Selasa, 10 Juli 2012
~ KESAKSIAN TABITA WULANDARI:
"RANCANGAN DAMAI SEJAHTERA TUHAN BAGI TABITA" ~
Tabita lahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya hanyalah seorang penjahit kecil di Magelang. Untuk menopang ekonomi keluarga ibunya juga harus membantu ayahnya dengan berjualan di warung.
Karena ditipu oleh orang. Orangtua Tanhita terbelit oleh hutang yang akhirnya membawa mereka ke jurang kemiskinan. Setiap harinya datang penagih hutang dan mau tidak mau Tabita harus berbohong kepada mereka. Jika datang para penagih hutang maka ibu atau ayahnya akan sembunyi di bawah kolong meja atau sembunyi di kamar mandi, dan kejadian itu berlangsung lama. Bahkan untuk melunasi hutang tersebut kedua orangtuanya pernah berniat menjual ginjalnya, namun uhan tidak mengijinkannya. Ketika ada peminat, golongan darah mereka tidak ada yang cocok.
Tabita anak ke-2 dari 5 bersaudara. Dengan keadaan demikian, untuk kehidupan sehari-hari dan membayar biaya sekolah mereka harus menghadapi pergumulan yang berat. Hal itu semakin dirasakan ketika ia memasuki bangku SMP. Saat itu mereka sampai tidak bisa membayar uang sekolah. Namun Tabita tergolong anak yang memiliki prestasi di atas rata-rata di sekolahnya, sehingga ia mendapat beasiswa sampai lulus SMA.
Mengenal Tuhan Yesus secara pribadi
Ketika masa tenggang waktu kelulusan SMA menuju perguruan tinggi, seorang temannya memberikan Tabita sebuah buku yang menjadi momentum awal proses kelahiran barunya.
Buku itu menceritakan tentang kesaksian seorang anak Tuhan di Jepang yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang-orang di dalam kereta api. Buku itu begitu menyentuh hatinya. Saat itu ia menangis merasakan jamahan Tuhan di dalam hidupnya untuk pertama kalinya.
Saat itu juga ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan apapun panggilan Tuhan di dalam hidupnya. Doanya, “Tuhan, aku mau Engkau pakai aku jadi hambaMu.” Saat itu ia memutuskan untuk masuk sekolah Alkitab. Namun Tuhan punya rencana lain di dalam hidupnya. Pendaftaran di sekolah itu sudah ditutup. Tabitapun menangis dan bertanya apa maksud Tuhan dibalik semua ini.
Kuliah karena mukjizat
Suatu hari seorang teman ayahnya dari Jogya datang ke Magelang untuk mengunjungi keluarga mereka. Di situ mereka sharing mengenai apa yang mereka alami hari-hari ini. Akhirnya sahabat ayahnya itu mengajak Tabita ke Jogya untuk ikut tes UMPTN.
Puji Tuhan, Tabita diterima di FISIP UGM tahun 1994. Namun keluarganya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan studinya. Di situ Tabita menangis lagi di kaki Tuhan supaya Tuhan buka jalan. Oleh kemurahan Tuhan, sahabat ayahnya itu menolong keluarga ini untuk membayar biaya pendaftaran supaya Tabita dapat meneruskan studinya ke perguruan tinggi.
Di kampus inilah Tabita bertemu dengan kakak rohaninya yang membimbingnya untuk lahir baru dan kemudian ikut di dalam pemuridan di persekutuan kampus Maranatha yang dikomandoi oleh Eriel Siregar (eks-host SOLUSI).
Tiga tahun setengah Tabita hidup dari satu mukjizat ke mukjizat lainnya. Ia hidup dan kuliah dari ketidakmampuan orangtuanya untuk membiayainya. Satu bulan sebelum wisuda, Tabita diterima bekerja sebagai tenaga accounting merangkap sekretaris di sebuah diskotek di Jogya. Bidang pekerjaan yang berbeda dengan ilmu yang dipelajarinya sewaktu kuliah. Tabita tidak pernah memiliki tabungan. Karena hidupnya dari hari ke hari sangat bergantung kepada pemeliharaan Tuhan.
“Hidup saya bergantung kepada Tuhan seperti bergantung pada selembar benang. Kalau bukan pertolongan Tuhan, tidak tahu bagaimana hidup saya.” Di diskotek itu Tabita dianggap orang aneh karena gaya hidupnya tidak seperti mereka. Mereka bilang Tabita salah masuk kerja di sini. Meskipun kerja di tempat yang dianggap orang negative, tapi Tabita hidup benar dan tidak mau neko-neko karena tujuan utamanya adalah menghidupi keluarganya.
Pencobaan demi pecobaan dihadapi Tabita
Setelah tiga belas bulan bekerja di diskotek tersebut, Tabita dihadapkan pada pergumulan yang berat. Ibunya harus masuk penjara selama 6 bulan dengan tuduhan Kristenisasi. Sedangkan ibunya menjadi salah satu tulang punggung keluarga berhubung ayahnya suka ditipu ketika bekerja atau mencoba membuka usaha kecil-kecilan.
Waktu itu adik-adik dan kakak Tabita semuanya masih sekolah dan sedang kuliah. Hanya Tabita sendiri yang sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Ketika mendengar berita itu Tabita menangis karena begitu berat beban yang harus ditanggungnya. Dialah yang harus menggantikan peran ibunya di dalam menghidupi keluarganya. Sementara keluarganya memiliki banyak hutang yang harus segera diselesaikan.
Tahun 1998, suatu hari Tabita melihat ada lowongan di Departemen Tenaga Kerja. Waktu itu Depnaker membuka dua lowongan, yaitu menjadi pekerja pabrik di Malaysia atau menjadi pembantu rumah tangga di Singapura.
Karena pertimbangan mendapatkan penghasilan yang lebih besar, Tabita memilih menjadi pembantu rumah tangga di Singapura. Padahal waktu itu di televisi sedang hangat pemberitaan banyak pembantu rumah tangga asal Indonesia yang mendapat perlakuan kekerasan fisik dan pelecehan seksual. Tabita sempat mengalami ketakutan dan hanya bisa berserah kepada Tuhan. Semua itu dilakukannya demi keluarganya.
Akhirnya Tabita berhenti kerja dan ia diberi uang pesangon. Setelah itu ia masuk masa karantina di Cirebon untuk menunggu diberangkatkan ke Singapura. Tuhan menunjukkan perkenanNya atas Tabita. Baru 5 hari masuk karantina Tabita sudah memiliki majikan. Akhirnya pada hari ke-20, tepat pada tanggal 29 November 1998 Tabita berangkat ke Singapura, sementara calon TKW yang lain harus menunggu berbulan-bulan untuk diberangkatkan.
Saat mau berangkat ke Singapura, Tabita berdoa supaya Tuhan memberikan majikan yang baik. Doanya dijawab Tuhan karena selama bekerja 4 tahun majikannya yang penganut Budha itu memang sangat baik dan memperlakukannya seperti anggota keluarga sendiri.
Selama bekerja 4 tahun di Singapura, setiap bulan Tabita mengirim hampir seluruh gajinya kepada keluarganya di Magelang. Yang ada dipikirannya hanyalah apakah keluarganya masih bisa makan dan adik-adiknya masih bisa sekolah? Bagi Tabita, ia merasa cukup karena setiap hari bisa menikmati makanan yang wajar dan tempat tinggal yang layak di rumah majikannya itu. Tapi bagaimana keluarganya di Magelang? Belum lagi keluarganya memiliki banyak hutang yang harus diselesaikan.
Namun majikannya sangat baik hati. Mereka selalu mengetahui jika Tabita memiliki pergumulan dan beban yang berat. Mereka menjadi sahabatnya dan selalu menguatkan, menghibur serta memberikan kata-kata motivasi agar Tabita kuat menjalani proses hidupnya.
Majikannya memperlakukan Tabita seperti keluarga sendiri. Di dalam keluarga besar dan rekan-rekannya, mereka tidak menganggap Tabita seorang pembantu rumah tangga di keluarga mereka. Bahkan mereka melewati makan malam bersama. Di salah satu sisi Tabita menghadapi pembentukan karakter lewat anak majikannya dan nenek tersebut, tapi di sisi lain ia merasa dihibur dengan kebaikan hati majikannya. Mereka mau memberikan telinga mereka untuk mendengar segala curahan hati Tabita. Selama 4 tahun bekerja di Singapura, ternyata Tuhan mempersiapkan Tabita untuk satu masa di mana ia akan mendapat berkat yang besar di kemudian hari. Tanpa ia sadari selama 4 tahun di Singapura, Tabita menguasai percakapan dalam bahasa Inggris dengan baik. Selain itu ia mendapat banyak pelajaran hidup dari majikannya.
