Selasa, 10 Juli 2012
~ KESAKSIAN JORWIL:
"NYARIS DIJEMPUT AJAL" ~
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Pada tanggal 15 Februari 2007, Jorwil sedang mengendarai sepeda motornya. Waktu itu pukul 3 sore dan ia pulang kerja melewati jalan Cibadak. Namun mendekati perempatan, ia merasa agak kurang nyaman. Perempatan yang akan ia lalui tampaknya rawan karena hanya lampu kuning saja yang menyala dan tidak ada cahaya dari arah kiri. Namun entah bagaimana, tiba-tiba dari arah kiri itulah melintas sebuah mobil. Jorwil tak melihat mobil itu datang dan ia tak sempat menghindar sehingga tabrakan pun tak terelakkan. Menurut saksi mata yang berada di tempat kejadian, Jorwil langsung ‘mental’ begitu ditabrak. Setelah itu, ia sekali lagi terlindas oleh ban mobil dan kemudian tubuh Jorwil masih terseret hingga 9 sampai 10 meter.
Ketika Ana, istri Jorwil, mendapat kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan dan tengah berada di UGD, ia mengira kecelakaan itu hanya tabrakan biasa. Namun sesampainya di rumah sakit, ia sangat terkejut. Rasa sedih, kuatir dan ngeri menjadi satu karena melihat kondisi sang suami yang ternyata sangat parah: kaki terlindas dan tempurung sebelah kiri lepas.
Kengerian dan keterkejutan tak hanya dirasakan Ana. Veronika, adik Jorwil, tak urung shock melihat kondisi kakaknya. “Saya punya keinginan dan doa bahwa Tuhan akan menyelamatkan keluarga kami. Tapi, mengapa caranya harus seperti ini?” protes Veronika kepada Tuhan pada waktu itu. Veronika yakin Tuhan akan menyelamatkan nyawa kakaknya tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa Tuhan akan memakai cara ‘kecelakaan maut’ untuk menuntun Jorwil kembali di dalam Tuhan. Veronika takut, AW, panggilan akrab Jorwil, merasa frustasi dan tidak kuat menghadapi kenyataan pahit yang menimpa dirinya. Apalagi menurut dokter, cidera yang diderita Jorwil cukup berat. Ia terlindas oleh ban mobil dan mengalami cidera pada tulang dada dan paru-paru yang cukup parah sehingga Jorwil harus menerima nafas bantuan dengan bantuan mesin. Tak hanya itu, Jorwil juga mengalami patah pada tulang paha, lengan atas, dan tulang selangka. Kalau saja tidak cepat ditolong dan tindakan menyadarkan pasien (resusitasi) tidak segera dilaksanakan, Jorwil dipastikan akan meninggal di tempat atau sesaat setelah tiba di UGD. Cidera paru-paru yang cukup berat, kemudian ditambah dengan cidera pada anggota-anggota gerak serta kehilangan darah yang banyak hanya memberi peluang fifty-fifty bagi Jorwil alias Jorwil bisa meninggal atau hidup.
Sementara itu, Ana yang shock merasa bahwa harapan untuk suaminya bisa bertahan hidup sudah tidak ada. Pada saat itu, perasaannya yang paling dalam pada sang suami meliputi dirinya. Di dalam hatinya yang paling dalam, Ana bisa merasakan betapa ia sangat menyayangi dan mencintai Jorwil dengan tulus, apa pun keadaannya. Namun kepada Ana dokter telah menyatakan bahwa mereka tinggal menunggu mukjizat dari Tuhan saja. Kesedihan meliputi hati Ana. Di dalam benaknya terus terbersit apakah suaminya akan normal kembali. Saat itu tidak ada yang dapat dilakukan Ana kecuali berdoa kepada Tuhan. “Setiap hari saya berdoa dan itu membuat saya merasa dekat dengan Tuhan dan saya merasa Tuhan menguatkan hati saya. Saya percaya, Tuhan Yesus pasti memberi mukjizat buat keluarga kami sehingga suami saya bisa bangun dari koma karena saya sangat percaya, Tuhan itu ada di hati saya dan mendengar doa saya,” ujar Ana berharap. Dan benar, selang 3 hari lamanya Jorwil berhasil melewati masa kritisnya. Namun akankah sang suami bisa pulih dan normal kembali?
Oleh dokter, Jorwil kemudian dioperasi di bagian kepala, tangan dan kaki selama 6 – 7 jam. Perjuangan di dalam doa untuk Jorwil masih terus berlanjut. Walaupun Ana tahu bahwa secara medis, mustahil bagi Jorwil untuk sehat kembali seperti sedia kala, toh ia memohon juga kepada Tuhan untuk kesembuhan Jorwil yang sempurna. Dan ternyata Tuhan telah menjawab apa yang Ana minta dalam doanya. Seperti mimpi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, lewat doa Ana, sang istri, Tuhan memberikan kesembuhan bagi Jorwil. “Semua ini mukjizat dari Tuhan dan saya percaya Tuhan Yesus selalu bantu saya,” ujar Ana dengan bersukacita.
Masa-masa kritis akhirnya berlalu dan Jorwil kini melewati masa-masa terapi untuk melatih anggota-anggota tubuhnya yang sudah lama terbujur kaku sampai akhirnya Jorwil dapat melakukan semua kegiatannya seperti semula. “Yang membuat saya benar-benar terkesima, Tuhan benar-benar memulihkan Koko AW step by step sampai Koko AW bisa beraktivitas dan mengendarai mobil secara manual,” ujar Veronika takjub melihat kenyataan yang terjadi pada diri sang kakak. Begitu pula dengan Jorwil. Ucapan syukur terus terucap dari bibirnya: “Rasanya seperti hidup kembali. Padahal waktu tabrakan maut itu terjadi saya merasa seperti mau meninggal. Buat saya, Tuhan Yesus luar biasa.”
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Jorwil ]
~ KESAKSIAN TOTO SUKANTO:
"MISKIN MENJADI KAYA" ~
Aku dibesarkan dari lingkungan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi. Keluargaku sering berpindah-pindah karena kondisi ekonomi yang tidak pernah membaik. Karena tidak memiliki dana, aku hanya sanggup bersekolah sampai kelas 5 SD. Kemudian di usiaku yang ke 12, aku pindah ke daerah Cikampek untuk mencari pekerjaan, tapi semuanya sia-sia. Tidak ada perusahaan yang mau memperkerjakanku karena aku hanya tamatan kelas 5 SD.
Akhirnya aku hanya menjadi tukang rokok di terminal dan menjadi kuli bangunan demi mencukupi kebutuhan hidupku. Hal itu berlangsung sangat lama, sampai pada puncak penderitaanku di tahun 1973. Ayahku meninggal dunia dan hal itu menjadi tekanan yang sangat besar buatku. Sejak saat itu sifatku berubah total. Aku menjadi seorang pemarah. Emosiku tidak dapat terkendali dengan baik, bahkan aku menjadi mudah tersinggung.
