Senin, 28 November 2011

Tanu Wijaya, Kecanduan Seks & Pornografi

Video Kisah Nyata – Pertobatan dari Kecanduan Seks dan Pornografi
Tanu Widjaya, kecanduannya pada seks membuat ia terikat pada dosa pornografi selama bertahun semenjak ia kecil hingga dewasa.
“Pertama kali saya melihat hal-hal yang sifatnya erotis, pada waktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Oleh beberapa teman, saya diajak melihat wanita yang sedang mandi dari atas atap,” ujar Tanu kepada Tim Solusi.
Berawal dasi situlah rasa penasaran Tanu terhadap pornografi semakin menjadi-jadi. Dan itu dilakukannya bersama-sama teman sepergaulannya.
Dari pergaulan dengan teman-temannya semasa sekolah dasar, ia mulai mengenal buku-buku yang berbau pornografi, dan dari mereka juga ia mengetahui cara berhubungan dengan hewan seperti ayam.
Di lain waktu tanpa sengaja, Tanu melihat Ayahnya sedang nonton film porno di kamar. Mulai dari situ Tanu mengetahui bahwa Ayahnya ternyata memiliki banyak koleksi film porno dan gambar-gambar erotis.
“Kalau ayah saya pergi dan rumah kosong, maka kesempatan itu saya gunakan untuk nonton film porno, karena saya sudah tahu di mana biasanya Ayah saya menyimpan filmnya,” ujarnya lagi.
Biasanya setelah menyaksikan film porno Tanu langsung onani, dan hal itu bisa dilakukannya sampai 7 kali dalam sehari. Tanu semakin terikat dengan pornografi dan seks, bahkan berlanjut sampai ia dewasa.
Pada suatu hari, orang tua Tanu memberikan beberapa foto masa kecilnya dimana dalam foto tersebut Tanu mengenakan baju wanita. Dan ketika Tanu menanyakan kepada Ibunya kenapa ia dipakaikan pakaian wanita, ibunya hanya menjawab bahwa ia memang cocok dengan pakaian wanita dan seharusnya Tanu menjadi seorang wanita bukan pria. Apa yang dikatakan oleh orang tuanya tertanam dalam diri Tanu, hingga ia berperilaku layaknya seorang wanita.
“Sifat saya cenderung ke arah wanita, dan saya pernah mencoba menjadi seorang wanita dengan tampilan yang benar-benar wanita. Akan tetapi saya bukan gay atau homo, karena saya masih tetap menyukai wanita. Dan saya juga pernah belajar bagaimana caranya berhubungan dengan sesama jenis, dimana saya melakukan percobaannya kepada adik saya ketika ia tertidur,” ujar Tanu dengan wajah penuh penyesalan.
Kecanduannya terhadap pornografi terus berlanjut sampai ia menikah pada tahun 2002.
“Awal pernikahan kami berjalan dengan baik dan bahagia. Tetapi memasuki bulan kedua istri saya hamil dan semenjak itulah saya meresa kesepian lagi dan mulai beralih kepada wanita lain,” ungkap Tanu.
Walaupun Tanu sudah menikah, ia semakin terpuruk dengan keterikatannya terhadap pornografi sehingga akhirnya dosa perselingkuhan dan pengkhianatanpun dilakukannya.
Menurut Naomi, istri Tanu, suaminya sering mengantar jemput wanita selingkuhannya dan Naomi pun dapat merasakannya melalui naluri seorang istri. Dan ternyata hal itu memang benar. Akan tetapi Tanu selalu berkata bahwa hal itu biasa dan wajar saja.
Perselingkuhan yang di jalani Tanu akhirnya berujung pada satu resiko yang harus ditanggungnya. Selingkuhan Tanu datang kepadanya dan berkata bahwa ia sudah terlambat datang bulan. Mendengar pengakuan itu, Tanu menjadi stres dan terus dilanda kecemasan.
Justru dari sinilah awal teguran Tuhan kepada dirinya. Pikirannya menjadi kalut dan ia pulang ke rumah dengan wajah yang tegang karena merasa tidak tahu harus berbuat apa lagi, ditambah lagi dengan perasaan bersalah ketika ia berhadapan dengan istrinya sendiri.
Malam berikutnya Tanu tidak bisa tidur, ia sudah putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Akan tetapi ia teringat akan Tuhan. Dalam doanya, sambil menangis Tanu berkata, “Tuhan, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Pertama saya sudah berdosa terhadap Engkau dan yang kedua kalau wanita selingkuhan saya ini hamil, saya tidak tahu harus berbuat apa.”
Kembali Tanu memohon kepada Tuhan, katanya, “Tuhan, saya minta satu mujizat saja. Kalau wanita itu tidak hamil, saya akan benar-benar bertobat dan akan meninggalkan wanita tersebut. Saya akan kembali kepada istri saya dan memulai hidup yang baru. Dan saya akan meninggalkan semua dosa-dosa saya yang lama termasuk pornografi.”