Namun tidak semua harapannya tercapai. Adiknya yang ia support secara finansial untuk kuliah ternyata memilih menikah ketika duduk di semester IV. Uang yang ia kirim kepada orang tuanya setiap bulan ternyata tidak dapat melunasi hutang-hutang keluarganya. Semua yang dilakukannya seakan-akan sia-sia dan tidak menghasilkan apa-apa. Sampai Tabita sendiri tidak dapat melihat gambaran masa depannya itu seperti apa. Akhirnya tepat pada tanggal 29 November 2002 Tabita pulang ke Indonesia.
Tabita dipersiapkan Tuhan
Sampai di Indonesia Tabita melamar ke 5 perusahaan setelah melihat lowongan di koran. Tabita di diterima bekerja di perusahaan direct marketing yaitu PT Arco Prima yang berkantor di Menara Imperium Kuningan. Tabita hanya bekerja selama 2 bulan di tempat ini karena jam kerjanya begitu padat. Ia nyaris tidak punya waktu karena pagi-pagi sudah harus berangkat ke kantor dari tempat tinggalnya di Cijantung ke Kuningan. Begitu juga pulangnya sudah larut malam. Waktu saat teduh dan membaca Alkitabnya ia lakukan di bis. Kemudian ia melamar pekerjaan di tempat lain dan akhirnya diterima bekerja di PT Andi Putra, sebuah perusahaan forwarder di daerah Pangeran Jayakarta. Di perusahaan ini Tabita mendapat gaji lebih tinggi dari karyawan lainnya.
Kerinduan Tabita agar kehidupan keluarganya terangkat tidak pernah padam. Ia mencoba menggugah hati ibunya agar mau pindah ke Jakarta. Karena ibunya bisa membuka warung. Dengan berat hati karena harus meninggalkan suami dan anak-anaknya untuk sementara waktu, akhirnya sang ibupun berangkat ke Jakarta untuk membuka jalan bagi anggota keluarga yang lain di kemudian hari.
Dan Tuhan buka jalan. Akhirnya ada seorang teman Tabita yang mau mengontrakkan kiosnya di daerah Mangga Dua. Namun kendalanya dari mana uang untuk membayar kontrakan tersebut? “Setiap kali ada masalah, pasti Tuhan sedang mau membawa kita ke tempat yang lebih tinggi,” ungkap Tabita. Pimpinannya bersedia membantu Tabita dengan memberikan pinjaman. Namun pada akhirnya pimpinannya berkata bahwa Tabita tidak perlu mengembalikan pinjaman tersebut. Akhirnya Tabita dan ibunya dapat menempati kios sekaligus tempat untuk mereka tinggal. Ketika menempati kios yang baru itu Tabita juga mulai mengajak kakaknya tinggal bersama mereka.
Dari PT Andi Putra, Tabita kemudian memantapkan karirnya di Monash University. Belum lama bekerja di sini, Tabita mendapat kesempatan mendampingi mahasiswa homestay study ke Melbourne, Australia. Sebuah perjalanan yang belum pernah terlintas dipikirannya sebelumnya.
Di dalam hidupnya Tabita memiliki 3 impian, yaitu membangun rumah untuk orang tuanya, membangun panti asuhan dan membangun sebuah gereja di dekatnya. Tuhan mulai mewujudkan impiannya itu. Tuhan menaruh keyakinan di dalam hatinya bahwa tahun 2004 Tuhan akan memberikan keluarga ini sebuah rumah. Dan hal itu diceritakan kepada teman-temannya. Namun tidak semua respon teman-temannya itu baik karena mereka tahu kondisi Tabita yang sebenarnya. Tabita justru memberanikan diri untuk survey rumah di beberapa perumahan. Tabita berdoa, “Tuhan, bagian saya kan mencari rumahnya, bagian Tuhan menyediakan uangnya.”
Mimpi yang mulai digenapi
Suatu hari, Minggu, 29 Agustus 2004 Tabita bersaksi di sebuah gereja (GBI PRJ Kemayoran). Kesaksian ini dia anggap sebagai hadiah ulang tahun buat Tuhan. Di situ Tabita menyaksikan perjalanan hidupnya. Ternyata kesaksiannya diperhatikan oleh seorang pejabat penting di President University. Orang ini memberikan kartu namanya dan menawarkan mungkin mereka bisa bekerja sama. Singkat cerita Tabita diterima bekerja di President University.
Rumah impian, beasiswa untuk pendidikan adik-adiknya dan pelayanan anak-anak menuju visi memiliki panti asuhan sendiri…
Ternyata apa yang menjadi impian Tabita selama ini mulai menjadi kenyataan. Dengan diterimanya Tabita sebagai manajer marketing di President University, otomatis ia harus pindah ke Cikarang. Dalam waktu bersamaan Tuhan sudah menyediakan sebuah rumah yang Dia janjikan. Tabita jatuh hati pada sebuah rumah yang ada di samping sungai. Ia sudah membayangkan di situ ia nanti akan mendirikan sebuah panti asuhan dan sebuah gereja kecil. Rumah itu kebetulan hendak dipindah tangankan oleh pemiliknya dan dihargai sebesar Rp.35 juta.
Namun dari mana dapat uang sebesar itu? Setelah melewati pergumulan Puji Tuhan, dengan tabungan yang ada ditambah dengan berkat yang dikasih oleh teman-temannya yang tahu Tabita membutuhkan tambahan uang untuk membeli rumah, akhirnya mereka dapat menempati rumah itu tepat 19 Desember 2004. Sejak saat itu orang tuanya dan saudara-saudaranya dapat berkumpul bersama kembali di rumah impian hadiah dari Tuhan.
Kemurahan dan perkenanan Tuhan tidak hanya sampai di situ. Kedua adik Tabita mendapatkan pendidikan yang terbaik di President University karena mereka memiliki prestasi yang baik. Kedua adiknya mendapat beasiswa dan pelajaran standar international di sekolah tersebut.
Impian Tabita untuk mendirikan panti asuhan telah dimulainya dengan mengajar anak-anak kampung di dekat rumahnya itu setiap hari Minggu sore. Tabita mengumpulkan mereka di depan halaman rumahnya. Mereka diajar membaca, menulis, menyanyi dan hidup sehat. Bahkan anak-anak yang diasuhnya itu sudah pernah tampil di depan Presiden SBY sewaktu berkunjung ke President University.
Tabita Wulandari, hidupnya kini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Seorang wanita tegar yang tidak hanya berani bermimpi. Akan tetapi berani berjuang sampai mimpi tersebut layak untuk dihidupi.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
Sumber : LIFE TV
~ KESAKSIAN INTAN SARTIKA:
"DOWN SYNDROME, PINTU ANUGERAH" ~
Nama saya Intan Sartika. Umur saya 23 tahun. Saya penyandang down syndrome.
Intan Sartika adalah putri bungsu keluarga Januar Tasman dan Maisi Wiryadi. Sebagai penyandang down syndrome, Intan memiliki keistimewaan tersendiri diantara penyandang down syndrome pada umumnya.
Maisi (ibu): "Saya terkejut kenapa saya bisa dapat anak down syndrome. Tapi saya serahkan diri saya pada Tuhan. Saya bilang sama Tuhan “Tuhan, terimakasih Engkau mempercayakan anak ini kepada saya, saya akan berbuat semaksimal mungkin. Tapi Tuhan, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Berilah Roh KudusMu kepada saya”. Kalau saya bawa Intan ada yang bilang “Kamu nggak malu yah, bawa anak ini?”. Pokoknya macam-macam cara orang melihat Intan karena face-nya nggak bagus, ya…jadi banyak yang ngeliatin dari atas sampai bawah. Sedih sih hati, tapi saya cuek aja dah….Saya percaya Tuhan mengirim Intan ini ada maksudnya."
Maisi adalah seorang dokter gigi yang sudah mapan pada waktu itu. Tapi ia memilih untuk meninggalkan profesinya supaya bisa lebih konsentrasi dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada pendidikan Intan. Maisi dan suaminya harus berjuang mengumpulkan informasi tentang down syndrome.