Di usiaku yang ke 14 tahun, aku pergi merantau ke Pamanukan dan bekerja di sebuah toko kelontong milik seorang berkebangsaan Cina. Satu setengah tahun kemudian aku kembali ke Cikampek dan menjadi kondektur angkutan umum.
KETEKUNAN MENJALANI PROSES HIDUP.
Ternyata di balik segala kesusahan yang aku alami, Tuhan punya rencana yang luar biasa dalam hidupku. Pada suatu hari aku merasa kasihan pada seorang pendeta di dekat rumahku. Jemaatnya hanya sedikit, bahkan bisa dihitung dalam hitungan jari. Akhirnya, aku memutuskan untuk datang ke gereja karena ingin memenuhi tempat kosong disana. Semakin sering aku datang ke gereja, ternyata Firman Tuhan yang dibawakan selalu menyentuh hatiku dan aku terus mendapat pengajaran tentang siapa itu Yesus.
Dari saat itulah hidupku diubahkan. Aku merasakan kuasa Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Di tengah penderitaanku ini, Ia tetap menyertaiku dan terus menjagaiku. Buktinya, sampai saat ini aku masih dapat hidup dan bernapas. Akhirnya, 5 Maret 1978 aku menyerahkan diriku padaNya dan dibaptis serta mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat dalam kehidupanku.
Setelah menerima Yesus dalam hidupku, kehidupanku mulai mengalami perubahan yang luar biasa. Ada kuasa damai sejahtera yang melingkupi kehidupanku. Perubahan yang terbesar adalah di bidang ekonomiku. Aku mengawali usahaku dengan mulai berjualan es yang kutitipkan di warung-warung kecil untuk dijual. Berkat ketekunanku di dalam Tuhan, aku berhasil memperoleh keuntungan yang cukup besar sehingga aku dapat membeli bahan mentah, yaitu kayu, dan mengolahnya menjadi barang jadi, seperti lemari dan sebagainya. Dari usaha itu aku dapat membeli sepeda motor. Kuasa Tuhan memang luar biasa dalam hidupku.
Karena kasih Tuhan sangat kurasakan dalam hidupku, aku memutuskan untuk taat datang beribadah ke gereja. Di sanalah aku menemukan pasangan hidup, tulang rusukku. Tahun 1981, aku menikah dengan Cindra Ningsih, wanita yang kukenal di gereja. Satu tahun kemudian kami dikaruniai seorang anak yang luar biasa, dan 6 tahun kemudian lahirlah anak kami yang kedua. Kami menjadikan Yesus sebagai kepala keluarga dalam kehidupan keluarga kami dan aku sangat bersyukur karena kasih Tuhan yang luar biasa mengalir dalam keluargaku.
MASA DEPAN PENUH HARAPAN MENJADI MILIKKU.
Setelah sekian lama hidupku terbelenggu kemiskinan dan menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, aku menjadi semakin yakin bahwa kuasa Tuhan memang dahsyat dalam hidupku. Sejak aku menyerahkan hidupku bagiNya, ada banyak berkat yang kuperoleh. Setelah menikah, mertuaku memberi sejumlah uang untuk modal usaha. Dari modal tersebut, aku membeli sebuah kios kecil. Sedangkan aku masih tinggal di rumah mertuaku. Usaha pertamaku saat itu adalah menjadi pedagang makanan ringan eceran. Dari usahaku itu, aku bisa mengembalikan modal yang diberikan oleh mertuaku hanya dalam jangka waktu 1 tahun. Kemudian usahaku meningkat menjadi pedagang grosiran. Dari hasil itu aku dapat membeli sebuah mobil box tipe HIZ 1000 secara kredit selama satu tahun.
Karena kuasa Tuhan benar-benar luar biasa dalam hidupku, enam bulan kemudian aku sanggup membeli sebuah mobil box lagi, Toyota L300, secara tunai. Tidak hanya sampai disitu, aku dapat membeli sebuah mobil box lagi dengan ukuran yang lebih besar. Kemudian, tahun 1990 aku dapat membeli rumah dan tahun 1996 aku bisa merasakan jalan – jalan ke Thailand dan Singapore. Tahun 1997 aku mendapat kesempatan untuk merasakan keindahan Hongkong, Swiss, dan Paris. Bahkan, aku dapat menyekolahkan anak pertamaku sampai meraih S1 di STIEB dan membelikannya sebuah mobil Suzuki Katana. Sedangkan anak keduaku saat ini duduk di bangku SMA di Bandung.
Berkat Tuhan juga mengalir begitu ajaib sampai saat ini. Aku sekarang telah memiliki mobil Mitsubishi Kuda dan BMW. Karena tuntunanNya dalam hidupku, aku berhasil menjadi salah seorang pengusaha makanan ringan yang sukses di wilayah Cikampek. Dan berkat kekuatanNya atasku, aku tidak menjadi orang yang sombong karena aku tahu apa yang aku miliki saat ini bukanlah milikku, tapi milikNya yang dititipkan padaku.
MELAYANI TUHAN.
Sebagai bukti pengabdianku padaNya, aku menjadi pelayan Tuhan sebagai ketua kaum pria dan ketua sidang majelis, sebagai ketua pelayanan pengusaha untuk wilayah Subang, Karawang, dan Purwakarta, dan juga aktif terlibat dalam yayasan yang melayani di bidang hubungan masyarakat di wilayah Cikampek. Satu yang pasti di balik kesuksesanku adalah bahwa Tuhan satu-satunya kunci dari semuanya itu.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Toto Sukanto ]
~ KESAKSIAN CIPTA YOPA:
"PERTOLONGAN TUHAN SELALU TEPAT PADA WAKTU-NYA" ~
Shallom, saya seorang TKW yang bekerja di Hong Kong dari tahun 2008, dan oleh karena anugrah-Nya saya dapat bergabung dengan GBI Hong Kong ini sedari pertama saya menginjakkan kaki saya di Hong Kong. Saya bertumbuh di gereja ini, dan saya selalu percaya kepada setiap visi yang Tuhan sampaikan melalui gereja ini.
Saya hendak menyaksikan apa yang baru saya alami di Tahun 2012 ini, yaitu “Tahun Perkenanan Tuhan, Mujizat Masih Ada”. Seperti ada tertulis dalam 2 Korintus 6:2, “ ... Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Melalui firman ini akan ada 3 hal yang akan kita alami saat kita berkenan di hadapan-Nya, yaitu ALLAH akan mendengar, menyelamatkan serta menolong kita.
Pada bulan Mei 2012 ini ada 3 kerinduan di hati saya untuk saya ikuti :
1. Saya rindu untuk bisa mendampingi anak saya yang akan ujian di awal bulan.
2. Saya rindu untuk bisa menghadiri WPA (World Praise Assembly) yang ada di Jakarta.
3. Saya rindu untuk bisa mengikuti KKR Bapak Gembala Pembina kita Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo pada tanggal 20 Mei 2012 di Hong Kong.