Akhirnya doa Tanu dijawab oleh Tuhan, namun masalahnya tidak selesai begitu saja. Tanu harus mengalami resiko penolakan dari istrinya.
“Waktu saya mengakui perbuatan saya, saya pikir istri saya akan mengampuni saya, ternyata tidak sama sekali, istri saya sulit untuk mengampuni saya,” ujar Tanu.
Akhirnya setelah 2 tahun berlalu barulah Naomi benar-benar mengampuni Tanu. Menurut Naomi, itu semua sebuah proses dimana ia harus menerima Tanu apa adanya. Kasih mula-mula ia munculkan kembali dan dari situ Naomi mulai belajar mengampuni Tanu.
Diawali dengan pertobatan yang sungguh-sungguh, sejalan dengan waktu, perlahan tapi pasti, Tuhan pun memulihkan kehidupan keluarga Tanu Widjaya.
“Saya bersyukur kalau saya bisa bebas dari dosa pornografi yang telah mengikat saya dari kecil sampai saya menikah. Dan saya melihat segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya itu bukan kebetulan, tetapi itu semua karena Tuhan,” ujar Tanu menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan pada 29 Oktober 2008 dalam acara Solusi Life di O’Channel)
Nara sumber :
Tanu Widjaya

Terkena Typhus Karena Jajan Sembarangan

Sumber Kesaksian: Pati Ginting
Karena kebiasaannya jajan sembarangan seorang pemuda yang bernama Pati Ginting harus berurusan dengan ruang operasi. Pasalnya ia sering jajan makanan sembarangan tanpa memperhitungkan kebersihan tempat dan makanan yang dijajakan itu sendiri. Hal tersebut membuat ia menderita Tipus, yang pada awalnya ia merasakan sakit perut yang luar biasa dan rasa sakit itu semakin luar biasa.
Akhirnya keadaan itu diketahui abangnya, kemudian ia dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit dokter memvonisnya untuk dioperasi karena ia mengalami komplikasi pada bagian usus, yang menyebabkan pendarahan setiap kali buang air besar. Seluruh sprei sudah penuh dengan darahnya, sementara itu dua orang perawat sedang menyiapkan tempat tidur baru untuk memindahkannya keruang operasi…..tiba-tiba terdengar ketukan pintu, seorang pendeta masuk dengan langkah yang pasti dan segera minta ijin untuk mendoakan Pati.
Kedua perawat mempersilahkan dan meninggalkan keduanya di dalam kamar. Si pendeta mengajak Pati untuk berdoa dan saat itu Pati mengimani kesembuhan dari Tuhan pasti terjadi. Setelah berdoa si pendeta berkata “Pati engkau sudah sembuh!”
Setelah si Pendeta meninggalkannya Pati tertidur, tak lama kemudian dokter yang hendak mengoperasi masuk ke ruangan itu. Karena melihat Pati tertidur ia menugaskan perawat untuk membangunkan Pati satu jam lagi. Setelah satu jam kemudian seorang perawat mulai mengadakan pemeriksaan rutin pada tubuh Pati. Ada hasil pemeriksaan yang aneh menurut perawat, akhirnya dokterpun dipanggil untuk memeriksa Pati kembali. Ternyata benar keanehan yang dilihat perawat tersebut adalah kenyataan yang sebenarnya…Pati sudah sembuh total setelah bangun dari tidurnya, Tuhan menyembuhkannya.
Mukjizat adalah sesuatu yang nyata sampai saat ini untuk orang yang berharap pada Tuhan. Pati mengakui bahwa ada sedikit keraguan saat diberitahu bahwa Tuhan dapat menyembuhkannya. Ia Yakin Tuhan sanggup namun ia tidak yakin kalau Tuhan mau menyembuhkannya. Yang ia lakukan hanya berharap dan berserah dan akhirnya terjadi sesuatu………ia sembuh total.

Mayasari, Masih Ada Kasih Di Hati

Mayasari lahir dan di besarkan di lingkungan seniman. Ibunya adalah seorang penyanyi. Beranjak dewasa ia sebenarnya ingin seperti remaja lainnya yang mendapat kasih sayang dari orang tuanya, namun sebaliknya kasih sayang itu hanya sebuah mimpi bagi Mayasari.
Ketika berusia 19 tahun, hidupnya mulai berantakan walaupun Mayasari sukses menjadi seorang penyanyi. Dari satu panggung ke panggung lain, uang pun dapat ia peroleh dengan mudah. Apapun yang ia inginkan pasti akan terpenuhi.
Kasih sayang yang selama ini ia cari ia dapatkan dari para tamu yang sering mengajaknya kencan. Pergaulan bebas menjadi jalan hidupnya.