Maisi: "Waktu itu masih langka sekali, dokter-dokterpun tidak begitu tahu apa yang mesti saya perbuat. Tapi saya banyak mendapat dukungan dari satu dokter, yang mengatakan “Ibu, harus kreatif!”. Jadi saya baca buku-buku."
Melalui buku-buku tersebut, Maisi dan suaminya banyak belajar tentang bagaimana mendidik Intan.
Maisi: "Saya memperlakukan Intan seperti anak normal. Saya suka bilang “Intan, nih, mama lagi ngapain, nih?”. Jadi saya taruh dia di box, walau saya masak atau bebenah, dia lihat. Karena anak down syndrome tidak bisa yang abstrak. Umur 8 bulan dia mulai saya ajar ngomong. Aduh, saya sampai nangis setengah mati. Kata kan begitu banyak, gimana nih cara ngajarinnya? Saya nggak tahu darimana itu, pasti itu Tuhan yang memberi kekuatan kepada saya. Ternyata anak ini bisa nyerocos."
Januar (ayah): "Dengan kita menganggap bahwa tiap anak punya potensi, ya yang kita mau gali ya potensinya, gitu. Dari kecil keliatan kalau dia senang musik. Akhirnya kita kasih kesempatan. Kita belikan CD, kita belikan karaoke, sehingga benar-benar ia ekspresikan dirinya."
Kerja keras dan perhatian penuh dari orang tua, membuat pertumbuhan Intan berkembang pesat. Seperti anak normal lain, Intan mampu mengerjakan pekerjaan rumah serta memiliki beberapa ketrampilan lainnya.
Januar: "Ini semua kan kita nggak pengalaman, nggak tahu, nggak dididik. Tapi itu semua seolah-olah ada tuntunan Tuhan. Bahwa kita musti begini, begitu. Dalam mencari informasi dan mencari orang pun seolah ada yang menuntun. Kita nggak tahu, tiba-tiba bisa ketemu orang yang bisa memberikan buku, dll. Jadi dari situlah kita rasakan dan harus kita akui bahwa kita ini nggak ada apa-apanya, nggak ada artinya, kalau Tuhan tidak mau membantu kita."
Kehadiran Intan mendorong Maisi bersama beberapa teman mendirikan sekolah DIAN GRAHITA, sebuah sekolah khusus bagi penyandang down syndrome. April 1999, Maisi kemudian membentuk Ikatan Sindroma Down Indonesia. Melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan, ISDI mengangkat anak-anak penyandang down syndrome untuk mulai berprestasi di dunia internasional.
Januar: "Jadi kita melihat bahwa ini semua karunia Tuhan. Jadi bukannya beban yang Tuhan berikan kepada kami, kita juga merasa bangga bahwa kita bukan bisa membimbing Intan saja, tapi banyak yang lain-lain juga kita bantu. Dan kita senang sekali kalau bisa membuat seorang anak yang tadinya diangap oleh orang tuanya nggak bisa apa-apa, tapi akhirnya bisa berbuat banyak. Itu sesuatu yang rasanya nggak bisa dibayar dengan uang. Dan jelas bahwa itu bukan kemampuan kita. Kita diberikan kekuatan itu oleh Yang Diatas."
Saat ini, Intan menjadi asisten guru tari untuk anak-anak yang menyandang down syndrome, serta mempunyai penghasilan sendiri.
Intan: "Intan berterimakasih sama Tuhan, karena Intan punya mama papa yang membantu Intan percaya diri."
1 Korintus 15:10, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku”.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Intan Sartika - Maisi Wiryadi ]
~ KESAKSIAN KENJI MICHITAKASAGO:
"BOCAH PENUH PENDERITAAN" ~
Awalnya Kenji Michitakasago cukup bangga memiliki seorang papa yang asli Jepang. Setahun dua tahun, ia bersama keluarganya merasakan kebahagiaan, kasih sayang dari orang tua, dan bahagia sekali. Tapi sejak kehadiran orang ketiga, sikap papa Kenji menjadi berbeda sekali. Bahkan penyiksaan-penyiksaan yang tidak mereka sangka, itu bisa terjadi.
Bujuk rayu dari wanita selingkuhan itu membutakan hati ayah Kenji. Ia tega melakukan perbuatan yang kejam kepada Kenji dan Akira, adik Kenji. Pernah ketika Kenji dan Akira mengganggu ayah Kenji bersama wanita selingkuhannya, ayah Kenji mengikat Kenji dan Akira lalu menggelindingkan mereka dengan tangga dari lantai atas ke bawah.
“Waktu itu saya berpikir hidup saya hanya sampai disini. Sepanjang saya ditendang bergelinding saya hanya bisa menangis,” kisah Kenji.
Kenji tak menduga bahwa perlakuan sadis papanya belum berakhir. Hingga satu malam peristiwa tak terduga mengejutkannya. Ketika ia beserta adiknya dan mamanya sedang tidur, papanya melemparkan kaleng susu yang terbuka yang berisikan kelabang-kelabang.
“Saya terbangun ketika ibu saya berteriak minta tolong. Ayah saya melemparkan kaleng berisi kelabang itu bermaksud seandainya saja kami bisa dibunuh, jadi orang akan mengira kami mati karena ini. Tapi ternyata sewaktu itu saya merasakan bahwa Tuhan itu menjaga kami. Dan papa dengan santainya mengambil baju lalu pergi tidak terjadi apa-apa. Jadi kami seperti dianggap seakan-akan kami palingan akan mati. Ia tidak merasakan apa-apa jika istri dan anak-anaknya mati. Ia tidak meninggalkan uang atau apa-apa, setelah itu ia hanya mengangkut baju lalu pergi,” kisah Kenji.
TINGGAL BERSAMA PAPA TIRI.
Dikarenakan tak sanggup menanggung beban yang menindih hidupnya, Kenji bersama mama dan adiknya merantau ke Jakarta dan mencoba hidup yang baru. Di Jakarta Kenji dikenalkan dengan seorang pria yang akan menjadi ayah tirinya.
Kenji MichitakasagoKenji berkisah, “Hubungan papa tiri dengan saya dari awal sudah tidak baik semenjak bertemu. Suatu ketika ketika subuh saya dibangunkan untuk menyiapkan makanan untuk dia, dan saya tidak bangun. Kemudian dia tendang saya, dia menyeret saya keluar dari kamar dan saya diikat. Mama saya tidak bisa menolong, dan hanya bisa diam saja. Dan ia hanya bisa menangis. Saya cuma merasa ketakutan sekali. Saya memikirkan ayah saya dan berpikir, ‘Kalau boleh papa saya tuh mati.’
Perihnya pukulan dan aniaya dari ayah tirinya membuat Kenji memutuskan untuk meninggalkan rumahnya.
“Waktu saya di jalan, saya tidurnya di kolong jembatan, di stasiun rel kereta api, di pinggir jalan… Itu menjadi tempat tidur saya,” kisah Kenji.
Kenji ingin bekerja dengan keringatnya, dengan halal, meskipun ia harus menyemir sepatu di jalan. “Dan waktu itu saya tidak berpikiran dengan uang yang berkelimpahan. Saya hanya berpikir saya mau merasakan tidak ada lagi orang yang menyiksa saya. Dan saya juga bisa bermain game, di tempat mainan ding-dong, dengan uang mainan saya sendiri tanpa penyiksaan dari ayah tiri saya. Itu yang saya cari di jalan.”
Di jalanan saya mulai berani menawarkan diri untuk menyemir sepatu orang. Itu yang Kenji lakukan hari demi hari. Hingga suatu ketika Kenji bertemu dengan seorang pelanggan dimana ketika ia membayar tetapi Kenji tidak memiliki kembalian karena orang itu adalah pelanggan pertamanya di hari itu. Lagi-lagi Kenji menemukan siksaan. Pelanggan itu menganggap Kenji berbohong lalu mengusir Kenji dengan menendangnya.
“Akhirnya saya jalan tanpa hasil uang yang seharusnya saya dapat. Selagi jalan saya merenungi nasib saya – “Kenapa kok penyiksaan ini datang lagi?” Di sepanjang jalan saya menangis. Saya bilang hidup saya itu seperti tidak ada artinya,” kisah Kenji.
Penderitaan yang dialami Kenji seakan tak akan pernah berakhir. Ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Disiksa oleh ayah tirinya. Hingga membuatnya memilih tinggal di jalan. Kenji merasakan bahwa hidupnya seakan tidak ada artinya lagi.