Jauh sebelum saya mengajukan cuti kepada majikan saya, mereka sudah pernah bilang bahwa saya hanya bisa mendapatkan cuti pada bulan Juli atau bulan Agustus, dan itupun hanya 2 minggu saja. Karena saya sudah mengetahui ketentuan yang majikan saya berikan, saya bergumul serta berdoa kepada Tuhan, agar saya bisa mendapatkan cuti di bulan Mei saja. Setelah berdoa sekian lama dan juga memperkatakan firman Tuhan, saya beranikan diri untuk mengajukan cuti pada bulan Mei ini, dan puji Tuhan majikan saya pun menyetujuinya!
Setelah saya mendapatkan ijin dari majikan, saya kembali berdoa memohon pimpinan- Nya, apa yang bisa saya lakukan pada saat saya cuti pulang kampung nanti. Lalu Tuhan menyuruh saya untuk mengumpulkan anak – anak remaja / pemuda dari seluruh denominasi gereja yang berada di lingkungan saya. Mendengar Tuhan berkata seperti itu saya tidak yakin dengan diri saya sendiri, karena saya belum memiliki pengalaman dalam bidang pengajaran, maupun saya pribadi mempunyai masa remaja yang tidak baik. Kembali saya bergumul dan berdoa karena saya tidak siap untuk melakukan hal ini. Dan pada satu ketika saya diingkat oleh pesan serta kesaksian Bapak Gembala Pembina kita, asalkan kita taat kepada Tuhan, maka Tuhan akan membuka pengertian untuk kita, dan akhir kata saya berkata “SAYA SIAP TUHAN!”.
Pada awal tahun 2012, bapak Gembala Pembina kita berbicara mengenai buah sulung, dimana kita harus mempersembahkan buah sulung, saya bergumul kepada Tuhan karena kalau saya memberikan buah sulung pada awal bulan ini, saya akan kekurangan. Dan saya mengadakan tawar menawar dengan Tuhan, dan saya janji sehabis saya cuti saya baru akan mempersembahkan buah sulung itu. Lalu Tuhan berbicara kepada saya “AKU menyuruh kamu untuk membawa hasil pertama di tahun ini, BUKAN hasil pertengahan tahun” saya tertegun dan saya menuruti apa yang Tuhan katakan kepada saya. Saya percaya kalau Tuhan akan selalu menyediakan segala sesuatu tepat pada waktunya. Dengan uang pas – pas an, akhirnya saya pulang kampung. Dan sesampainya di kampung, saya mencoba untuk menghubungi semua pendeta / pimpinan gereja setempat, serta menyampaikan keinginan Tuhan untuk membuat seminar ini. Puji Tuhan ada 6 gereja yang merespon dan menyambut positif seminar ini. Dan tiap tiap gereja pun menghimbau anak – anak remaja serta para pemuda untuk menghadiri seminar tersebut. Saya pun terkejut karena mereka berkata bahwa ini adalah pertama kalinya semua gereja dapat duduk bersama seperti ini.
Setelah pertemuan dengan gereja – gereja beres, saya berdoa mengucap syukur atas campur tangan Tuhan. Dan pada saat saya berdoa, Tuhan berkata kepada saya bahwa saya harus menyediakan makan bagi setiap peserta. Saya berpikir secara logika saya mana cukup dengan uang yang saya bawa, karena saya akan mengadakan kebaktian syukuran sebelum saya pulang nanti. Dan pada sore harinya saya menerima telepon dari teman saya yang ada di Hong Kong, mereka menanyakan bagaimana rencananya? Saya jelaskan bagaimana hasil dari pertemuan dengan gereja – gereja dan saya juga minta dukungan doa kepada teman – teman saya yang ada di Hong Kong. Puji Tuhan mereka mengirimkan sejumlah dana pas dengan jumlah yang saya butuhkan disini. Sungguh saya percaya Tuhan yang menggerakan hati mereka untuk mengirimkan dana tersebut. Dan akhirnya semuanya berjalan sesuai dengan rencanaNya.
Saya percaya pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya. Mari kita terus melekat pada sumber pemberi berkat, terus masuk dalam hadirat TUHAN, serta lebih intim lagi kepada-Nya. Teruslah memperkatakan firman TUHAN dan percaya bahwa MUJIZAT MASIH ADA!
Segala puji, syukur, hormat dan kemuliaan hanya bagi TUHAN kita YESUS KRISTUS, Halleluya, AMIN.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Cipta Yopa ]
~ KESAKSIAN TABITA WULANDARI:
"RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA TUHAN BAGI TABITA" ~
Tabita lahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya hanyalah seorang penjahit kecil di Magelang. Untuk menopang ekonomi keluarga ibunya juga harus membantu ayahnya dengan berjualan di warung.
Karena ditipu oleh orang. Orangtua Tanhita terbelit oleh hutang yang akhirnya membawa mereka ke jurang kemiskinan. Setiap harinya datang penagih hutang dan mau tidak mau Tabita harus berbohong kepada mereka. Jika datang para penagih hutang maka ibu atau ayahnya akan sembunyi di bawah kolong meja atau sembunyi di kamar mandi, dan kejadian itu berlangsung lama. Bahkan untuk melunasi hutang tersebut kedua orangtuanya pernah berniat menjual ginjalnya, namun uhan tidak mengijinkannya. Ketika ada peminat, golongan darah mereka tidak ada yang cocok.
Tabita anak ke-2 dari 5 bersaudara. Dengan keadaan demikian, untuk kehidupan sehari-hari dan membayar biaya sekolah mereka harus menghadapi pergumulan yang berat. Hal itu semakin dirasakan ketika ia memasuki bangku SMP. Saat itu mereka sampai tidak bisa membayar uang sekolah. Namun Tabita tergolong anak yang memiliki prestasi di atas rata-rata di sekolahnya, sehingga ia mendapat beasiswa sampai lulus SMA.
Mengenal Tuhan Yesus secara pribadi
Ketika masa tenggang waktu kelulusan SMA menuju perguruan tinggi, seorang temannya memberikan Tabita sebuah buku yang menjadi momentum awal proses kelahiran barunya.
Buku itu menceritakan tentang kesaksian seorang anak Tuhan di Jepang yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang-orang di dalam kereta api. Buku itu begitu menyentuh hatinya. Saat itu ia menangis merasakan jamahan Tuhan di dalam hidupnya untuk pertama kalinya.
Saat itu juga ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan apapun panggilan Tuhan di dalam hidupnya. Doanya, “Tuhan, aku mau Engkau pakai aku jadi hambaMu.” Saat itu ia memutuskan untuk masuk sekolah Alkitab. Namun Tuhan punya rencana lain di dalam hidupnya. Pendaftaran di sekolah itu sudah ditutup. Tabitapun menangis dan bertanya apa maksud Tuhan dibalik semua ini.
