Aku tak pernah mengira bahwa satu waktu dalam hidupku aku akan menjadi orang yang tidak berguna. Pada saat usia kehamilanku mencapai 2 bulan, aku mengalami pendarahan. Sejak kejadian itu, dokter menyatakan bahwa aku mengalami sakit yang aneh. Seluruh badanku memang terasa sakit dan menurut analisa dokter, aku mengalami infeksi kandungan karena waktu dikuret tidak bersih. Obat demi obat sudah aku minum tetapi aku tidak kunjung sembuh. Aku mencoba mendapatkan diagnosa dari berbagai dokter. Namun tidak ada kepastian mengenai penyakit yang aku derita.
Satu kali, aku ingin membuatkan anakku Indomie rebus. Jadi, aku tuang air panas dari termos ke atas mangkok berisi Indomie, yang aku taruh di atas pangkuanku. Saat air panas dituang, mangkok sedikit goyang dan mengenai pahaku. Aku pun bergerak refleks tetapi air panas itu malah tumpah semua dan mangkok pun jatuh ke lantai. Karena peristiwa itu, aku merasa kesakitan dan shock. Sebagai seorang mama, aku merasa tidak berguna karena untuk menyiapkan Indomie rebus buat anakku saja, aku tidak mampu. Jadi, untuk apalagi aku hidup? Beberapa waktu kemudian, seorang temanku merekomendasikan nama seorang dokter spesialis tulang yang sangat terkenal dan dengan berbekal informasi ini, aku memberanikan diri sekali lagi pergi ke dokter. Aku berharap aku bisa bebas dari penderitaan yang sudah berjalan selama 2 tahun ini. Namun sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan justru aku terima. “Kedua tulang pinggul Ibu Lily sudah rusak dan hancur. Ibu mengalami osteoporosis dan tulang sendi yang berbentuk bulat pun sudah tidak ada bantalannya lagi karena remuk”, kata dokter spesialis itu kepadaku dan suamiku.
Dokter menyarankan, agar tulang panggulku segera dipotong dan diganti dengan tulang dari bahan titanium. Untuk itu, aku harus menjalani operasi yang menelan biaya hampir Rp. 200 juta! Masih menurut dokter, pasca operasi, si pasien kemungkinan besar akan lumpuh total dan bahkan pada akhirnya meninggal muda. Dokter lalu melanjutkan penjelasannya: “Kalau untuk penyembuhan seperti ini sangat sulit. Bahkan pengobatan yang bertahun-tahun pun belum tentu membawa kesembuhan bagi si pasien. Apalagi, si pasien harus diberikan suntikan yang berkali-kali. Menurut prediksi saya, sudah paling top bila Ibu Lily bisa mencapai umur 38 tahun”. Penuturan dokter membuatku seakan-akan tahu hari kematianku dan aku tidak punya harapan lagi untuk bisa hidup. Hanya di dalam doa, aku bisa berseru kepada Tuhan: “Aku akan meninggalkan anak-anakku. Namun kenapa Engkau, Tuhan mau mengambilku yang masih harus mendidik dan membesarkan anak-anaku? Aku ingin hidup lebih lama karena tugasku di dunia belum selesai…” Walaupun aku tahu bahwa aku bakalan lumpuh dari mulai pinggul dan merembet hingga ke tulang belakang, aku tetap masih menyimpan harapan kepada Tuhan.
Atas permintaanku, suamiku membelikan aku sebuah lukisan Yesus dan menempelkannya pada dinding kamar kami. Lukisan itu mengingatkan aku akan kebaikan Tuhan dalam hidupku dan aku teringat kembali akan firman Tuhan yang sudah pernah aku dengar bahwa Tuhan sanggup menyembuhkanku. Aku merasa bersalah selama ini karena aku tidak percaya dan aku meninggalkan Tuhan. Sampai satu hari, seorang teman suamiku datang ke rumah dan menawari 2 tiket untuk hadir di ibadah kesembuhan di Ancol oleh hamba Tuhan dari luar negeri, yang luar biasa dan sudah ditunggu-tunggu banyak orang. Akhirnya kami ambil tiket itu dan bersama-sama pergi ke sana. Namun di sana aku malah ditaruh di kumpulan orang-orang yang memakai kursi roda. Dalam hati aku mengeluh: “Aduh, koq seperti ini, ya. Aku masih muda tapi koq udah parah banget.” Malam itu, aku tidak menerima kesembuhan dan aku pulang ke rumah dengan badan yang cape dan lemas.