“Ketika berjalan di pinggir jalan tuh ingin bunuh diri. Saya merasa kaki saya berat sekali untuk melangkah ke tengah jalan itu. Saya tidak tahu kenapa…” kisah Kenji tentang percobaan bunuh dirinya yang ia ingin lakukan ketika berusia 9 tahun.
Tinggal bersama tante, apakah kehidupanku akan berubah?
Selepas dari percobaan bunuh diri itu, Kenji diajak tinggal bersama dengan tantenya. Namun ia tak pernah menyangka akan apa yang harus ia hadapi di sana.
Kenji Michitakasago“Waktu itu kebetulan tante saya pergi ke luar kota selama 3 hari. Dan waktu itu, anak-anak tante saya itu menyiksa saya. Mereka menyuruh saya menyeterika seragam sekolah mereka. Jika saya tidak lakukan apa yang mereka suruh, mereka akan menyeterika tangan saya. Setelah saya diseterika, mereka memperlakukan saya seperti binatang juga. Saya dimasukin di kandang anjing herder dan saya disuruh tidur disana bersama dengan adik saya. Disitu saya merasakan seperti binatang. Saya dijadikan satu dengan anjing, tidur disana, makannya disana, dan buang air juga disana,” kisah Kenji menceritakan bagaimana ia mendapati siksaan juga di tempat tinggalnya yang baru.
Saudara-saudaranya melakukan itu semua dikarenakan sirik dengan perlakuan tantenya. Jadi saudaranya melakukan itu agar Kenji dan adiknya tidak betah di rumah. Terus siksaan itu Kenji alami dan mereka juga mengancam Kenji agar tidak menceritakan hal tersebut kepada mami mereka atau tante dari Kenji.
TERKATUNG-KATUNG MENJADI ANAK JALANAN.
“Suatu ketika akhirnya saya tidak tahan dan saya ngomong ama tante. Akhirnya tante emosi dan menghajar anak-anaknya. Setelah tante itu menghajar anak-anaknya, saya kabur, dan kembali lagi ke jalan,” kisah Kenji.
Saat kembali ke jalanan, Akira, adik Kenji, memutuskan untuk berpisah dengan Kenji. Kenji tak bisa berbuat apa-apa.
“Saya sempat sedih juga… Kenapa saya harus berpisah dengan adik saya padahal saya sudah berpisah dengan papa. Kenapa Tuhan itu jahat? Kenapa Tuhan itu tidak ada ketika saya mengalami penyiksaan begitu luar biasa, Tuhan itu tidak menolong saya… Hanya diam. Kenapa Tuhan seperti itu? Tidak ada Tuhan. Saya tidak bisa merasakan yang namanya Tuhan.”
Hingga suatu hari Kenji belum makan selama dua hari karena belum mendapatkan pelanggan. Ia berdiri di depan rumah makan cepat saji dan memandangi sebuah keluarga yang begitu harmonis memakan makanan bersama. Kenji merasakan kerinduan menginginkan keluarga seperti yang ia lihat. Kenji hanya termenung saja dan terdiam. Setelah keluarga keluar sehabis makan, Kenji masuk dan memunguti tulang-tulang sisa makanan mereka. Ketika Kenji mengambil sisa makanan itu, ia dikejar sekuriti.
“Waktu saya dikejar sekuriti saya lari dan berpikir saya mungkin akan ditangkap dan dipukuli lagi. Saya coba terus lari dan membawa tulang ayam yang saya dapatkan. Sampai di tempat yang aman, saya melanjutkan memakan makanan itu. Di situ saya merasa hancur. Kenapa penderitaan ini rasanya terus terjadi lagi tak habis-habis. Saya harus memakan makanan sisa orang. Saya hanya bingung dan saya menikmati makanan tulang ayam itu selayaknya orang makan,” Kenji berkisah sambil menitikkan air mata.
Kehidupan di jalanan yang keras harus ia jalani selama bertahun-tahun. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang akan mengubah hidupnya.
Aon SantosoSeorang pria bernama Aon Santoso yang sedang dalam perjalanan menuju pelayanan. Ia melihat Kenji dan hanya berpikir mungkin Kenji hanya seorang anak nakal yang ingin bermain di jalan sampai malam dan belum pulang.
“Setelah satu minggu saya telusuri dia, dia bercerita. Dua hari… satu malam… anak sembilan tahun untuk mengisi perut dengan tulang-tulang ayam bekas orang. Sebagai pelayan Tuhan saya bergumul dan akhirnya saya putuskan untuk membawa dia pulang,” kisah Aon Santoso mengenai terbebannya hatinya melihat keadaan Kenji.
PERUBAHAN HIDUP MENGENAL TUHAN.
Kenji pun berkisah mengenai perubahan hidupnya semenjak mengenal Ko Aon, “Perlahan-lahan kehidupan baik luka batin saya dan segala sesuatu yang saya alami semenjak masa kecil saya… Itu dipulihkan. Saya sepenuhnya mengampuni mama saya, papa tiri saya bahkan papa kandung begitu juga dengan saudara-saudara yang pernah menyiksa saya. Mulailah saya mengenal Tuhan yang sesungguhnya, bahwa Tuhan itu ada. Dan Tuhan itu tidak pernah meninggalkan saya dalam keadaan apapun.”
Suatu ketika Kenji memainkan kibord di rumah ko Aon dan ternyata Kenji memiliki bakat untuk bermain kibord.
“Sewaktu itu Kenji tidak mempunyai kepercayaan diri,” kata Aon. Tetapi karena Kenji ingin untuk belajar memainkan kibord, meskipun biaya belajar alat musik kibord cukup mahal… Kenji akhirnya pun giat belajar memainkan kibord.
Dengan talenta yang dimilikinya, Kenji mengalami kemajuan pesat. Kasih karunia Tuhan menyertai Kenji hingga ia dapat menyelesaikan album pertamanya.
“Saya berjumpa dengan Tuhan, saya bisa berubah drastis, karena saya diberikan kedamaian di hati. Suatu sukacita. Saya juga bisa melayani orang-orang yang membutuhkan kasih sayang. Di situ saya merasakan bahwa hidup saya berarti dan saya bisa menjadi berkat buat orang,” kisah Kenji mengenai perubahan hidupnya yang drastis setelah mengenal Tuhan.
Kehidupan Kenji pun diubahkan saat ia menemukan kasih sejati dari Tuhan Yesus.
“Perbedaan hidup saya dahulu itu… gelap dan kelam. Tetapi setelah saya mengenal Tuhan dan mencari jalan keselamatan, hidup saya itu cerah… ceria… dan senang sekali.”
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Kenji Michitakasago ]
~ KESAKSIAN RINI WIRAWAN:
"ANAKKU ADALAH ANUGERAH TUHAN" ~
Rini Wirawan adalah seorang yang diberkati Tuhan. Bagaimana tidak, Rini mempunyai keluarga yang harmonis, bahkan segala keinginannya diberikan Tuhan kepadanya. Mulai dari diterimanya dia di univesitas terkenal, bisa bekerja di perusahaan yang terkenal, hingga memiliki suami yang sangat baik. Menurutnya, apa yang dia inginkan, pasti dapat.
Hingga pada suatu ketika datanglah sebuah ujian di dalam kehidupan keluarganya. Rendi, anak pertama dari Rini dan suaminya yang pada awalnya lahir normal menderita autis. Mengetahui hal ini, Rini merasa seperti disambar petir di siang bolong.
“Memang yang pertama kali terpikir berarti anak saya tidak normal. Jadi apa yang harus saya lakukan karena saya tidak tahu harus melakukan apa? Perasaan saya pada saat itu sangatlah sedih.” ungkap Rini.
Namun, Rini tetap berusaha memperlakukan Rendi sebagai anak yang normal dan memasukkannya ke sekolah umum, meski harus menanggung resiko, yakni malu. Menurut Rini, kelakuan Rendi di sekolah waktu kecil memang berbeda dari anak-anak normal lainnya. Ketika anak-anak lain bernyanyi, Rendi malah naik ke meja. Bosan naik ke meja, dia lantas turun ke bawah (lantai), dia melentangkan badannya ke lantai dan menggerak-gerakkan badannya seperti mengepel. Lebih parahnya lagi, Rendi sering menjerit bila dipegang oleh gurunya agar membuatnya tenang.
