yang ke-30, saya harus sudah bisa mempunyai kebebasan finansial. Bisa Anda ceritakan tentang awal mimpi sejuta dolar Anda? Kisah mimpi sejuta dolar saya berawal tahun 1998. Jadi pada 98 itu, saya baru saja lulus sma dan tadinya ingin melanjutkan pendidikan saya di universitas di Jakarta tapi waktu itu ada kerusuhan, kerusuhan 98 ya. Karena orangtua sangat mengkhawatirkan masa depan saya terutama masa pendidikan saya maka dari itu, saya pun diterbangkan ke Singapore untuk belajar disana. Di Singapore, saya harus melakukan banyak sekali pengiritan. Tidak jarang saya harus tidak makan dan juga puasa. Membawa bekal ke kuliah adalah cara terefektif bagi saya (untuk menghemat) dan bekalnya pun sesuatu yang sangat sederhana yakni sepotong roti tawar. Ketika semua telah sepi, saya pergi ke toilet untuk memakan bekal yang saya bawa tersebut. Ini adalah masa-masa yang menyedihkan dan lumayan mengesankan bagi saya karena pada saat itu banyak sekali perasaan yang bercampur aduk. Jadi, ada perasaan kecewa juga, marah juga ‘Kenapa sih kok Tuhan memberikan cobaan yang sangat besar untuk saya; kenapa saya harus jauh-jauh dari orang tua; kenapa saya harus pindah ke Singapore, sedangkan waktu itu keadaan di Jakarta gak tahu gimana, masih banyak kerusuhan dan sebagainya. Keadaan saya di Singapore saat itu pun juga sangat sulit. Namun, di dalam iman saya, saya meyakini pasti ada maksud Tuhan atas semua yang saya alami ini. Maka dari itu, seluruh energi yang saya miliki saya salurkan untuk keluar dari keadaan yang tidak menyenangkan tersebut. Di usia yang ke-20, saya berjanji bahwa saya harus benar-benar sukses sebelum usia 30 tahun. Jadi, itulah awalnya kenapa saya mempunyai mimpi seperti itu. Lalu, bagaimana caranya Anda bisa bangkit dari segala masalah Anda ini? Saya percaya bahwa kalau saya ingin mengubah kehidupan saya, langkah pertama yang paling mudah yang bisa saya ambil adalah dengan mengubah cara pandang saya terhadap kehidupan. Saya mengubah cara pandang saya menjadi hal-hal yang lebih positif – “Pasti ada alasannya mengapa segala kondisi yang tidak menyenangkan terjadi di dalam kehidupan saya”, kemudian “Kalau saya ingin mewujudkan impian saya maka saya harus berjuang”. Mulai dari situ, saya mulai melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Pada saat itu saya mulai mencari pekerjaan tambahan, mulai dari membagi brosur, kerja di toko bunga, kerja sebagai pelayan restoran di hotel. Pada saat itu, saya tidak memikirkan gengsi atau gaya-gayaan. Bagi saya, bekerja pada saat itu sebagai usaha saya untuk bisa memberikan kehidupan yang lebih baik buat saya sendiri dan pada akhirnya bisa mewujudkan impian saya. Perlahan tapi pasti, apa yang saya lakukan khususnya dalam bidang finance dan sales membawa hasil dan saya sangat bersyukur karena itu. Pasalnya, di dalam tahun pertama saja saya sudah bisa mendapatkan pendapatan lebih dari 200.000 dolar Singapore atau di-kurs kan ke rupiah sekitar 1,5 Miliar. Setelah itu, saya mulai bisa menyewa kantor, punya sekretaris, dan mengembangkan bisnis saya sendiri sampai sekarang ini. Apa tips kesuksesan dari Anda? Tips pertama adalah visi. Jadi kita harus punya visi, kita harus tahu kemana kita akan pergi, kita harus bermimpi. Yang kedua, adalah tindakan – kita juga harus berani ambil tindakan, jangan pernah takut gagal. Dan yang ketiga adalah hasrat. Jadi kita harus menyukai pekerjaan kita dan juga melakukan apa yang kita sukai. Seberapa penting kekuatan iman dalam kehidupan Anda? Kekuatan iman adalah sangat penting dalam hidup saya terutama ketika saat saya jauh dari orangtua. Karena saya punya kekuatan iman, saya percaya bahwa saya berada di dalam lindungan Tuhan dan itu memberikan suatu harapan pada saya bahwa apa yang saya alami selama ini pasti ada maksud Tuhan yang indah. Saya ingat pesan mama yang bilang, “Serahkanlah semuanya ke tangan Tuhan dan biarlah Dia yang akan membimbingmu, langkah demi langkah. Tidak semua langkah sekaligus, tapi langkah demi langkah dan setiap langkah itu adalah mukjizat. Saat ini, mimpi