“Aku merasa nyaman kalau aku berhubungan dengan orang yang lebih dewasa. Aku butuh kasih sayang, apapun akan kukorbankan, asalkan orang itu sayang sama aku,” ujar Mayasari kepada Tim Solusi.
Dari hubungan bebasnya itu akhirnya Mayasari hamil, tetapi ia memutuskan untuk melakukan aborsi. Saat berbaring di tempat tidur setelah melakukan aborsi, Mayasari teringat akan masa lalulnya ketika ia masih kecil. Sebuah kenangan pahit yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Dalam kenangannya tergambar sebuah pertengkaran hebat antara ibu dan ayahnya. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sang ayah menampar wajah ibunya.
Saat itu juga ia menjadi rebutan antara kedua orang tuanya. Ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit untuk ukuran seorang anak kecil. Ia diharuskan untuk memilih, ikut ibu atau ikut ayah… Karena ia melihat ayahnya yang menampar ibunya, maka ia memilih untuk ikut bersama sang ibu.
Ternyata pilihannya salah. Beberapa waktu kemudian sang ibu tidak lagi memperhatikan kehidupannya, bahkan ia ditelantarkan dan dititipkan kepada saudaranya. Sejak itulah Mayasari benci sekali kepada ibunya.
Berkali-kali Mayasari mencoba bunuh diri karena kekecewaan yang mendalam akan keluarganya, tetapi selalu saja ia diselamatkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. “Aku benci sekali dengan hidupku, aku ingin mati saja,” ujar Mayasari sambil menangis.
Setelah melakukan aborsi, Mayasari kembali menjalani hidupnya dengan penuh ketidakpastian dan kebimbangan. Kembali ia tengelam dalam nikmatnya shabu-shabu. Sampai pada suatu titik ia benar-benar sudah bosan dengan shabu-shabu karena ia tidak bisa menemukan jalan keluar yang baik bagi hidupnya. Pada suatu malam ia tengah menyaksikan sebuah acara rohani di televisi.
“Dalam acara itu dikatakan ada seseorang pada malam ini sedang mengalami kepahitan yang mendalam kepada orang tuanya,” ujar Mayasari. Dan dengan yakin ia percaya pasti orang itu adalah dirinya. Pada saat itu juga tangis Mayasari pun pecah, apalagi pada acara tersebut ada ucapan yang berbunyi, ’Anak-Ku, Aku tidak akan meninggalkanmu menjadi yatim piatu’. Setelah menyaksikan acara tersebut, Mayasari kemudian berdoa kepada Tuhan dan ia juga mengambil langkah iman untuk mengakhiri semua jalan hidupnya yang kelam. Dan ia pun berjanji di hadapan Tuhan untuk bertobat.
Akhirnya Mayasari benar-benar meninggalkan semua kehidupan liarnya dan kembali ke jalan yang benar. Kerinduan terbesar dalam hidup Mayasari adalah memulihkan hubungannya dengan orang tuanya. Beberapa waktu kemudian terjadi pemulihan antara Mayasari dengan ibunya. Mereka saling memafkan dan saling mengampuni. Dan saat ini yang paling Mayasari rindukan adalah bertemu dengan papanya yang sudah meninggalkannya selama 30 tahun.
“Aku menemukan kasih yang sejati, yaitu kasih Tuhan, dan ini yang membuat aku merasa hidup kembali sekarang ini,” ujar Mayasari menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan pada 27 Oktober 2008 dalam acara Solusi Life di O’Channel)
Sumber kesaksian :
Mayasari

Impian yang Sirna Akibat Sebuah Tabrakan Maut

Video Kisah Nyata & Kesaksian
“Saya merasa menjadi anak yang spesial pada waktu kecil. Saya bisa melakukan segala hal yang ada di sekolah dan juga menjadi harapan keluarga,” ujar Bambang kepada Tim Solusi.
Bambang memiliki keluarga yang sangat sederhana dan sangat mengasihinya. Ia menjadi harapan keluarga. Pada waktu kecil Bambang sering diajak naik motor oleh Ayahnya. Selama perjalanan Ayahnya selalu bilang bahwa ia harus menjadi orang yang berhasil.
Kata-kata itu yang selalu dingat oleh Bambang dan ia selalu berusaha membahagiakan ayahnya. Demi masa depan yang lebih baik, keluarganya rela memberikan yang terbaik bagi Bambang.
Menurut Franky Darmawan, kakak kandung Bambang, karena orang tua mereka terbentur biaya, maka sebagai kakak-kakaknya Bambang mereka mengalah. Mereka berharap biarlah Bambang yang sukses menjadi sarjana, mereka sudah rela.
Masa depan yang penuh kepastian siap menanti untuk digapai oleh Bambang. Namun sebuah peristiwa tragis terjadi dan mengubah sejarah hidupnya.
Suatu siang bersama teman-teman kuliahnya, Bambang hendak pergi ke suatu tempat menggunakan sebuah mobil. Di tengah perjalanan ternyata rem mobil tidak berfungsi sama sekali dan sebuah tabrakan maut pun terjadi.