Sudah cukup dipusingkan dengan perilaku Rendi, Rini menghadapi kenyataan adanya perubahan yang cukup signifikan antara dia dan suaminya. Suami Rini yang terkesan lebih santai, sedangkan dia adalah begitu panik membuat keduanya seringkali berselisih paham. Hingga diakui oleh Rini, pada masa itu, hubungannya dengan suami agak renggang.
Rini tidak mau menyerah pada kenyataan, segala usaha tetap diupayakan demi kesembuhan Rendi. Telah banyak waktu dan biaya yang dihabiskan, namun belum juga ada perubahan yang berarti.
“Pada saat berusia 5 tahun, dia belum berbicara juga. Awal kan saya lakukan dengan terapi, terapi, terapi” kata Rini menjelaskan perkembangan anaknya pada waktu itu.
Rini mulai putus asa, namun saat tampak tidak ada pengharapan lagi. Sebuah seminar mempertemukannya dengan seseorang yang membukakan pola pikir yang baru baginya. Rini berbicara dengan orang tersebut mengenai apa yang dialaminya. Saat dia mulai memperlihatkan keputusasannya, orang tersebut malah memberikan kata-kata penguatan bagi Rini. Orang tersebut mengatakan bahwa dia seharusnya bersyukur karena Tuhan memberikan kepercayaan dari Tuhan merawat anaknya dan tidak banyak orang yang dipercayakan seperti itu oleh Tuhan. Mendengar hal itu, keyakinan Rini kepada Tuhan kembali tumbuh.
Keyakinan Rini kepada Tuhan yang semakin kuat membuat dirinya tidak berhenti berdoa kepada Tuhan bagi anaknya. Rini berkata kepada Tuhan, agar memberikan panjang umur supaya dia bisa menjaga anaknya dan melihatnya hidup mandiri. Dan mukjizat pun terjadi.
Perkembangan Rendi semakin lama semakin luar biasa padahal menurut medis, dia tidak akan mengalami perubahan (stagnan). Rendi yang sekarang ini duduk di kelas 5 SD, menurut Rini merupakan anak yang cerdas. Terbukti dari nilai pelajaran yang diterimanya di sekolah, Rendi merupakan siswa dengan nilai kedua terbesar di kelas. Rini percaya hal itu dapat terjadi karena dia berserah kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya setiap hari.
Rini mengakui kehadiran Rendi membuatnya menjadi orang yang berusaha hidup dalam jalan-jalan Tuhan. Dia merasa apa yang akan diambilnya, ia harus mempertimbangkan dengan matang, apakah dia berada di jalan Tuhan atau bukan.
“Rendi sayang sama papa dan mama. Rendi sayang mama karena mama suka membantu saya belajar. Rendi sayang sama Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus sudah memberkati kita.” ujar Rendi. “Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah memberkati kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami telah berdoa. Amin. ” doa yang dinaikkan Rendi kepada Tuhan dengan sedikit terbata-bata.
“Saya sangat berterima kasih sekali bahwa Tuhan memberikan kepada saya dan mempercayakan kepada Rendi kepada saya. Saya merasa terpilih sama Tuhan dan memberikan kesempatan saya untuk bisa menunjukkan bahwa saya mampu” kata Rini mengakhiri kesaksiannya.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Rini Wirawan ]
~ KESAKSIAN PROF. IRWANTO:
"MALPRAKTEK MENGUBAH HIDUPKU DALAM SEJAM" ~
Professor Irwanto adalah sesosok pria yang aktif dalam isu-isu sosial, sepert HIV / AIDS, narkoba dan penghapusan seksual komersial anak. Di dalam kondisinya yang cacat, ia dianugerahi penghargaan oleh MURI sebagai Guru Besar Penyandang Cacat pada bidang Kemanusiaan. Namun tahukah Anda bahwa kondisi cacat yang dialaminya adalah akibat dari kasus malpraktek yang berawal dari rasa sakit yang ia rasakan di dadanya?
“Sebelum tidur, saya merasakan dada saya tidak enak rasanya. Seperti ada yang menekan dan mengikat saya. Sebenarnya tidak sakit sekali, tapi seperti ada yang menekan di dada saya,” kisah Irwanto.
Berawal dari rasa sakit inilah, ia pun pergi ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, tanpa diduga, dokter langsung meminta agar Irwanto menjalani pengawasan di ICCU, karena dikuatirkan terjadi sumbatan pada jantungnya.
Semenjak awal, dokter hanya melakukan pembicaraan dengan isteri Irwanto. Kehadiran Irwanto tidak dianggap sama sekali. Tanpa berkonsultasi lansung dengan Irwanto, tindakan medis dilakukan oleh para dokter terhadap Irwanto. Ternyata, cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuhnya akan mengubah hidupnya untuk selama-lamanya.
Tanpa pemeriksaan kondisi klinis lebih lanjut, Irwanto langsung diberikan obat untuk mencairkan darah, koagulan yang namanya streptoginase. Satu jam setelah masuk rumah sakit dan diberikan obat dalam cairan infusnya, Irwanto merasakan sakit yang luar biasa di tengkuknya, lalu terjadi trombose, keluar darah dari gusi-gusi Irwanto dan ia langsung mengalami kelumpuhan.
Irwanto dipenuhi kebingungan, apakah yang dialaminya saat itu nyata atau tidak? Darah terus keluar dari hidung dan mulutnya. Baru beberapa saat yang lalu ia merasa dirinya baik-baik saja, lalu kemudian ia sudah seperti mayat hidup, tidak dapat menggerakkan anggota badannya sama sekali.
Saat itu, dokter yang merawat Irwanto mengajak isterinya untuk pergi ke pojokan kamar dan menjelaskan bahwa Irwanto sudah tidak memiliki pengharapan lagi. Ia akan segera meninggal. Parahnya lagi, Irwanto mendengar sendiri percakapan yang dilakukan oleh dokter dengan isterinya.
“Dokter tega-teganya memanggil isteri saya di sebuah ruang sempit dan mengatakan, ‘Ibu, saya sudah tidak dapat membantu ibu. Bapak pasti akan meninggal karena infeksinya sudah sampai ke paru-paru’,” kisah Irwanto.
Semua pikiran akan masa depan kehidupannya dan kehidupan keluarganya terus melintas di kepalanya.
“Bagaimana nanti dengan tugas-tugasku? Berapa biaya yang harus aku tanggung nanti? Anak-anakku akan makan apa nanti? Semuanya campur aduk di otak saya. Saya melihat isteri saya sudah mulai bingung menangis, anak-anak saya menangis, teman-teman saya sudah mulai bingung juga, dan saya hanya bisa bengong seperti zombi,” kisah Irwanto dengan kepiluan yang tergambar jelas di wajahnya.
Namun kematian ternyata belum berpihak pada Irwanto. Ia masih bertahan hidup meskipun mengalami kelumpuhan dari dada ke bawah. Karena kondisi tersebut, Irwanto sempat berpindah-pindah rumah sakit dan mengkonsumsi berbagai macam obat-obatan. Ketika ia memutuskan untuk berobat ke Singapura, bertolak belakang dengan semua diagnosa dokter yang telah diterimanya, dokter di Singapura menyatakan kala itu sebenarnya ia hanya menderita kelelahan semata.
“Pada tagihan obat saya, tercatat sebuah obat yang namanya streptoginase, dan obat itulah yang diduga memecahkan syaraf saya. Dan saya mulai ingat, persis pada waktru infus berisi obat itu masuk, saya sakit tengkuk, dan saya minta dioleskan obat gosok, lalu kemudian darah keluar dari mulut dan hidung saya, itulah saatnya saya mengalami kelumpuhan. Bukan karena sebab yang lain,” ujar Irwanto menceritakan awal kelumpuhan dirinya yang mengubah jalan hidupnya secara total.
Dan ternyata semua diagnosa dokter mengenai infeksi yang sudah sampai ke paru-parunya adalah sebuah kesalahan. Para dokter di Singapura bahkan mentertawakan diagnosa awal yang divoniskan pada Irwanto. Irwanto merasakan kebingungan yang tak berkesudahan akibat peristiwa ini. Hal itulah yang meyebabkan ia akhirnya menderita depresi.
Menyadari bahwa dirinya telah mengalami kelumpuhan dari dada sampai ke ujung kaki, Irwanto harus menerima kenyataan bahwa hidupnya akan berakhir di kursi roda. Irwanto pun merasa putus asa.