Kuliah karena mukjizat
Suatu hari seorang teman ayahnya dari Jogya datang ke Magelang untuk mengunjungi keluarga mereka. Di situ mereka sharing mengenai apa yang mereka alami hari-hari ini. Akhirnya sahabat ayahnya itu mengajak Tabita ke Jogya untuk ikut tes UMPTN.
Puji Tuhan, Tabita diterima di FISIP UGM tahun 1994. Namun keluarganya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan studinya. Di situ Tabita menangis lagi di kaki Tuhan supaya Tuhan buka jalan. Oleh kemurahan Tuhan, sahabat ayahnya itu menolong keluarga ini untuk membayar biaya pendaftaran supaya Tabita dapat meneruskan studinya ke perguruan tinggi.
Di kampus inilah Tabita bertemu dengan kakak rohaninya yang membimbingnya untuk lahir baru dan kemudian ikut di dalam pemuridan di persekutuan kampus Maranatha yang dikomandoi oleh Eriel Siregar (eks-host SOLUSI).
Tiga tahun setengah Tabita hidup dari satu mukjizat ke mukjizat lainnya. Ia hidup dan kuliah dari ketidakmampuan orangtuanya untuk membiayainya. Satu bulan sebelum wisuda, Tabita diterima bekerja sebagai tenaga accounting merangkap sekretaris di sebuah diskotek di Jogya. Bidang pekerjaan yang berbeda dengan ilmu yang dipelajarinya sewaktu kuliah. Tabita tidak pernah memiliki tabungan. Karena hidupnya dari hari ke hari sangat bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.
“Hidup saya bergantung kepada Tuhan seperti bergantung pada selembar benang. Kalau bukan pertolongan Tuhan, tidak tahu bagaimana hidup saya.” Di diskotek itu Tabita dianggap orang aneh karena gaya hidupnya tidak seperti mereka. Mereka bilang Tabita salah masuk kerja di sini. Meskipun kerja di tempat yang dianggap orang negative, tapi Tabita hidup benar dan tidak mau neko-neko karena tujuan utamanya adalah menghidupi keluarganya.
Pencobaan demi pecobaan dihadapi Tabita
Setelah tiga belas bulan bekerja di diskotek tersebut, Tabita dihadapkan pada pergumulan yang berat. Ibunya harus masuk penjara selama 6 bulan dengan tuduhan Kristenisasi. Sedangkan ibunya menjadi salah satu tulang punggung keluarga berhubung ayahnya suka ditipu ketika bekerja atau mencoba membuka usaha kecil-kecilan.
Waktu itu adik-adik dan kakak Tabita semuanya masih sekolah dan sedang kuliah. Hanya Tabita sendiri yang sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Ketika mendengar berita itu Tabita menangis karena begitu berat beban yang harus ditanggungnya. Dialah yang harus menggantikan peran ibunya di dalam menghidupi keluarganya. Sementara keluarganya memiliki banyak hutang yang harus segera diselesaikan.
Tahun 1998, suatu hari Tabita melihat ada lowongan di Departemen Tenaga Kerja. Waktu itu Depnaker membuka dua lowongan, yaitu menjadi pekerja pabrik di Malaysia atau menjadi pembantu rumah tangga di Singapura.
Karena pertimbangan mendapatkan penghasilan yang lebih besar, Tabita memilih menjadi pembantu rumah tangga di Singapura. Padahal waktu itu di televisi sedang hangat pemberitaan banyak pembantu rumah tangga asal Indonesia yang mendapat perlakuan kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Tabita sempat mengalami ketakutan dan hanya bisa berserah kepada Tuhan. Semua itu dilakukannya demi keluarganya.
Akhirnya Tabita berhenti kerja dan ia diberi uang pesangon. Setelah itu ia masuk masa karantina di Cirebon untuk menunggu diberangkatkan ke Singapura. Tuhan menunjukkan perkenanNya atas Tabita. Baru 5 hari masuk karantina Tabita sudah memiliki majikan. Akhirnya pada hari ke-20, tepat pada tanggal 29 November 1998 Tabita berangkat ke Singapura, sementara calon TKW yang lain harus menunggu berbulan-bulan untuk diberangkatkan.
Saat mau berangkat ke Singapura, Tabita berdoa supaya Tuhan memberikan majikan yang baik. Doanya dijawab Tuhan karena selama bekerja 4 tahun majikannya yang penganut Budha itu memang sangat baik dan memperlakukannya seperti anggota keluarga sendiri.
Selama bekerja 4 tahun di Singapura, setiap bulan Tabita mengirim hampir seluruh gajinya kepada keluarganya di Magelang. Yang ada dipikirannya hanyalah apakah keluarganya masih bisa makan dan adik-adiknya masih bisa sekolah? Bagi Tabita, ia merasa cukup karena setiap hari bisa menikmati makanan yang wajar dan tempat tinggal yang layak di rumah majikannya itu. Tapi bagaimana keluarganya di Magelang? Belum lagi keluarganya memiliki banyak hutang yang harus diselesaikan.
Namun majikannya sangat baik hati. Mereka selalu mengetahui jika Tabita memiliki pergumulan dan beban yang berat. Mereka menjadi sahabatnya dan selalu menguatkan, menghibur serta memberikan kata-kata motivasi agar Tabita kuat menjalani proses hidupnya.
Majikannya memperlakukan Tabita seperti keluarga sendiri. Di dalam keluarga besar dan rekan-rekannya, mereka tidak menganggap Tabita seorang pembantu rumah tangga di keluarga mereka. Bahkan mereka melewati makan malam bersama. Di salah satu sisi Tabita menghadapi pembentukan karakter lewat anak majikannya dan nenek tersebut, tapi di sisi lain ia merasa dihibur dengan kebaikan hati majikannya. Mereka mau memberikan telinga mereka untuk mendengar segala curahan hati Tabita. Selama 4 tahun bekerja di Singapura, ternyata Tuhan mempersiapkan Tabita untuk satu masa di mana ia akan mendapat berkat yang besar di kemudian hari. Tanpa ia sadari selama 4 tahun di Singapura, Tabita menguasai percakapan dalam bahasa Inggris dengan baik. Selain itu ia mendapat banyak pelajaran hidup dari majikannya.
Namun tidak semua harapannya tercapai. Adiknya yang ia support secara finansial untuk kuliah ternyata memilih menikah ketika duduk di semester IV. Uang yang ia kirim kepada orang tuanya setiap bulan ternyata tidak dapat melunasi hutang-hutang keluarganya. Semua yang dilakukannya seakan-akan sia-sia dan tidak menghasilkan apa-apa. Sampai Tabita sendiri tidak dapat melihat gambaran masa depannya itu seperti apa. Akhirnya tepat pada tanggal 29 November 2002 Tabita pulang ke Indonesia.