satu juta dolar Anda telah terwujud, apa yang akan Anda lakukan selanjutnya? Saya percaya bahwa kesuksesan seseorang dinilai dari seberapa besar dampak positif yang dia beri kepada orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, pada saat saya berusia 30 tahun, saya juga punya mimpi baru. Saya ingin bisa memberikan dampak yang positif kepada 1 juta orang terutama di Asia dan di Indonesia. Itulah mimpi satu juta dolar saya sekarang. Sampai dengan hari ini saya sangat bersyukur karena melalui seminar saya, melalui buku-buku saya, saya sudah memberikan dampak positif kepada ratusan ribu orang. Saya tidak hanya mau berhenti disitu saja. Mimpi terbesar saya adalah suatu saat nanti kalau saya bisa memberikan dampak positif lewat program televisi saya sendiri karena saya melihat pengaruh yang paling besar bagi masyarakat adalah pertelevisian. Semoga lewat karya-karya saya yang selanjutnya, saya bisa memberikan dampak positif kepada lebih banyak orang. Kata-kata terakhir kepada orang yang menyaksikan maupun membaca kesaksian Anda saat ini ? Kalau saya saja bisa, saya yakin dengan doa dan juga dengan usaha, Anda pun bisa mewujudkan mimpi sejuta dolar Anda. TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu... [ Sumber: Merry Riana ]
~ KESAKSIAN MARNI: "PEMBANTU YANG JADI MOTIVATOR SUKSES" ~ Wanita ini hanyalah seorang pembantu rumah tangga, namun melalui kehidupannya, dia bisa memberkati orang-orang terpelajar. “Nama saya Marni, saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Saat ini saya memimpin sebuah komunitas yang anggotanya orang terpelajar, antara lain D3, S1, bahkan ada yang menjabat sebagai seorang manajer.” Namun Marni yang ceria dan penuh percaya diri ini, sangat jauh berbeda dengan Marni yang dulu. Dia menyimpan sebuah kenangan pahit di masa lalunya. Kemiskinan dan cacat pada matanya, membuat masa kecil yang harusnya bahagia, hilang berganti menjadi hinaan dan cercaan. “Saya waktu itu kelas 3 SD. Saat itu saya baru menyadari bahwa fisik saya ada yang kurang, tidak sempurna. Mata kanan saya tidak bisa melihat, hanya yang kiri saja yang bisa melihat. Waktu itu teman-teman sering mengejek saya ‘Marni, matanya bijil (buta sebelah – red)..’ kata-kata itu yang membuat saya sakit hati. Membuat saya sangat sedih. Saya merasa Tuhan tidak adil.” Marni tidak dilahirkan dalam keadaan cacat, namun karena sebuah kejadian sepele, seluruh kehidupannya berubah. “Pada saat saya main, mata saya terlempar serpihan genteng. Saya kesakitan waktu itu, dan ketika saya tutup dengan tangan, ada darah di tangan saya. Dari hari ke hari, penglihatan saya semakin berkurang. Dan dalam waktu beberapa bulan, mata kanan saya sudah tidak bisa melihat lagi. Tetapi saya tidak pernah menyadarinya, sampai teman-teman saya mulai mengejek saya di kelas 3 SD waktu itu.” Hati yang terhujam dengan kekecewaan membuat Marni kehilangan jati diri, dia bertumbuh menjadi remaja yang minder dan sangat rendah diri. “Ketika saya bertumbuh dewasa, saya mulai merasa minder, pemalu, penakut dan menjadi pribadi yang pendiam. Susah untuk tertawa, bahkan untuk senyum. Untuk bicara di depan dua orang saja saya gemetar, karena saya merasa fisik saya tidak sempurna.” Didalam ketidak sempurnaan dan keluguannya, Marni pun ingin mengubah nasibnya di Jakarta. “Waktu itu ada saudara saya yang menawarkan pada saya pekerjaan di Jakarta. Saya bertanya, ‘kerjaan apa?’ dia jawab ‘pokoknya gampanglah nanti. Ikut aku aja.’ Di dalam hati saya ada kerinduan untuk mau pergi ke Jakarta. Pada hal belum jelas pekerjaan yang di tawarkan itu apa. Waktu itu saya masih menjahit di rumah, bahkan masih ada jahitan yang harus saya selesaikan. Lalu saya memberanikan diri untuk meminta ijin kepada orangtua saya. Kalau bapak saya sih mengijinkan, karena semua itu di kembalikan ke diri saya lagi. ‘Kamu sudah besar, kamu sudah bisa memilih apa yang baik untuk diri kamu,’ demikian kata bapak.” Namun apa yang terjadi ketika Marni sampai di Jakarta, bukanlah yang dia harapkan. Sampai akhirnya Marni bertemu dengan seorang ibu yang mengajaknya bekerja di sebuah rumah tangga. Inilah rumah keluarga Agus Sugianto, tempat dimana Marni mengalami titik balik kehidupannya. “Kami melihat penampilannya memprihatinkan sekali. Prihatin disini maksudnya kusut, dan banyak hal dalam kondisi fisiknya tidak dirawat, dan tidak di urus. Selain itu juga pembawaannya sangat pemalu sekali, bahkan cenderung menutup diri. Bahkan ketika bicara dengan orang, dia tidak berani menatap mata,” demikian cerita bapak Agus, majikan Marni. “Saya melihat Marni adalah seorang pribadi yang sangat sensitif. Lalu saya memberanikan diri untuk menanyakan pada Marni, apa yang terjadi dengan matanya. Dan memang, waktu itu Marni menceritakan masa kecilnya dengan menangis,” demikian tutur ibu Mala, istri bapak Agus. “Kami menempatkan dia sebagai anak kami, dan kami sebagai orang tuanya. Jadi kami melakukan suatu pendekatan, bicara dari hati ke hati. Gimana sih sebenarnya perasaannya dia, kekecewaanya dia,” demikian bapak Agus memperlakukan Marni. “Kami membimbing dia untuk melepaskan semua kekecewaan yang ada dalam dirinya, tentang keberadaan dirinya. Atau juga penyesalan mengapa semua itu terjadi. Jadi akhirnya waktu itu kami bawa semuanya itu kepada Tuhan, sehingga dia bisa menerima semuanya ini, dan tidak menjadi sebuah penyesalan yang berkelanjutan. Tetapi mempercayai bahwa apapun keberadaan dia, ada sebuah rencana Tuhan bagi dirinya,” Ibu Mala menceritakan bagaimana dirinya dan suami membimbing Marni. “Waktu itu bapak Agus dan bu Mala mengajarkan saya untuk membaca firman, mengajak untuk berdoa, dan berdoa bersama. Dan sewaktu saya pertama kali membaca Alkitab, saya membaca ‘Oleh karena kamu berharga dimataKu, dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’ Sewaktu firman itu saya baca, hati saya merasa tersentuh. Saya mengganti kata kamu dengan nama saya pada ayat itu. ‘Oleh karena Marni berharga di mata Tuhan, dan mulia, dan Tuhan mengasi Marni.’ Saya akhirnya menerima diri saya apa adanya. Walaupun diri saya dalam kekurangan, dan diri saya cacat, tetapi saya menerima diri saya.” Apa yang menjadi kekurangan dalam diri Marni, kini menjadi sebuah kelebihan. Memimpin dan membina sebuah komunitas, kini menjadi kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh Marni. Inilah cerita dari sahabat-sahabat Marni yang diberkati oleh kehidupannya: “Mbak Marni itu sudah seperti ibu bagi saya, karena dia ikhlas menolong saya. Bahkan selalu memberikan perhatian yang lebih kepada saya,” ungkap Samuel. Lain lagi dengan cerita Grace, “Dia selalu memberikan nasihat-nasihat yang positif buat saya. Selalu menguatkan saya pada saat saya mengalami masalah yang berat. Dan juga memberikan dukungan doa pada waktu saya meminta seorang anak pada Tuhan, hingga saya boleh mempunyai seorang anak saat ini.” “Saya tidak melihat latar belakang pendidikan Mbak Marni, tetapi beliau bisa menjadi teladan buat hidup saya. Karena tidak semua orang yang berpendidikan tinggi itu dapat memberikan teladan,” demikian cerita Hendra Gunawan S, S.H. “Walaupun saya seorang manajer, tapi saya tidak melihat Mbak Marni sebagai pembantu rumah tangga. Yang saya lihat dari dirinya adalah kerendahan hatinya, dia orang yang bisa memimpin. Dan dia memberikan dampak buat orang lain, serta saya melihat hasilnya.” David Mandoringin, sahabat Marni. Inilah rahasia perubahan hidup Marni. “Jadi saya berharga bukan karena apa kata orang, tetapi saya berharga karena apa kata Tuhan. Ketika saya sekarang sudah kenal Tuhan, saya percaya sama Tuhan, dan saya diubahkan. Saya melihat bahwa Tuhan bisa memakai orang yang tidak sempurna. Orang cacatpun bisa dipakai oleh Tuhan. Yang terpenting, ada kerinduan, ada kemauan dan hatinya mau dipakai oleh Tuhan.” TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu... [ Sumber: Marni ]