Ketika sadar dari pingsannya, Bambang menemukan dirinya terbaring di tengah jalan dan kap mobil menindih sebagian kakinya. Setelah kap mobil itu diangkat, sebagian kaki Bambang dipenuhi darah, pasir dan kaca. Bambang pun kemudian dilarikan ke rumah sakit dan kakinya langsung dioperasi saat itu juga.
Saat Bambang tersadar setelah menjalani operasi, hati Bambang menjerit dengan keras saat menyaksikan kaki kirinya dalam keadaan meyedihkan. Rasa sakit yang dirasakannya pun sungguh tak tertahankan. Selama Bambang dirawat di rumah sakit, kedua orang tuanya dengan setia menemani Bambang.
“Dunia ini terasa gelap, karena harapan kami hanya kepada Bambang. Kami sungguh berharap dia akan menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sarjana,” ujar Lili Widjaja, ibunda Bambang, sambil menangis.
Selama berada di rumah sakit, perasaan kecewa mulai menyelinap ke dalam hatinya. Bambang kecewa kepada Tuhan dan ia tidak dapat menerima musibah yang telah dialaminya. Ia selalu mempertanyakan Tuhan, kenapa bukan teman-temannya yang mengalami hal seperti ini.
Hari demi hari, perasaan kecewa yang dirasakan Bambang terhadap Tuhan semakin mendalam. Namun Bambang sadar, seringkali Roh Kudus berbicara di dalam hatinya.
“Ketika saya sedang sedih di rumah sakit, saya mendengar satu suara yang berbunyi, ‘Bambang, sekalipun manusia meninggalkan kamu, Aku tidak akan meninggalkan engkau’,” ujar Bambang.
Hati Bambang mulai diliputi kebingungan. Yang ia ingin agar Tuhan atas dirinya adalah secepatnya keluar dari rumah sakit dalam keadaan sembuh. Namun impiannya itu tidak juga terwujud. Apalagi sampai pada akhirnya saat dokter mengijinkannya pulang, ia divonis akan menjadi cacat seumur hidup.
Kecelakan itu menghancurkan seluruh mimpi dan harapan keluarganya. Bambang pulang dari rumah sakit dengan hati yang hancur dan pedih. Ia merasa telah gagal mewujudkan harapan keluarganya.
Hati Bambang semakin hancur setelah mendengar apa yang dikatakan oleh teman-temannya. Mereka mengatakan bahwa Bambang telah melakukan suatu dosa makanya ia dihukum Tuhan dan menjadi orang cacat. Namun Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkan Bambang seorang diri.
“Saya berharga di mata Tuhan. Itulah yang membuat saya bersemangat. Perlahan tapi pasti, saya mulai bangkit. Kuliahpun dapat saya selesaikan dan menjadi lulusan yang terbaik. Semua karena kasih anugerah Tuhan semata,” ujar Bambang.
Saat ini Bambang telah menjadi pemilik dari “Family Discovery”, sebuah pelayanan konseling keluarga yang memulihkan begitu banyak keluarga yang berada di ambang kehancuran. Hidupnya begitu diberkati Tuhan. Dan secara luar biasa Tuhan memakai hidup Bambang untuk memberkati orang lain. Pelayanan keluar negeri acap kali telah dilakoninya. Dan penyertaan Tuhan Yesus atas hidup Bambang sungguh nyata. Janji Tuhan yang dinyatakannya secara pribadi saat Bambang berada dalam titik nadir terendah dalam hidupnya telah digenapi dengan indah. (Kisah ini sudah ditayangkan pada 15 Oktober 2008 dalam acara Solusi Life di O’Channel)
Nara sumber :
Bambang Syumanjaya

Mujizat Terjadi Setelah Di Vonis Lumpuh & Meninggal

Aku tak pernah mengira bahwa satu waktu dalam hidupku aku akan menjadi orang yang tidak berguna. Pada saat usia kehamilanku mencapai 2 bulan, aku mengalami pendarahan. Sejak kejadian itu, dokter menyatakan bahwa aku mengalami sakit yang aneh. Seluruh badanku memang terasa sakit dan menurut analisa dokter, aku mengalami infeksi kandungan karena waktu dikuret tidak bersih. Obat demi obat sudah aku minum tetapi aku tidak kunjung sembuh. Aku mencoba mendapatkan diagnosa dari berbagai dokter. Namun tidak ada kepastian mengenai penyakit yang aku derita.
Satu kali, aku ingin membuatkan anakku Indomie rebus. Jadi, aku tuang air panas dari termos ke atas mangkok berisi Indomie, yang aku taruh di atas pangkuanku. Saat air panas dituang, mangkok sedikit goyang dan mengenai pahaku. Aku pun bergerak refleks tetapi air panas itu malah tumpah semua dan mangkok pun jatuh ke lantai. Karena peristiwa itu, aku merasa kesakitan dan shock. Sebagai seorang mama, aku merasa tidak berguna karena untuk menyiapkan Indomie rebus buat anakku saja, aku tidak mampu. Jadi, untuk apalagi aku hidup?