“Hari-hari itu saya benar-benar menderita depresi berkepanjangan. Saya tidak mau ada sinar lampu, saya tidak mau mendengar suara apapun, saya benar-benar hanya berpikir untuk mati saja waktu itu. Lalu kemudian kalau berdoa saya selalu mempertanyakan Tuhan, kenapa harus saya yang mengalami ini? Dan bukan hanya itu saja, saya juga mempertanyakan kenapa saya sekarang jadi begini?” ujar Irwanto.
Secara manusiawi, Irwanto pun mengalami keterpurukan akibat malpraktek yang menimpanya. Namun isterinya selalu ada di sampingnya untuk memberikan dukungan. Dengan setia ia terus memperhatikan Irwanto dan mendampingi Irwanto dengan penuh pengertian. Jika Irwato sudah mulai memukuli meja, tempat tidur dan badannya dengan kedua tangannya yang sudah mulai bisa digerakkan, isterinya akan langsung mengajak Irwanto untuk membaca Alkitab. Meskipun berada dalam keterpurukan yang terdalam dalam hidupnya, namun firman yang dibacakan isterinya terus didengarkan oleh Irwanto.
Dalam keputusasaannya, Irwanto bergelut dengan pilihan-pilihan yang ada di dalam benaknya. Mau tidak mau, ia harus mengambil keputusan dan respon yang tepat atas kejadian yang menimpanya.
“Pada waktu sudah diberitahu bahwa ini kesalahan dokter, saya kemudian mulai merefleksikan apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Apakah saya mau tetap hidup sambil terus menyesali apa yang telah terjadi di belakanga, atau saya mati saja, atau pilihan lain saya memilih hidup sambil mulai melupakan apa yang telah terjadi dan fokus ke depan. Perlahan-lahan, saya mulai menemukan jawaban saya sendiri. Kalau saya selalu hidup dengan penuh beban karena dokter yang salah, hidup saya akan selalu dipenuhi dengan kemarahan. Dan setiap kali saya marah, kondisi saya drop. Suhu badan saya tiba-tiba turun, saya menjadi sangat tidak nyaman di tempat tidur, emosi saya pun mulai jelek. Lalu saya akhirnya mengambil keputusan, saya harus bisa memaafkan dokter itu. Saya terus berdoa agar saya betul-betul bisa menghilangkan segala kemarahan saya terhadap dokter itu dan mengatakan, urusan saya dengan dia selesai,” kisah Irwanto.
Semenjak saat itulah Irwanto mulai bisa menikmati latihan yang harus ia jalani untuk menggerakkan anggota-anggota tubuhnya, dan setiap kunjungannya ke dokter bisa dinikmatinya dengan baik.
Dengan semangat yang baru, Irwanto pun bangkit untuk melangkah dalam panggilannya. Irwanto sekarang dapat melihat bahwa apa yang dialaminya bukanlah suatu cobaan ataupun ujian semata, namun Tuhan hanya ingin agar ia melakukan tugas yang lain, tugas yang telah ditetapkan-Nya menjadi tujuan Irwanto hidup di duia ini.
“Tadinya saya melakukan tugas yang lain, tapi sekarang saya diberikan hak istimewa untuk melakukan pekerjaan saya saat ini. Dan buktinya dengan keadaan saya yang seperti ini, saya bisa bertemu dengan banyak orang, saya bisa memberikan inspirasi kepada banyak orang, mungkin itulah maksud dari segala peristiwa yang harus saya lewati kemarin. Bagian dari pemulihan saya justru ketika saya melakukan tugas-tugas ini, saya mendapatkan dan menemukan banyak sekali hal yang memompa semangat saya untuk bangkit kembali. Optimisme hidup saya justru bangkit karena saya ketemu langsung dengan anak-anak yang saya bantu, ketemu NGO-nya, ketemu masyarakat. Pada akhirnya saya menyadari, selain Tuhan, yang menentukan hidup saya itu adalah pilihan yang saya buat sendiri. Jadi kalau saya tidak mengusahakan apa-apa, menyerah dengan keadaan saya, maka tidak akan terjadi apa-apa,” ujar Irwanto menutup kesaksian hidupnya yang begitu menginspirasi banyak orang.
Bagi Anda yang mengalami sebuah peristiwa yang tak dapat dimengerti, jangan pernah menyerah. Teruslah bangkit, maka Anda akan menemukan pelangi dari segala peristiwa menyakitkan yang harus Anda alami.
TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai Anda selalu...
[ Sumber: Prof. Irwanto ]
~ KESAKSIAN BONG CHANDRA:
"UNGKAP RAHASIA SUKSESNYA" ~
Bong Chandra, pemuda usia 24 tahun ini dikenal sebagai “Motivator Termuda di Asia”. Ia berhasil menjadi seorang milyader di usia yang sangat muda, tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi idola banyak orang. Namun siapa sangka bahwa perjalanannya menuju kesuksesan ternyata penuh liku. Berikut adalah wawancara dengan Bong Chandra.
Bagaimana sih ceritanya hingga Anda bisa sukses seperti sekarang ini?
Saya dibesarkan di keluarga yang biasa saja. Orangtua saya seorang pengusaha. Namun saya dibesarkan dalam keadaan penuh kelemahan. Dalam artian yang pertama adalah kelemahan fisik. Waktu saya lahir, saya terkena penyakit flek paru-paru. Jadi waktu kecil saya suka kejang. Akhirnya hal itu membuat tubuh saya sangat kurus, dan hal tersebut membuat saya tidak percaya diri dan kuper.
Hingga pada tahun 1998, pada saat saya kelas 6 SD Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kerusuhan. Salah satu yang kena adalah pabrik papa saya. Papa saya bankrupt, sehingga mulai dari kelas 6 SD sampai 2 SMA saya hidup sangat kekurangan.
Saya juga melihat bagaimana ayah saya dari punya pabrik, kerja dengan mesin, kebetulan pabrik kue, jadi buat adonan kue sendiri. Bagaimana keringatnya, bagaimana beliau masuk ke pasar-pasar basah, panas, pada hal usia beliau sudah 50 tahun lebih saat itu.
Saya seringkali juga hanya makan seadanya, dan juga hutang sana dan hutang sini. Bahkan seringkali kalau saya terima telephone di rumah diminta bilang papi ngga ada, mami ngga ada. Karena yang telephone adalah penagih hutang. Listrik dan telephone kami juga sering di putus.
Masa-masa paling pahit bagi saya adalah saat kami sekeluarga harus mengumpulkan uang-uang receh yang ada di sudut-sudut jendela, pojok-pojok lemari. Uang receh bisa buat apa sih? Tapi saking berharganya uang-uang receh itu bisa kami buat bayar listrik atau telephone.
Bagaimana dengan prestasi di sekolah?
Saya tidak punya prestasi sama sekali (di sekolah – red). Seringkali saya hanya fotokopi buku pelajaran karena tidak mampu beli buku baru. Saya hampir tidak naik kelas waktu SMA kelas 2 semester pertama. Raport saya merah 11 pelajaran dari 13 mata pelajaran. Saya menangis, saya sedih sekali. Itu adalah titik paling rendah dalam hidup saya.
Ternyata Bong Chandra pun pernah merasa iri…
Wajar, namanya juga anak muda waktunya aktualisasi diri. Mereka bisa punya handphone baru, saya ngga bisa. Mereka bisa pergi sama keluarganya, saya ngga bisa.
Saat itu ada teman saya yang ngga ada jemu-jemunya menjenguk saya, bukan karena saya sakit, tapi untuk mengajak saya ke gereja. Waktu itu ngga tahu kenapa saya merasa ini saat yang tepat. Akhirnya saya putuskan untuk ke gereja. Di sana saya sadar bahwa selama ini saya masih mengandalkan kekuatan saya sendiri.
Kadang saya bertanya, untuk apa sih Tuhan ciptakan kesulitan. Kenapa Tuhan ciptakan masa-masa down. Akhirnya saya menemukan (jawabannya), ternyata kalau tidak ada masa-masa sulit, tidak ada masa down, manusia akan mengandalkan dirinya sendiri, itu yang saya yakini yang dulunya saya belum yakin.
Ketika mengalami masa sulit, manusia sudah tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan orangtuanya, orang lain, maka manusia mulai mencari satu pribadi, itulah yang saya alami.