Tabita dipersiapkan Tuhan
Sampai di Indonesia Tabita melamar ke 5 perusahaan setelah melihat lowongan di koran. Tabita di diterima bekerja di perusahaan direct marketing yaitu PT Arco Prima yang berkantor di Menara Imperium Kuningan. Tabita hanya bekerja selama 2 bulan di tempat ini karena jam kerjanya begitu padat. Ia nyaris tidak punya waktu karena pagi-pagi sudah harus berangkat ke kantor dari tempat tinggalnya di Cijantung ke Kuningan. Begitu juga pulangnya sudah larut malam. Waktu saat teduh dan membaca Alkitabnya ia lakukan di bis. Kemudian ia melamar pekerjaan di tempat lain dan akhirnya diterima bekerja di PT Andi Putra, sebuah perusahaan forwarder di daerah Pangeran Jayakarta. Di perusahaan ini Tabita mendapat gaji lebih tinggi dari karyawan lainnya.
Kerinduan Tabita agar kehidupan keluarganya terangkat tidak pernah padam. Ia mencoba menggugah hati ibunya agar mau pindah ke Jakarta. Karena ibunya bisa membuka warung. Dengan berat hati karena harus meninggalkan suami dan anak-anaknya untuk sementara waktu, akhirnya sang ibupun berangkat ke Jakarta untuk membuka jalan bagi anggota keluarga yang lain di kemudian hari.
Dan Tuhan buka jalan. Akhirnya ada seorang teman Tabita yang mau mengontrakkan kiosnya di daerah Mangga Dua. Namun kendalanya dari mana uang untuk membayar kontrakan tersebut? “Setiap kali ada masalah, pasti Tuhan sedang mau membawa kita ke tempat yang lebih tinggi,” ungkap Tabita. Pimpinannya bersedia membantu Tabita dengan memberikan pinjaman. Namun pada akhirnya pimpinannya berkata bahwa Tabita tidak perlu mengembalikan pinjaman tersebut. Akhirnya Tabita dan ibunya dapat menempati kios sekaligus tempat untuk mereka tinggal. Ketika menempati kios yang baru itu Tabita juga mulai mengajak kakaknya tinggal bersama mereka.
Dari PT Andi Putra, Tabita kemudian memantapkan karirnya di Monash University. Belum lama bekerja di sini, Tabita mendapat kesempatan mendampingi mahasiswa homestay study ke Melbourne, Australia. Sebuah perjalanan yang belum pernah terlintas dipikirannya sebelumnya.
Di dalam hidupnya Tabita memiliki 3 impian, yaitu membangun rumah untuk orang tuanya, membangun panti asuhan dan membangun sebuah gereja di dekatnya. Tuhan mulai mewujudkan impiannya itu. Tuhan menaruh keyakinan di dalam hatinya bahwa tahun 2004 Tuhan akan memberikan keluarga ini sebuah rumah. Dan hal itu diceritakan kepada teman-temannya. Namun tidak semua respon teman-temannya itu baik karena mereka tahu kondisi Tabita yang sebenarnya. Tabita justru memberanikan diri untuk survey rumah di beberapa perumahan. Tabita berdoa, “Tuhan, bagian saya kan mencari rumahnya, bagian Tuhan menyediakan uangnya.”
Mimpi yang mulai digenapi
Suatu hari, Minggu, 29 Agustus 2004 Tabita bersaksi di sebuah gereja (GBI PRJ Kemayoran). Kesaksian ini dia anggap sebagai hadiah ulang tahun buat Tuhan. Di situ Tabita menyaksikan perjalanan hidupnya. Ternyata kesaksiannya diperhatikan oleh seorang pejabat penting di President University. Orang ini memberikan kartu namanya dan menawarkan mungkin mereka bisa bekerja sama. Singkat cerita Tabita diterima bekerja di President University.
Rumah impian, beasiswa untuk pendidikan adik-adiknya dan pelayanan anak-anak menuju visi memiliki panti asuhan sendiri…
Ternyata apa yang menjadi impian Tabita selama ini mulai menjadi kenyataan. Dengan diterimanya Tabita sebagai manajer marketing di President University, otomatis ia harus pindah ke Cikarang. Dalam waktu bersamaan Tuhan sudah menyediakan sebuah rumah yang Dia janjikan. Tabita jatuh hati pada sebuah rumah yang ada di samping sungai. Ia sudah membayangkan di situ ia nanti akan mendirikan sebuah panti asuhan dan sebuah gereja kecil. Rumah itu kebetulan hendak dipindah tangankan oleh pemiliknya dan dihargai sebesar Rp.35 juta.
Namun dari mana dapat uang sebesar itu? Setelah melewati pergumulan Puji Tuhan, dengan tabungan yang ada ditambah dengan berkat yang dikasih oleh teman-temannya yang tahu Tabita membutuhkan tambahan uang untuk membeli rumah, akhirnya mereka dapat menempati rumah itu tepat 19 Desember 2004. Sejak saat itu orang tuanya dan saudara-saudaranya dapat berkumpul bersama kembali di rumah impian hadiah dari Tuhan.
Kemurahan dan perkenanan Tuhan tidak hanya sampai di situ. Kedua adik Tabita mendapatkan pendidikan yang terbaik di President University karena mereka memiliki prestasi yang baik. Kedua adiknya mendapat beasiswa dan pelajaran standar international di sekolah tersebut.
Impian Tabita untuk mendirikan panti asuhan telah dimulainya dengan mengajar anak-anak kampung di dekat rumahnya itu setiap hari Minggu sore. Tabita mengumpulkan mereka di depan halaman rumahnya. Mereka diajar membaca, menulis, menyanyi dan hidup sehat. Bahkan anak-anak yang diasuhnya itu sudah pernah tampil di depan Presiden SBY sewaktu berkunjung ke President University.
Tabita Wulandari, hidupnya kini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Seorang wanita tegar yang tidak hanya berani bermimpi. Akan tetapi berani berjuang sampai mimpi tersebut layak untuk dihidupi.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
Sumber : LIFE TV
~ KESAKSIAN INTAN SARTIKA:
"DOWN SYNDROME, PINTU ANUGERAH" ~
Nama saya Intan Sartika. Umur saya 23 tahun. Saya penyandang down syndrome.
Intan Sartika adalah putri bungsu keluarga Januar Tasman dan Maisi Wiryadi. Sebagai penyandang down syndrome, Intan memiliki keistimewaan tersendiri diantara penyandang down syndrome pada umumnya.
Maisi (ibu): "Saya terkejut kenapa saya bisa dapat anak down syndrome. Tapi saya serahkan diri saya pada Tuhan. Saya bilang sama Tuhan “Tuhan, terimakasih Engkau mempercayakan anak ini kepada saya, saya akan berbuat semaksimal mungkin. Tapi Tuhan, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Berilah Roh KudusMu kepada saya”. Kalau saya bawa Intan ada yang bilang “Kamu nggak malu yah, bawa anak ini?”. Pokoknya macam-macam cara orang melihat Intan karena face-nya nggak bagus, ya…jadi banyak yang ngeliatin dari atas sampai bawah. Sedih sih hati, tapi saya cuek aja dah….Saya percaya Tuhan mengirim Intan ini ada maksudnya."