~ KESAKSIAN HANS WANAGHI: "BINTANG FILM LAGA YANG TERPURUK KARENA JUDI" ~ Kecintaannya pada ilmu bela diri mengantarkan Hans Wanaghi masuk kedunia film laga. Hal ini awalnya hanyalah sebuah mimpi baginya yang hanyalah anak dari daerah dan keluarga sederhana. “Dari nonton-nonton film ini (film laga), timbul keinginan, ‘Saya kan punya kemampuan bela diri, kenapa ngga sekalian aja jadi pemainnya.’ Tapi hanya sebatas impian, karena saya merasa saya di daerah.” Impian itu terus bertumbuh di hati Hans, hingga suatu hari sebuah kejadian membuat masa depannya seakan telah hancur. “Papa saya meninggal, perekonomian keluarga kami hancur. Disitu timbul tekad, suatu hari nanti saya harus merubah keadaan perekonomian keluarga.” Hans yang akhirnya melanjutkan SMA-nya di Jakarta semakin memperkuat tekadnya untuk menjadi populer dan sukses. Apa lagi ketika ia menyaksikan beberapa teman sekolahnya yang berhasil menjadi artis, impiannya mulai menyala kembali. Suatu hari pintu kesempatan terbuka baginya, ia pun menyambarnya. “Pada saat itu pemilihan “Abang None Jakarta,” saya coba ikuti. Kebetulan saya mendapat predikat sebagai salah satu abang Jakarta di tahun 83. Disitu, ada salah satu none yang sudah sering ikut drama-drama di televisi. Saya diajak dan di casting lalu diterima. Karena saya baru, jadi dikasih peran figuran untuk coba dulu. Disitulah awal karir saya hingga ke layar lebar.” Jalan menjadi seorang bintang sudah terbuka lebar di depan Hans. Tidak hanya ketenaran, uang pun mengalir dengan deras ke kantongnya. Namun hal tersebut membuatnya lupa diri dan jatuh dalam dunia seks bebas. “Saat saya ditawarkan menjadi pemeran utama di sebuah film kolosal, disitulah saya baru merasa inilah dunia saya. Saya semakin populer dan terlena. Saya lagi istirahat shooting, tiba-tiba ada yang mengetok pintu. Pada saat itulah terjadi hubungan suami istri.” Bergonta-ganti wanita adalah hal biasa bagi Hans, bahkan dirinya sama sekali tidak merasakan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang salah. Hati Hans semakin melambung saat ia sudah berhasil mendirikan rumah produksi sendiri dan bisa membeli mobil dan rumah mewah. Namun harta telah membutakan mata hatinya, Hans malah terperosok dalam perjudian. “Dipuncak kesuksesan saya itu, disitu tidak membuat saya bersyukur. Malah saya jatuh dalam perjudian. Memang awalnya membuahkan hasil, sepertinya gampang sekali. Selama masih ada uang ditangan, saya akan terus pergunakan untuk judi.” Namun malang tak dapat ditolak, kekalahan membuat Hans kehilangan semua hartanya. “Saya mengalami putus asa, saya sempat stag. Pada saat itu saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah menyia-nyiakan apa yang saya miliki.” Hans mencoba bangkit, ia mulai melamar pekerjaan ke berbagai tempat namun hal itu bukanlah sesuatu yang mudah. Penolakan demi penolakan ia terima. Hans akhirnya memulai usaha air minum gallon. “Saya dulu direktur, namun kini saya angkat-angkat gallon sendiri. Saat itu sebenarnya hati kecil saya menangis.” Sepertinya Tuhan tidak ingin membiarkan Hans terus meratapi nasibnya. Seorang teman datang dan mengajaknya untuk mengikuti sebuah camp khusus pria. “Sesi demi sesi saya ikuti, hingga pada malam harinya ketika pembicara mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dalam hidup ini bukanlah milik kita, semua titipan dari Tuhan. Disitu hati saya mulai tersentuh, saya merasa kalau saya sendiri adalah milik Tuhan, masakah saya menyia-nyiakan hidup saya. Disitu saya merasa kelegaan, saya merasa Tuhan Yesus begitu baik. Saya yang tidak bisa bertanggung jawab terhadap berkat yang Tuhan berikan, tapi Tuhan tetap mengasihi saya. Masih mau menyadarkan saya, masih mau menerima saya kembali.” Sejak saat itu, Hans mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa-dosanya dan bersungguh-sungguh hidup untuk Tuhan. “Saya baru menyadari bahwa saya ini bukan apa-apa. Popularitas dan materi yang pernah saya miliki ternyata tidak bisa membantu saya, tidak bisa mengangkat saya kembali. Hal itu membuat ambisi saya untuk kembali ke profesi saya yang dulu hilang. Jika saya bandingkan, saya kini jauh merasakan ketenangan. Kedamaian yang saya rasakan yang berasal dari Tuhan Yesus.” TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu... [ Sumber: Hans Wanaghi ]