Bong menemukan satu pribadi itu dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Mulai saat itulah paradigmanya mulai berubah.
Kita manusia ini bukan apa-apa, dalam artian kita ini bisa hidup karena anugrah. Kita bisa sehat, bisa makan karena anugrah. Jadi jangan lagi mengandalkan manusia. Jangan lagi percaya sepenuhnya sama manusia. Tapi andalkan dan percayakan sepenuhnya sama Tuhan.
Sekali lagi hidup ini seperti permainan catur. Tuhan baru bisa majukan pionnya kalau kita majukan pionnya. Karena kalau kita majukan pion, satunya hanya diam kan tidak bisa. Jadi kita berharap sepenuhnya pada Tuhan, tapi kita harus berusaha jadi yang terbaik. Jadi dua keseimbangan ini yang menjadi paradigma yang baru ketika saya mengenal Kristus.
Berlahan Bong mulai bangkit..
Yang membuat saya bangkit adalah orang-orang yang saya cintai. Yaitu orangtua saya, adik, pasangan saya dan lain sebagainya. Jadi yang membuat saya bangkit adalah alasan yang kuat, karena saya percaya motivasi terbesar bukanlah ketika kita berjuang untuk diri kita sendiri tapi berjuang untuk orang lain. Saya berkomitmen untuk tidak egois lagi. Dalam arti, saya siap bayar harganya. Dulunya saya nyaman, diam di rumah. Kemudian sudah uangnya terbatas, malah habiskan uangnya ke warnet. Main game, sama teman-teman main basket. Saya bilang, mulai hari ini saya tidak mau egois berpikir untuk diri saya, dan saya mau bangkit, bukan untuk saya tapi untuk mereka.
Demi keluarganya Bong rela bekerja keras..
Saya pernah gonta-ganti pekerjaan, dari pertama serabutan. Saya jualan baju, saya jual parfum, apapun yang bisa saya jual. Saya punya prinsip, lebih baik susah sekarang.
Dan saya bersyukur, karena keluarga kami bankrut dan kami punya keterbatasan, jadi keluarga kami sangat dekat. Yang kedua adalah saya bersyukur, karena hidup saya dari kecil sudah sulit, saya jadi anak yang tidak manja.
Jadi saya balik, dari awalnya saya iri sama teman-teman saya, teman-teman saya harus iri sama saya. Karena apa? Karena mereka tidak mengalami kesulitas yang saya rasakan. Karena mereka tidak mengalami kesulitan, mereka tidak tumbuh sekeras saya. Saya percaya ketika kita tumbuh dalam lingkungan yang keras, maka Tuhan akan menjadikan kita lebih keras.
Kerasnya tekad Bong itulah yang membuat ia tidak pernah menyerah. Berbagai bisnis seperti MLM dan event organizer ia jalani. Untung dan rugi juga silih berganti. Namun ia tidak pernah putus asa.
Luar biasanya, setiap saya jatuh Tuhan angkat saya lebih tinggi. Jadi setiap kali saya jatuh, mentalnya bukannya sama atau lebih rendah, tapi lebih tinggi. Ketika saya pernah jatuh, ternyata Tuhan mempertemukan saya dengan bisnis property.
Di bisnis property inilah Bong Chandra berhasil mencapai kesuksesannya. Ia berhasil menjadi milyader di usia muda dan berhasil mewujudkan impian orangtuanya untuk ke luar negeri. Saat dipuncak keberhasilannya, ia ingin orang lain berhasil juga. Karena itulah ia menjadi seorang motivator. Apa yang menjadi kepuasan Bong saat ia menjadi motivator?
Paling puas adalah saat saya mendapatkan email, atau mendapat mention di twitter saya yang mengatakan hidupnya berubah, mereka jadi memiliki semangat lagi. Pernah saya mendapat email dari orang yang dulu katanya pernah dibilang hampir gila sama orang-orang, dan akhirnya mereka bisa temukan jati diri yang baru. Ada yang pernah hampir bunuh diri, saya bisa bantu mereka. Itulah salah satu yang membuat saya senang memberi motivasi.
Apa arti kesuksesan bagi Bong Chandra?
Buat saya sukses adalah saya bisa menjadi lebih baik dari yang kemarin, itulah yang pertama. Yang kedua, sukses adalah ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri. Dalam artian, manusia itu Tuhan kasih potensi yang sangat luar biasa. Jika manusia itu tidak bisa melawan dirinya sendiri maka potensinya akan terhambat. Sukses adalah ketika kita bisa menggunakan talenta yang Tuhan kasih, kita develop sehingga kita bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Dimana peran Tuhan dalam kesuksesan Bong Chandra?
Peran Tuhan Yesus sangat-sangat besar. Terutama dalam filosofi-filosofi hidup saya dalam membangun bisnis. Sebagai contoh, dalam Alkitab ada yang mengatakan barang siapa yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Saya pegang firman Tuhan itu, dan saya lakukan. Dalam artian, ternyata apa yang kita tabur walaupun itu susah, tenang saja, hanya waktu yang akan menentukan segala sesuatunya akan indah pada waktunya.
Yang kedua juga, apa yang Tuhan bilang: siapa yang mau lebih tinggi, dia harus mau menjadi yang lebih melayani. Dari situ saya belajar harus senyum kepada orang-orang siapapun itu. Dari situ saya bisa belajar rendah hati.
Prinsip-prinsip apa yang dijalankan Bong Chandra dalam bisnisnya?
Yang pertama adalah prinsip kebenaran, dalam arti kita tidak boleh kompromi. Yang kedua adalah kerjasama.
Apa pesan Bong Chandra untuk hadapi tahun 2012?
Saya percaya bahwa di dalam Tuhan kita bukanlah manusia yang lama tapi manusia yang baru. Jadi saya percaya di dalam Tuhan setiap hari adalah tahun yang baru. Untuk tahun yang baru selalu ada masalah yang baru. Tahun yang baru selalu ada berkat yang baru. Pelajari, evaluasi apa yang sudah terjadi di tahun 2011. Jangan jadikan suatu kegagalan sebagai akar pahit, jadikan kegagalan sebagai kuliah. Ketika saya ingat uang kuliah yang saya bayar begitu besar, maka saya tidak mau menyia-nyiakan ketika masuk ke tahun yang baru. Demikian juga dengan Anda. Terima kasih, sukses untuk Anda semua,
GOD Bless you all...
[ Sumber: Bong Chandra ]
~ KESAKSIAN BONG CHANDRA:
"UNGKAP RAHASIA SUKSESNYA" ~
Bong Chandra, pemuda usia 24 tahun ini dikenal sebagai “Motivator Termuda di Asia”. Ia berhasil menjadi seorang milyader di usia yang sangat muda, tentu saja hal tersebut membuatnya menjadi idola banyak orang. Namun siapa sangka bahwa perjalanannya menuju kesuksesan ternyata penuh liku. Berikut adalah wawancara dengan Bong Chandra.
Bagaimana sih ceritanya hingga Anda bisa sukses seperti sekarang ini?
Saya dibesarkan di keluarga yang biasa saja. Orangtua saya seorang pengusaha. Namun saya dibesarkan dalam keadaan penuh kelemahan. Dalam artian yang pertama adalah kelemahan fisik. Waktu saya lahir, saya terkena penyakit flek paru-paru. Jadi waktu kecil saya suka kejang. Akhirnya hal itu membuat tubuh saya sangat kurus, dan hal tersebut membuat saya tidak percaya diri dan kuper.
Hingga pada tahun 1998, pada saat saya kelas 6 SD Indonesia mengalami krisis ekonomi dan kerusuhan. Salah satu yang kena adalah pabrik papa saya. Papa saya bankrupt, sehingga mulai dari kelas 6 SD sampai 2 SMA saya hidup sangat kekurangan.
Saya juga melihat bagaimana ayah saya dari punya pabrik, kerja dengan mesin, kebetulan pabrik kue, jadi buat adonan kue sendiri. Bagaimana keringatnya, bagaimana beliau masuk ke pasar-pasar basah, panas, pada hal usia beliau sudah 50 tahun lebih saat itu.
Saya seringkali juga hanya makan seadanya, dan juga hutang sana dan hutang sini. Bahkan seringkali kalau saya terima telephone di rumah diminta bilang papi ngga ada, mami ngga ada. Karena yang telephone adalah penagih hutang. Listrik dan telephone kami juga sering di putus.