Maisi adalah seorang dokter gigi yang sudah mapan pada waktu itu. Tapi ia memilih untuk meninggalkan profesinya supaya bisa lebih konsentrasi dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada pendidikan Intan. Maisi dan suaminya harus berjuang mengumpulkan informasi tentang down syndrome.
Maisi: "Waktu itu masih langka sekali, dokter-dokterpun tidak begitu tahu apa yang mesti saya perbuat. Tapi saya banyak mendapat dukungan dari satu dokter, yang mengatakan “Ibu, harus kreatif!”. Jadi saya baca buku-buku."
Melalui buku-buku tersebut, Maisi dan suaminya banyak belajar tentang bagaimana mendidik Intan.
Maisi: "Saya memperlakukan Intan seperti anak normal. Saya suka bilang “Intan, nih, mama lagi ngapain, nih?”. Jadi saya taruh dia di box, walau saya masak atau bebenah, dia lihat. Karena anak down syndrome tidak bisa yang abstrak. Umur 8 bulan dia mulai saya ajar ngomong. Aduh, saya sampai nangis setengah mati. Kata kan begitu banyak, gimana nih cara ngajarinnya? Saya nggak tahu darimana itu, pasti itu Tuhan yang memberi kekuatan kepada saya. Ternyata anak ini bisa nyerocos."
Januar (ayah): "Dengan kita menganggap bahwa tiap anak punya potensi, ya yang kita mau gali ya potensinya, gitu. Dari kecil keliatan kalau dia senang musik. Akhirnya kita kasih kesempatan. Kita belikan CD, kita belikan karaoke, sehingga benar-benar ia ekspresikan dirinya."
Kerja keras dan perhatian penuh dari orang tua, membuat pertumbuhan Intan berkembang pesat. Seperti anak normal lain, Intan mampu mengerjakan pekerjaan rumah serta memiliki beberapa ketrampilan lainnya.
Januar: "Ini semua kan kita nggak pengalaman, nggak tahu, nggak dididik. Tapi itu semua seolah-olah ada tuntunan Tuhan. Bahwa kita musti begini, begitu. Dalam mencari informasi dan mencari orang pun seolah ada yang menuntun. Kita nggak tahu, tiba-tiba bisa ketemu orang yang bisa memberikan buku, dll. Jadi dari situlah kita rasakan dan harus kita akui bahwa kita ini nggak ada apa-apanya, nggak ada artinya, kalau Tuhan tidak mau membantu kita."
Kehadiran Intan mendorong Maisi bersama beberapa teman mendirikan sekolah DIAN GRAHITA, sebuah sekolah khusus bagi penyandang down syndrome. April 1999, Maisi kemudian membentuk Ikatan Sindroma Down Indonesia. Melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan, ISDI mengangkat anak-anak penyandang down syndrome untuk mulai berprestasi di dunia internasional.
Januar: "Jadi kita melihat bahwa ini semua karunia Tuhan. Jadi bukannya beban yang Tuhan berikan kepada kami, kita juga merasa bangga bahwa kita bukan bisa membimbing Intan saja, tapi banyak yang lain-lain juga kita bantu. Dan kita senang sekali kalau bisa membuat seorang anak yang tadinya diangap oleh orang tuanya nggak bisa apa-apa, tapi akhirnya bisa berbuat banyak. Itu sesuatu yang rasanya nggak bisa dibayar dengan uang. Dan jelas bahwa itu bukan kemampuan kita. Kita diberikan kekuatan itu oleh Yang Diatas."
Saat ini, Intan menjadi asisten guru tari untuk anak-anak yang menyandang down syndrome, serta mempunyai penghasilan sendiri.
Intan: "Intan berterimakasih sama Tuhan, karena Intan punya mama papa yang membantu Intan percaya diri."
1 Korintus 15:10, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Intan Sartika - Maisi Wiryadi ]
~ KESAKSIAN KENJI MICHITAKASAGO:
"BOCAH PENUH PENDERITAAN" ~
Awalnya Kenji Michitakasago cukup bangga memiliki seorang papa yang asli Jepang. Setahun dua tahun, ia bersama keluarganya merasakan kebahagiaan, kasih sayang dari orang tua, dan bahagia sekali. Tapi sejak kehadiran orang ketiga, sikap papa Kenji menjadi berbeda sekali. Bahkan penyiksaan-penyiksaan yang tidak mereka sangka, itu bisa terjadi.
Bujuk rayu dari wanita selingkuhan itu membutakan hati ayah Kenji. Ia tega melakukan perbuatan yang kejam kepada Kenji dan Akira, adik Kenji. Pernah ketika Kenji dan Akira mengganggu ayah Kenji bersama wanita selingkuhannya, ayah Kenji mengikat Kenji dan Akira lalu menggelindingkan mereka dengan tangga dari lantai atas ke bawah.
“Waktu itu saya berpikir hidup saya hanya sampai disini. Sepanjang saya ditendang bergelinding saya hanya bisa menangis,” kisah Kenji.
Kenji tak menduga bahwa perlakuan sadis papanya belum berakhir. Hingga satu malam peristiwa tak terduga mengejutkannya. Ketika ia beserta adiknya dan mamanya sedang tidur, papanya melemparkan kaleng susu yang terbuka yang berisikan kelabang-kelabang.
“Saya terbangun ketika ibu saya berteriak minta tolong. Ayah saya melemparkan kaleng berisi kelabang itu bermaksud seandainya saja kami bisa dibunuh, jadi orang akan mengira kami mati karena ini. Tapi ternyata sewaktu itu saya merasakan bahwa Tuhan itu menjaga kami. Dan papa dengan santainya mengambil baju lalu pergi tidak terjadi apa-apa. Jadi kami seperti dianggap seakan-akan kami palingan akan mati. Ia tidak merasakan apa-apa jika istri dan anak-anaknya mati. Ia tidak meninggalkan uang atau apa-apa, setelah itu ia hanya mengangkut baju lalu pergi,” kisah Kenji.
TINGGAL BERSAMA PAPA TIRI.
Dikarenakan tak sanggup menanggung beban yang menindih hidupnya, Kenji bersama mama dan adiknya merantau ke Jakarta dan mencoba hidup yang baru. Di Jakarta Kenji dikenalkan dengan seorang pria yang akan menjadi ayah tirinya.