Beberapa waktu kemudian, seorang temanku merekomendasikan nama seorang dokter spesialis tulang yang sangat terkenal dan dengan berbekal informasi ini, aku memberanikan diri sekali lagi pergi ke dokter. Aku berharap aku bisa bebas dari penderitaan yang sudah berjalan selama 2 tahun ini. Namun sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan justru aku terima. “Kedua tulang pinggul Ibu Lily sudah rusak dan hancur. Ibu mengalami osteoporosis dan tulang sendi yang berbentuk bulat pun sudah tidak ada bantalannya lagi karena remuk”, kata dokter spesialis itu kepadaku dan suamiku.
Dokter menyarankan, agar tulang panggulku segera dipotong dan diganti dengan tulang dari bahan titanium. Untuk itu, aku harus menjalani operasi yang menelan biaya hampir Rp. 200 juta! Masih menurut dokter, pasca operasi, si pasien kemungkinan besar akan lumpuh total dan bahkan pada akhirnya meninggal muda. Dokter lalu melanjutkan penjelasannya: “Kalau untuk penyembuhan seperti ini sangat sulit. Bahkan pengobatan yang bertahun-tahun pun belum tentu membawa kesembuhan bagi si pasien. Apalagi, si pasien harus diberikan suntikan yang berkali-kali. Menurut prediksi saya, sudah paling top bila Ibu Lily bisa mencapai umur 38 tahun”.
Penuturan dokter membuatku seakan-akan tahu hari kematianku dan aku tidak punya harapan lagi untuk bisa hidup. Hanya di dalam doa, aku bisa berseru kepada Tuhan: “Aku akan meninggalkan anak-anakku. Namun kenapa Engkau, Tuhan mau mengambilku yang masih harus mendidik dan membesarkan anak-anaku? Aku ingin hidup lebih lama karena tugasku di dunia belum selesai…” Walaupun aku tahu bahwa aku bakalan lumpuh dari mulai pinggul dan merembet hingga ke tulang belakang, aku tetap masih menyimpan harapan kepada Tuhan.
Atas permintaanku, suamiku membelikan aku sebuah lukisan Yesus dan menempelkannya pada dinding kamar kami. Lukisan itu mengingatkan aku akan kebaikan Tuhan dalam hidupku dan aku teringat kembali akan firman Tuhan yang sudah pernah aku dengar bahwa Tuhan sanggup menyembuhkanku. Aku merasa bersalah selama ini karena aku tidak percaya dan aku meninggalkan Tuhan.
Sampai satu hari, seorang teman suamiku datang ke rumah dan menawari 2 tiket untuk hadir di ibadah kesembuhan di Ancol oleh hamba Tuhan dari luar negeri, yang luar biasa dan sudah ditunggu-tunggu banyak orang. Akhirnya kami ambil tiket itu dan bersama-sama pergi ke sana. Namun di sana aku malah ditaruh di kumpulan orang-orang yang memakai kursi roda. Dalam hati aku mengeluh: “Aduh, koq seperti ini, ya. Aku masih muda tapi koq udah parah banget.” Malam itu, aku tidak menerima kesembuhan dan aku pulang ke rumah dengan badan yang cape dan lemas.
Hari kedua aku tidak mau datang karena merasa kecewa dan aku merasa Tuhan tidak sayang padaku. Suami sempat bingung karena aku tidak mau pergi. Namun teman-teman kami terus berusaha membujuk. Mereka berdoa dan mengatakan bahwa masih ada peluang di hari ketiga, yaitu esok harinya. Seorang hamba Tuhan bahkan bernubuat: “Kamu harus datang karena kamu pasti disembuhkan pada hari ketiga,” katanya. Aku pun semangat lagi dan yakin bahwa hari terakhir adalah kesempatan terakhir bagiku.
Keesokan harinya kami pergi ke ibadah kesembuhan dan pada pukul 4 sore, seorang nenek mendekati kami dan menanyai suamiku. Suamiku kemudian menjelaskan bahwa aku adalah istrinya dan bahwa seluruh sendiku terasa ngilu dan tidak bisa digerakkan lagi. Lalu sang nenek bersimpuh di dekat kakiku dan berdoa. Dalam doanya, ia mengatakan bahwa Tuhan sanggup melakukan mukjizat dan Tuhan sanggup membangkitkan orang yang lumpuh. Doanya benar-benar membuatku yakin bahwa Tuhan sanggup sembuhkan aku dan pada saat itu di pikiranku sama sekali tidak ada keraguan. Seperti orang normal yang diperintahkan untuk berdiri, aku lalu mencoba berdiri dan aku bisa berdiri tanpa rasa sakit!