Masa-masa paling pahit bagi saya adalah saat kami sekeluarga harus mengumpulkan uang-uang receh yang ada di sudut-sudut jendela, pojok-pojok lemari. Uang receh bisa buat apa sih? Tapi saking berharganya uang-uang receh itu bisa kami buat bayar listrik atau telephone.
Bagaimana dengan prestasi di sekolah?
Saya tidak punya prestasi sama sekali (di sekolah – red). Seringkali saya hanya fotokopi buku pelajaran karena tidak mampu beli buku baru. Saya hampir tidak naik kelas waktu SMA kelas 2 semester pertama. Raport saya merah 11 pelajaran dari 13 mata pelajaran. Saya menangis, saya sedih sekali. Itu adalah titik paling rendah dalam hidup saya.
Ternyata Bong Chandra pun pernah merasa iri…
Wajar, namanya juga anak muda waktunya aktualisasi diri. Mereka bisa punya handphone baru, saya ngga bisa. Mereka bisa pergi sama keluarganya, saya ngga bisa.
Saat itu ada teman saya yang ngga ada jemu-jemunya menjenguk saya, bukan karena saya sakit, tapi untuk mengajak saya ke gereja. Waktu itu ngga tahu kenapa saya merasa ini saat yang tepat. Akhirnya saya putuskan untuk ke gereja. Di sana saya sadar bahwa selama ini saya masih mengandalkan kekuatan saya sendiri.
Kadang saya bertanya, untuk apa sih Tuhan ciptakan kesulitan. Kenapa Tuhan ciptakan masa-masa down. Akhirnya saya menemukan (jawabannya), ternyata kalau tidak ada masa-masa sulit, tidak ada masa down, manusia akan mengandalkan dirinya sendiri, itu yang saya yakini yang dulunya saya belum yakin.
Ketika mengalami masa sulit, manusia sudah tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri, tidak bisa mengandalkan orangtuanya, orang lain, maka manusia mulai mencari satu pribadi, itulah yang saya alami.
Bong menemukan satu pribadi itu dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Mulai saat itulah paradigmanya mulai berubah.
Kita manusia ini bukan apa-apa, dalam artian kita ini bisa hidup karena anugrah. Kita bisa sehat, bisa makan karena anugrah. Jadi jangan lagi mengandalkan manusia. Jangan lagi percaya sepenuhnya sama manusia. Tapi andalkan dan percayakan sepenuhnya sama Tuhan.
Sekali lagi hidup ini seperti permainan catur. Tuhan baru bisa majukan pionnya kalau kita majukan pionnya. Karena kalau kita majukan pion, satunya hanya diam kan tidak bisa. Jadi kita berharap sepenuhnya pada Tuhan, tapi kita harus berusaha jadi yang terbaik. Jadi dua keseimbangan ini yang menjadi paradigma yang baru ketika saya mengenal Kristus.
Berlahan Bong mulai bangkit..
Yang membuat saya bangkit adalah orang-orang yang saya cintai. Yaitu orangtua saya, adik, pasangan saya dan lain sebagainya. Jadi yang membuat saya bangkit adalah alasan yang kuat, karena saya percaya motivasi terbesar bukanlah ketika kita berjuang untuk diri kita sendiri tapi berjuang untuk orang lain. Saya berkomitmen untuk tidak egois lagi. Dalam arti, saya siap bayar harganya. Dulunya saya nyaman, diam di rumah. Kemudian sudah uangnya terbatas, malah habiskan uangnya ke warnet. Main game, sama teman-teman main basket. Saya bilang, mulai hari ini saya tidak mau egois berpikir untuk diri saya, dan saya mau bangkit, bukan untuk saya tapi untuk mereka.
Demi keluarganya Bong rela bekerja keras..
Saya pernah gonta-ganti pekerjaan, dari pertama serabutan. Saya jualan baju, saya jual parfum, apapun yang bisa saya jual. Saya punya prinsip, lebih baik susah sekarang.
Dan saya bersyukur, karena keluarga kami bankrut dan kami punya keterbatasan, jadi keluarga kami sangat dekat. Yang kedua adalah saya bersyukur, karena hidup saya dari kecil sudah sulit, saya jadi anak yang tidak manja.
Jadi saya balik, dari awalnya saya iri sama teman-teman saya, teman-teman saya harus iri sama saya. Karena apa? Karena mereka tidak mengalami kesulitas yang saya rasakan. Karena mereka tidak mengalami kesulitan, mereka tidak tumbuh sekeras saya. Saya percaya ketika kita tumbuh dalam lingkungan yang keras, maka Tuhan akan menjadikan kita lebih keras.
Kerasnya tekad Bong itulah yang membuat ia tidak pernah menyerah. Berbagai bisnis seperti MLM dan event organizer ia jalani. Untung dan rugi juga silih berganti. Namun ia tidak pernah putus asa.
Luar biasanya, setiap saya jatuh Tuhan angkat saya lebih tinggi. Jadi setiap kali saya jatuh, mentalnya bukannya sama atau lebih rendah, tapi lebih tinggi. Ketika saya pernah jatuh, ternyata Tuhan mempertemukan saya dengan bisnis property.
Di bisnis property inilah Bong Chandra berhasil mencapai kesuksesannya. Ia berhasil menjadi milyader di usia muda dan berhasil mewujudkan impian orangtuanya untuk ke luar negeri. Saat dipuncak keberhasilannya, ia ingin orang lain berhasil juga. Karena itulah ia menjadi seorang motivator. Apa yang menjadi kepuasan Bong saat ia menjadi motivator?
Paling puas adalah saat saya mendapatkan email, atau mendapat mention di twitter saya yang mengatakan hidupnya berubah, mereka jadi memiliki semangat lagi. Pernah saya mendapat email dari orang yang dulu katanya pernah dibilang hampir gila sama orang-orang, dan akhirnya mereka bisa temukan jati diri yang baru. Ada yang pernah hampir bunuh diri, saya bisa bantu mereka. Itulah salah satu yang membuat saya senang memberi motivasi.
Apa arti kesuksesan bagi Bong Chandra?
Buat saya sukses adalah saya bisa menjadi lebih baik dari yang kemarin, itulah yang pertama. Yang kedua, sukses adalah ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri. Dalam artian, manusia itu Tuhan kasih potensi yang sangat luar biasa. Jika manusia itu tidak bisa melawan dirinya sendiri maka potensinya akan terhambat. Sukses adalah ketika kita bisa menggunakan talenta yang Tuhan kasih, kita develop sehingga kita bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Dimana peran Tuhan dalam kesuksesan Bong Chandra?
Peran Tuhan Yesus sangat-sangat besar. Terutama dalam filosofi-filosofi hidup saya dalam membangun bisnis. Sebagai contoh, dalam Alkitab ada yang mengatakan barang siapa yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak-sorai. Saya pegang firman Tuhan itu, dan saya lakukan. Dalam artian, ternyata apa yang kita tabur walaupun itu susah, tenang saja, hanya waktu yang akan menentukan segala sesuatunya akan indah pada waktunya.
Yang kedua juga, apa yang Tuhan bilang: siapa yang mau lebih tinggi, dia harus mau menjadi yang lebih melayani. Dari situ saya belajar harus senyum kepada orang-orang siapapun itu. Dari situ saya bisa belajar rendah hati.
Prinsip-prinsip apa yang dijalankan Bong Chandra dalam bisnisnya?
Yang pertama adalah prinsip kebenaran, dalam arti kita tidak boleh kompromi. Yang kedua adalah kerjasama.
Apa pesan Bong Chandra untuk hadapi tahun 2012?
Saya percaya bahwa di dalam Tuhan kita bukanlah manusia yang lama tapi manusia yang baru. Jadi saya percaya di dalam Tuhan setiap hari adalah tahun yang baru. Untuk tahun yang baru selalu ada masalah yang baru. Tahun yang baru selalu ada berkat yang baru. Pelajari, evaluasi apa yang sudah terjadi di tahun 2011. Jangan jadikan suatu kegagalan sebagai akar pahit, jadikan kegagalan sebagai kuliah. Ketika saya ingat uang kuliah yang saya bayar begitu besar, maka saya tidak mau menyia-nyiakan ketika masuk ke tahun yang baru. Demikian juga dengan Anda. Terima kasih, sukses untuk Anda semua,
GOD Bless you all...
[ Sumber: Bong Chandra ]
Langganan:
Postingan (Atom)