Kenji MichitakasagoKenji berkisah, “Hubungan papa tiri dengan saya dari awal sudah tidak baik semenjak bertemu. Suatu ketika ketika subuh saya dibangunkan untuk menyiapkan makanan untuk dia, dan saya tidak bangun. Kemudian dia tendang saya, dia menyeret saya keluar dari kamar dan saya diikat. Mama saya tidak bisa menolong, dan hanya bisa diam saja. Dan ia hanya bisa menangis. Saya cuma merasa ketakutan sekali. Saya memikirkan ayah saya dan berpikir, ‘Kalau boleh papa saya tuh mati.’
Perihnya pukulan dan aniaya dari ayah tirinya membuat Kenji memutuskan untuk meninggalkan rumahnya.
“Waktu saya di jalan, saya tidurnya di kolong jembatan, di stasiun rel kereta api, di pinggir jalan… Itu menjadi tempat tidur saya,” kisah Kenji.
Kenji ingin bekerja dengan keringatnya, dengan halal, meskipun ia harus menyemir sepatu di jalan. “Dan waktu itu saya tidak berpikiran dengan uang yang berkelimpahan. Saya hanya berpikir saya mau merasakan tidak ada lagi orang yang menyiksa saya. Dan saya juga bisa bermain game, di tempat mainan ding-dong, dengan uang mainan saya sendiri tanpa penyiksaan dari ayah tiri saya. Itu yang saya cari di jalan.”
Di jalanan saya mulai berani menawarkan diri untuk menyemir sepatu orang. Itu yang Kenji lakukan hari demi hari. Hingga suatu ketika Kenji bertemu dengan seorang pelanggan dimana ketika ia membayar tetapi Kenji tidak memiliki kembalian karena orang itu adalah pelanggan pertamanya di hari itu. Lagi-lagi Kenji menemukan siksaan. Pelanggan itu menganggap Kenji berbohong lalu mengusir Kenji dengan menendangnya.
“Akhirnya saya jalan tanpa hasil uang yang seharusnya saya dapat. Selagi jalan saya merenungi nasib saya – “Kenapa kok penyiksaan ini datang lagi?” Di sepanjang jalan saya menangis. Saya bilang hidup saya itu seperti tidak ada artinya,” kisah Kenji.
Penderitaan yang dialami Kenji seakan tak akan pernah berakhir. Ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Disiksa oleh ayah tirinya. Hingga membuatnya memilih tinggal di jalan. Kenji merasakan bahwa hidupnya seakan tidak ada artinya lagi.
“Ketika berjalan di pinggir jalan tuh ingin bunuh diri. Saya merasa kaki saya berat sekali untuk melangkah ke tengah jalan itu. Saya tidak tahu kenapa…” kisah Kenji tentang percobaan bunuh dirinya yang ia ingin lakukan ketika berusia 9 tahun.
Tinggal bersama tante, apakah kehidupanku akan berubah?
Selepas dari percobaan bunuh diri itu, Kenji diajak tinggal bersama dengan tantenya. Namun ia tak pernah menyangka akan apa yang harus ia hadapi di sana.
Kenji Michitakasago“Waktu itu kebetulan tante saya pergi ke luar kota selama 3 hari. Dan waktu itu, anak-anak tante saya itu menyiksa saya. Mereka menyuruh saya menyeterika seragam sekolah mereka. Jika saya tidak lakukan apa yang mereka suruh, mereka akan menyeterika tangan saya. Setelah saya diseterika, mereka memperlakukan saya seperti binatang juga. Saya dimasukin di kandang anjing herder dan saya disuruh tidur disana bersama dengan adik saya. Disitu saya merasakan seperti binatang. Saya dijadikan satu dengan anjing, tidur disana, makannya disana, dan buang air juga disana,” kisah Kenji menceritakan bagaimana ia mendapati siksaan juga di tempat tinggalnya yang baru.
Saudara-saudaranya melakukan itu semua dikarenakan sirik dengan perlakuan tantenya. Jadi saudaranya melakukan itu agar Kenji dan adiknya tidak betah di rumah. Terus siksaan itu Kenji alami dan mereka juga mengancam Kenji agar tidak menceritakan hal tersebut kepada mami mereka atau tante dari Kenji.
TERKATUNG-KATUNG MENJADI ANAK JALANAN.
“Suatu ketika akhirnya saya tidak tahan dan saya ngomong ama tante. Akhirnya tante emosi dan menghajar anak-anaknya. Setelah tante itu menghajar anak-anaknya, saya kabur, dan kembali lagi ke jalan,” kisah Kenji.
Saat kembali ke jalanan, Akira, adik Kenji, memutuskan untuk berpisah dengan Kenji. Kenji tak bisa berbuat apa-apa.
“Saya sempat sedih juga… Kenapa saya harus berpisah dengan adik saya padahal saya sudah berpisah dengan papa. Kenapa Tuhan itu jahat? Kenapa Tuhan itu tidak ada ketika saya mengalami penyiksaan begitu luar biasa, Tuhan itu tidak menolong saya… Hanya diam. Kenapa Tuhan seperti itu? Tidak ada Tuhan. Saya tidak bisa merasakan yang namanya Tuhan.”
Hingga suatu hari Kenji belum makan selama dua hari karena belum mendapatkan pelanggan. Ia berdiri di depan rumah makan cepat saji dan memandangi sebuah keluarga yang begitu harmonis memakan makanan bersama. Kenji merasakan kerinduan menginginkan keluarga seperti yang ia lihat. Kenji hanya termenung saja dan terdiam. Setelah keluarga keluar sehabis makan, Kenji masuk dan memunguti tulang-tulang sisa makanan mereka. Ketika Kenji mengambil sisa makanan itu, ia dikejar sekuriti.
“Waktu saya dikejar sekuriti saya lari dan berpikir saya mungkin akan ditangkap dan dipukuli lagi. Saya coba terus lari dan membawa tulang ayam yang saya dapatkan. Sampai di tempat yang aman, saya melanjutkan memakan makanan itu. Di situ saya merasa hancur. Kenapa penderitaan ini rasanya terus terjadi lagi tak habis-habis. Saya harus memakan makanan sisa orang. Saya hanya bingung dan saya menikmati makanan tulang ayam itu selayaknya orang makan,” Kenji berkisah sambil menitikkan air mata.
Kehidupan di jalanan yang keras harus ia jalani selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya.
Aon SantosoSeorang pria bernama Aon Santoso yang sedang dalam perjalanan menuju pelayanan. Ia melihat Kenji dan hanya berpikir mungkin Kenji hanya seorang anak nakal yang ingin bermain di jalan sampai malam dan belum pulang.
“Setelah satu minggu saya telusuri dia, dia bercerita. Dua hari… satu malam… anak sembilan tahun untuk mengisi perut dengan tulang-tulang ayam bekas orang. Sebagai pelayan Tuhan saya bergumul dan akhirnya saya putuskan untuk membawa dia pulang,” kisah Aon Santoso mengenai terbebannya hatinya melihat keadaan Kenji.
PERUBAHAN HIDUP MENGENAL TUHAN.