Lalu si nenek menantang aku untuk terus berjalan dan berjalan. Puji Tuhan! Setiap langkah aku berkata: “Puji Tuhan. Tuhan luar biasa, Tuhan dahsyat!” Aku benar-benar merasakan Tuhan itu ada dan Tuhan itu ajaib. Ketika aku pergi ke dokter, ia merasa kagum dan kaget melihat aku bisa sembuh. “Saya turut berbahagia dan saya yakin semua berkat Tuhan Yesus,” ujar dokter yang memeriksaku. Suamiku pun merasakan sukacita yang aku rasakan: “Sebagai seorang suami melihat pendamping hidup saya sudah sembuh, saya senang sekali. Kehidupan saya sebagai suami jadi normal kembali. Apalagi, Tuhan mengizinkan istri saya bisa bekerja kembali dan keluarga juga bisa diberkati”.
Bagiku, kebaikan Tuhan itu luar biasa. Kalau dulu aku berharap kepada manusia tetapi ternyata aku salah. Ternyata cuma Tuhan Yesus yang bisa sembuhkan kita dan memberikan mukjizat yang luar biasa. Dan bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang bisa melakukan perkara yang luar biasa! (Kisah ini sudah ditayangkan 14 Juli  2008 dalam acara Solusi di SCTV)
Sumber kesaksian:
Lily Sugiarto

Nyaris Di Jemput Ajal

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pada tanggal 15 Februari 2007, Jorwil sedang mengendarai sepeda motornya. Waktu itu pukul 3 sore dan ia pulang kerja melewati jalan Cibadak. Namun mendekati perempatan, ia merasa agak kurang nyaman. Perempatan yang akan ia lalui tampaknya rawan karena hanya lampu kuning saja yang menyala dan tidak ada cahaya dari arah kiri. Namun entah bagaimana, tiba-tiba dari arah kiri itulah melintas sebuah mobil. Jorwil tak melihat mobil itu datang dan ia tak sempat menghindar sehingga tabrakan pun tak terelakkan. Menurut saksi mata yang berada di tempat kejadian, Jorwil langsung ‘mental’ begitu ditabrak. Setelah itu, ia sekali lagi terlindas oleh ban mobil dan kemudian tubuh Jorwil masih terseret hingga 9 sampai 10 meter.
Ketika Ana, istri Jorwil, mendapat kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan dan tengah berada di UGD, ia mengira kecelakaan itu hanya tabrakan biasa. Namun sesampainya di rumah sakit, ia sangat terkejut. Rasa sedih, kuatir dan ngeri menjadi satu karena melihat kondisi sang suami yang ternyata sangat parah: kaki terlindas dan tempurung sebelah kiri lepas.
Kengerian dan keterkejutan tak hanya dirasakan Ana. Veronika, adik Jorwil, tak urung shock melihat kondisi kakaknya. “Saya punya keinginan dan doa bahwa Tuhan akan menyelamatkan keluarga kami. Tapi, mengapa caranya harus seperti ini?” protes Veronika kepada Tuhan pada waktu itu. Veronika yakin Tuhan akan menyelamatkan nyawa kakaknya tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa Tuhan akan memakai cara ‘kecelakaan maut’ untuk menuntun Jorwil kembali di dalam Tuhan. Veronika takut, AW, panggilan akrab Jorwil, merasa frustasi dan tidak kuat menghadapi kenyataan pahit yang menimpa dirinya. Apalagi menurut dokter, cidera yang diderita Jorwil cukup berat. Ia terlindas oleh ban mobil dan mengalami cidera pada tulang dada dan paru-paru yang cukup parah sehingga Jorwil harus menerima nafas bantuan dengan bantuan mesin. Tak hanya itu, Jorwil juga mengalami patah pada tulang paha, lengan atas, dan tulang selangka. Kalau saja tidak cepat ditolong dan tindakan menyadarkan pasien (resusitasi) tidak segera dilaksanakan, Jorwil dipastikan akan meninggal di tempat atau sesaat setelah tiba di UGD. Cidera paru-paru yang cukup berat, kemudian ditambah dengan cidera pada anggota-anggota gerak serta kehilangan darah yang banyak hanya memberi peluang fifty-fifty bagi Jorwil alias Jorwil bisa meninggal atau hidup.