Kenji pun berkisah mengenai perubahan hidupnya semenjak mengenal Ko Aon, “Perlahan-lahan kehidupan baik luka batin saya dan segala sesuatu yang saya alami semenjak masa kecil saya… Itu dipulihkan. Saya sepenuhnya mengampuni mama saya, papa tiri saya bahkan papa kandung begitu juga dengan saudara-saudara yang pernah menyiksa saya. Mulailah saya mengenal Tuhan yang sesungguhnya, bahwa Tuhan itu ada. Dan Tuhan itu tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan apapun.”
Suatu ketika Kenji memainkan kibord di rumah ko Aon dan ternyata Kenji memiliki bakat untuk bermain kibord.
“Sewaktu itu Kenji tidak mempunyai kepercayaan diri,” kata Aon. Tetapi karena Kenji ingin untuk belajar memainkan kibord, meskipun biaya belajar alat musik kibord cukup mahal… Kenji akhirnya pun giat belajar memainkan kibord.
Dengan talenta yang dimilikinya, Kenji mengalami kemajuan pesat. Kasih karunia Tuhan menyertai Kenji hingga ia dapat menyelesaikan album pertamanya.
“Saya berjumpa dengan Tuhan, saya bisa berubah drastis, karena saya diberikan kedamaian di hati. Suatu sukacita. Saya juga bisa melayani orang-orang yang membutuhkan kasih sayang. Di situ saya merasakan bahwa hidup saya berarti dan saya bisa menjadi berkat buat orang,” kisah Kenji mengenai perubahan hidupnya yang drastis setelah mengenal Tuhan.
Kehidupan Kenji pun diubahkan saat ia menemukan kasih sejati dari Tuhan Yesus.
“Perbedaan hidup saya dahulu itu… gelap dan kelam. Tetapi setelah saya mengenal Tuhan dan mencari jalan keselamatan, hidup saya itu cerah… ceria… dan senang sekali.”
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Kenji Michitakasago ]
~ KESAKSIAN RINI WIRAWAN:
"ANAKKU ADALAH ANUGERAH TUHAN" ~
Rini Wirawan adalah seorang yang diberkati Tuhan. Bagaimana tidak, Rini mempunyai keluarga yang harmonis, bahkan segala keinginannya diberikan Tuhan kepadanya. Mulai dari diterimanya dia di univesitas terkenal, bisa bekerja di perusahaan yang terkenal, hingga memiliki suami yang sangat baik. Menurutnya, apa yang dia inginkan, pasti dapat.
Hingga pada suatu ketika datanglah sebuah ujian di dalam kehidupan keluarganya. Rendi, anak pertama dari Rini dan suaminya yang pada awalnya lahir normal menderita autis. Mengetahui hal ini, Rini merasa seperti disambar petir di siang bolong.
“Memang yang pertama kali terpikir berarti anak saya tidak normal. Jadi apa yang harus saya lakukan karena saya tidak tahu harus melakukan apa? Perasaan saya pada saat itu sangatlah sedih.” ungkap Rini.
Namun, Rini tetap berusaha memperlakukan Rendi sebagai anak yang normal dan memasukkannya ke sekolah umum, meski harus menanggung resiko, yakni malu. Menurut Rini, kelakuan Rendi di sekolah waktu kecil memang berbeda dari anak-anak normal lainnya. Ketika anak-anak lain bernyanyi, Rendi malah naik ke meja. Bosan naik ke meja, dia lantas turun ke bawah (lantai), dia melentangkan badannya ke lantai dan menggerak-gerakkan badannya seperti mengepel. Lebih parahnya lagi, Rendi sering menjerit bila dipegang oleh gurunya agar membuatnya tenang.
Sudah cukup dipusingkan dengan perilaku Rendi, Rini menghadapi kenyataan adanya perubahan yang cukup signifikan antara dia dan suaminya. Suami Rini yang terkesan lebih santai, sedangkan dia adalah begitu panik membuat keduanya seringkali berselisih paham. Hingga diakui oleh Rini, pada masa itu, hubungannya dengan suami agak renggang.
Rini tidak mau menyerah pada kenyataan, segala usaha tetap diupayakan demi kesembuhan Rendi. Telah banyak waktu dan biaya yang dihabiskan, namun belum juga ada perubahan yang berarti.
“Pada saat berusia 5 tahun, dia belum berbicara juga. Awal kan saya lakukan dengan terapi, terapi, terapi” kata Rini menjelaskan perkembangan anaknya pada waktu itu.
Rini mulai putus asa, namun saat tampak tidak ada pengharapan lagi. Sebuah seminar mempertemukannya dengan seseorang yang membukakan pola pikir yang baru baginya. Rini berbicara dengan orang tersebut mengenai apa yang dialaminya. Saat dia mulai memperlihatkan keputusasannya, orang tersebut malah memberikan kata-kata penguatan bagi Rini. Orang tersebut mengatakan bahwa dia seharusnya bersyukur karena Tuhan memberikan kepercayaan dari Tuhan merawat anaknya dan tidak banyak orang yang dipercayakan seperti itu oleh Tuhan. Mendengar hal itu, keyakinan Rini kepada Tuhan kembali tumbuh.
Keyakinan Rini kepada Tuhan yang semakin kuat membuat dirinya tidak berhenti berdoa kepada Tuhan bagi anaknya. Rini berkata kepada Tuhan, agar memberikan panjang umur supaya dia bisa menjaga anaknya dan melihatnya hidup mandiri. Dan mukjizat pun terjadi.
Perkembangan Rendi semakin lama semakin luar biasa padahal menurut medis, dia tidak akan mengalami perubahan (stagnan). Rendi yang sekarang ini duduk di kelas 5 SD, menurut Rini merupakan anak yang cerdas. Terbukti dari nilai pelajaran yang diterimanya di sekolah, Rendi merupakan siswa dengan nilai kedua terbesar di kelas. Rini percaya hal itu dapat terjadi karena dia berserah kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya setiap hari.
Rini mengakui kehadiran Rendi membuatnya menjadi orang yang berusaha hidup dalam jalan-jalan Tuhan. Dia merasa apa yang akan diambilnya, ia harus mempertimbangkan dengan matang, apakah dia berada di jalan Tuhan atau bukan.
“Rendi sayang sama papa dan mama. Rendi sayang mama karena mama suka membantu saya belajar. Rendi sayang sama Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus sudah memberkati kita.” ujar Rendi. “Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah memberkati kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami telah berdoa. Amin. ” doa yang dinaikkan Rendi kepada Tuhan dengan sedikit terbata-bata.
“Saya sangat berterima kasih sekali bahwa Tuhan memberikan kepada saya dan mempercayakan kepada Rendi kepada saya. Saya merasa terpilih sama Tuhan dan memberikan kesempatan saya untuk bisa menunjukkan bahwa saya mampu” kata Rini mengakhiri kesaksiannya.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Rini Wirawan ]
Langganan:
Postingan (Atom)