Sementara itu, Ana yang shock merasa bahwa harapan untuk suaminya bisa bertahan hidup sudah tidak ada. Pada saat itu, perasaannya yang paling dalam pada sang suami meliputi dirinya. Di dalam hatinya yang paling dalam, Ana bisa merasakan betapa ia sangat menyayangi dan mencintai Jorwil dengan tulus, apa pun keadaannya. Namun kepada Ana dokter telah menyatakan bahwa mereka tinggal menunggu mukjizat dari Tuhan saja. Kesedihan meliputi hati Ana. Di dalam benaknya terus terbersit apakah suaminya akan normal kembali. Saat itu tidak ada yang dapat dilakukan Ana kecuali berdoa kepada Tuhan. “Setiap hari saya berdoa dan itu membuat saya merasa dekat dengan Tuhan dan saya merasa Tuhan menguatkan hati saya. Saya percaya, Tuhan Yesus pasti memberi mukjizat buat keluarga kami sehingga suami saya bisa bangun dari koma karena saya sangat percaya, Tuhan itu ada di hati saya dan mendengar doa saya,” ujar Ana berharap. Dan benar, selang 3 hari lamanya Jorwil berhasil melewati masa kritisnya. Namun akankah sang suami bisa pulih dan normal kembali?
Oleh dokter, Jorwil kemudian dioperasi di bagian kepala, tangan dan kaki selama 6 – 7 jam. Perjuangan di dalam doa untuk Jorwil masih terus berlanjut. Walaupun Ana tahu bahwa secara medis, mustahil bagi Jorwil untuk sehat kembali seperti sedia kala, toh ia memohon juga kepada Tuhan untuk kesembuhan Jorwil yang sempurna. Dan ternyata Tuhan telah menjawab apa yang Ana minta dalam doanya. Seperti mimpi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, lewat doa Ana, sang istri, Tuhan memberikan kesembuhan bagi Jorwil. “Semua ini mukjizat dari Tuhan dan saya percaya Tuhan Yesus selalu bantu saya,” ujar Ana dengan bersukacita.
Masa-masa kritis akhirnya berlalu dan Jorwil kini melewati masa-masa terapi untuk melatih anggota-anggota tubuhnya yang sudah lama terbujur kaku sampai akhirnya Jorwil dapat melakukan semua kegiatannya seperti semula. “Yang membuat saya benar-benar terkesima, Tuhan benar-benar memulihkan Koko AW step by step sampai Koko AW bisa beraktivitas dan mengendarai mobil secara manual,” ujar Veronika takjub melihat kenyataan yang terjadi pada diri sang kakak. Begitu pula dengan Jorwil. Ucapan syukur terus terucap dari bibirnya: “Rasanya seperti hidup kembali. Padahal waktu tabrakan maut itu terjadi saya merasa seperti mau meninggal. Buat saya, Tuhan Yesus luar biasa.” (Kisah ini sudah ditayangkan 14 Juli 2008 dalam acara Solusi di SCTV)
Sumber kesaksian:
Jorwil

Selama 16 Tahun Berzinah Dengan Istri Orang

Kisah Nyata -
Separuh dari kehidupannya dihabiskannya untuk mengkonsumsi narkoba, seks bebas dan kehidupan malam. Itulah kehidupan yang telah dijalani oleh Hilmar Sitinjak. Sekalipun dididik dengan keras oleh kedua orang tuanya, namun sebagai seorang anak remaja yang masih mencari jati diri, Wilmar ingin tahu kehidupan lain yang ada di luar sana. Maka mulailah Hilmar berkenalan dengan obat-obatan terlarang, kehidupan malam dan juga seks bebas. Bisa melakukan semuanya itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi Wilmar.
“Narkoba itu menjadi suatu kebanggaan bagi saya saat itu, saya pikir saya tidak gaul jika ke kafe atau ke diskotik tapi tidak menyentuh itu,” demikian Hilmar menceritakan masa lalunya.
Tidak berhenti sampai di situ. Setelah dia mulai mengenal dunia malam, Hilmar semakin terjerumus dalam kehidupan seks bebas. Tante-tante hingga para pekerja seks digilir untuk tidur bersamanya.
Berkali-kali Hilmar harus berurusan dengan polisi karena perkelahian dan narkoba, namun tidak pernah ada kata menyesal dalam hidup Hilmar. Hatinya telah menjadi beku. Meskipun hati yang beku itu pernah cair oleh suatu peristiwa dalam hidupnya, namun hal itu tak dapat mengubahnya menjadi manusia yang lebih baik. Saat itu ayah Hilmar dirawat di rumah sakit PELNI dan sempat beberapa kali keluar masuk rumah sakit hingga akhirnya sang ayah meninggal dunia.
“Pada saat meninggal, saya ada dalam pelukannya. Tapi tetap saya tidak pernah sungguh-sungguh bertobat.” Kematian sang ayah tidak mempengaruhi kehidupan Hilmar untuk insaf dari kehidupan lamanya, tetapi malah sebaliknya membuatnya semakin tenggelam dalam dunia narkoba.
“Saya selalu jatuh dalam dosa perzinahan, terhadap wanita dan terhadap narkotika. Di rumah juga kalau ditanya orang tua, hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Mami saya tidur, saya keluar. Pulangnya ngga tahu kapan.”
Selama enam belas tahun Hilmar hidup dalam perzinahan dengan seorang wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak. Dia terbuai dengan hubungan gelap bersama wanita itu sampai lupa segalanya. Walaupun hubungan itu telah melukai hati ibunya, tetapi Hilmar tetap tidak memperdulikannya.
Selain berselingkuh dengan istri orang, Hilmar juga terobsesi untuk meniduri para gadis perawan. Semakin banyak jumlahnya, semakin besar pula kebanggaannya.
Pengaruh narkoba telah membuat Hilmar gelap mata. Adik kandungnya pun menjadi sasaran kekerasannya. Bahkan ia pernah berniat ingin membunuh seluruh anggota keluarganya. Karena sepak terjangnya, seluruh keluarganya pun takut kepadanya.
Suatu saat Hilmar membutuhkan uang untuk membeli narkoba dan Hilmar mengancam kakaknya bahwa dia akan membunuhnya jika tidak diberikan uang itu. “Saya takut sekali, saya yakin dia berani membunuh karena itu di luar pikiran normalnya. Dia punya keberanian karena di bawah pengaruh narkoba,” demikian ungkap kakak Hilmar.
Suatu saat seorang kekasih Hilmar hamil. Dia akhirnya meminta kekasihnya untuk menggugurkan kandungannya. Dengan dibantu oleh seorang dokter yang menjadi kenalannya, kandungan kekasihnya itu digugurkan. Rintihan kekasihnya saat menjalani aborsi tidak membuat Hilmar bergeming. Bahkan setelah mengantarkan kekasihnya yang masih abg pulang, Hilmar melanjutkan malamnya dengan berpesta-pora seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Hingga pada suatu malam di tahun 2005, Hilmar sempat berpikir untuk bertobat dengan sungguh-sungguh. Namun pada saat sedang mempertimbangkannya, Hilmar tertangkap dan terjerat oleh hukum. Harus menjalani hukuman yang cukup lama membuat Hilmar berpikir banyak tentang apa yang harus dilakukannya dengan hidupnya.
“Saya harus bagaimana lagi dengan hidup saya? Sekarang saya ditahan. Pada tahun ’85 saya pernah ditahan, dan sekarang setelah 20 tahun harus mengalami lagi. Maksud Tuhan apa dengan mengijinkan hal ini saya alami?” demikian Hilmar berseru pada Tuhan. “Tuhan, tolong saya supaya saya bisa bertobat. Bagaimana supaya saya bisa bertobat dengan benar dan sungguh-sungguh.”
Hingga suatu hari Hilmar bertemu dengan Ibu Jane yang menjadi pembimbing rohaninya. Saat itu ibu Jane memberi sebuah tantangan, “Jika di antara saudara ada yang mau sungguh-sunguh bertobat dan datang pada Tuhan, pasti Tuhan akan mengampuni dosa-dosa saudara.” Ibu Jane menyadari bahwa orang-orang seperti Hilmar ini ingin diterima oleh lingkungannya dan masyarakat.
Ibu Jane berkata kepadanya, “Begini ya Hilmar, kalau kamu mau sungguh-sungguh bertobat, hidup di dunia yang penuh dengan kenakalan dan pesta-pora pernah kamu jalani. Sekarang apa yang belum pernah kamu alami buat Tuhan? Mau tidak kamu benar-benar mati-matian buat Tuhan? Tuhan mencari bukan orang yang benar, tetapi mencari orang yang mau bertobat.”
Sewaktu itu Hilmar mulai berpikir, “Apakah mungkin saya ini masih bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain? Sewaktu orang tua saya kena stroke, saya kasihan dan saya yakin kena strokenya juga pasti karena saya. Kalau saya tetap seperti ini, apakah saya harus jadi penjahat besar atau saya harus bertobat dan benar-benar menjadi anak Tuhan?”
Sebuah perubahan besar terjadi dalam hidup Hilmar. Dulu dia adalah orang yang tidak pernah menghormati maupun mengurus orang tuanya, namun sekarang dia melayani orang tuanya.
“Dengan kembalinya Hilmar, itu seperti kembalinya anak yang hilang. Dengan pertobatan Hilmar, mami bisa bicara lagi. Mungkin mami saya umurnya panjang karena Hilmar kembali. Mulai terasa ada damai di rumah ini. Dulu saya merasa malu dengan tetangga, karena ada masalah sedikit ribut. Tapi sekarang hal seperti itu tidak terjadi lagi,” dengan haru kakak Hilmar menuturkan apa yang dirasakannya.
“Saya belajar hidup di dalam kasih itu. Yang penting saya rendah hati. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu, segenap kekuatan jiwamu dan kasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Sekarang saya hilangkan semua kebiasaan buruk saya dan saya belajar sungguh-sungguh pada firman Tuhan,” Hilmar menyatakan pertobatannya dengan penuh sukacita. (Kisah ini sudah ditayangkan 19 Mei 2008 dalam acara Solusi di SCTV).
Sumber Kesaksian :
Hilmar Sitinjak