Hari kedua aku tidak mau datang karena merasa kecewa dan aku merasa Tuhan tidak sayang padaku. Suami sempat bingung karena aku tidak mau pergi. Namun teman-teman kami terus berusaha membujuk. Mereka berdoa dan mengatakan bahwa masih ada peluang di hari ketiga, yaitu esok harinya. Seorang hamba Tuhan bahkan bernubuat: “Kamu harus datang karena kamu pasti disembuhkan pada hari ketiga,” katanya. Aku pun semangat lagi dan yakin bahwa hari terakhir adalah kesempatan terakhir bagiku.
Keesokan harinya kami pergi ke ibadah kesembuhan dan pada pukul 4 sore, seorang nenek mendekati kami dan menanyai suamiku. Suamiku kemudian menjelaskan bahwa aku adalah istrinya dan bahwa seluruh sendiku terasa ngilu dan tidak bisa digerakkan lagi. Lalu sang nenek bersimpuh di dekat kakiku dan berdoa. Dalam doanya, ia mengatakan bahwa Tuhan sanggup melakukan mukjizat dan Tuhan sanggup membangkitkan orang yang lumpuh. Doanya benar-benar membuatku yakin bahwa Tuhan sanggup sembuhkan aku dan pada saat itu di pikiranku sama sekali tidak ada keraguan. Seperti orang normal yang diperintahkan untuk berdiri, aku lalu mencoba berdiri dan aku bisa berdiri tanpa rasa sakit! Lalu si nenek menantang aku untuk terus berjalan dan berjalan. Puji Tuhan! Setiap langkah aku berkata: “Puji Tuhan. Tuhan luar biasa, Tuhan dahsyat!” Aku benar-benar merasakan Tuhan itu ada dan Tuhan itu ajaib. Ketika aku pergi ke dokter, ia merasa kagum dan kaget melihat aku bisa sembuh. “Saya turut berbahagia dan saya yakin semua berkat Tuhan Yesus,” ujar dokter yang memeriksaku. Suamiku pun merasakan sukacita yang aku rasakan: “Sebagai seorang suami melihat pendamping hidup saya sudah sembuh, saya senang sekali. Kehidupan saya sebagai suami jadi normal kembali. Apalagi, Tuhan mengizinkan istri saya bisa bekerja kembali dan keluarga juga bisa diberkati”. 

Bagiku, kebaikan Tuhan itu luar biasa. Kalau dulu aku berharap kepada manusia tetapi ternyata aku salah. Ternyata cuma Tuhan Yesus yang bisa sembuhkan kita dan memberikan mukjizat yang luar biasa. Dan bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang bisa melakukan perkara yang luar biasa! (Kisah ini sudah ditayangkan 14 Juli 2008 dalam acara Solusi di SCTV)
Sumber kesaksian:
Lily Sugiarto

Kengerian dan keterkejutan tak hanya dirasakan Ana. Veronika, adik Jorwil, tak urung shock melihat kondisi kakaknya. “Saya punya keinginan dan doa bahwa Tuhan akan menyelamatkan keluarga kami. Tapi, mengapa caranya harus seperti ini?” protes Veronika kepada Tuhan pada waktu itu. Veronika yakin Tuhan akan menyelamatkan nyawa kakaknya tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa Tuhan akan memakai cara ‘kecelakaan maut’ untuk menuntun Jorwil kembali di dalam Tuhan. Veronika takut, AW, panggilan akrab Jorwil, merasa frustasi dan tidak kuat menghadapi kenyataan pahit yang menimpa dirinya. Apalagi menurut dokter, cidera yang diderita Jorwil cukup berat. Ia terlindas oleh ban mobil dan mengalami cidera pada tulang dada dan paru-paru yang cukup parah sehingga Jorwil harus menerima nafas bantuan dengan bantuan mesin. Tak hanya itu, Jorwil juga mengalami patah pada tulang paha, lengan atas, dan tulang selangka. Kalau saja tidak cepat ditolong dan tindakan menyadarkan pasien (resusitasi) tidak segera dilaksanakan, Jorwil dipastikan akan meninggal di tempat atau sesaat setelah tiba di UGD. Cidera paru-paru yang cukup berat, kemudian ditambah dengan cidera pada anggota-anggota gerak serta kehilangan darah yang banyak hanya memberi peluang fifty-fifty bagi Jorwil alias Jorwil bisa meninggal atau hidup.
Oleh dokter, Jorwil kemudian dioperasi di bagian kepala, tangan dan kaki selama 6 – 7 jam. Perjuangan di dalam doa untuk Jorwil masih terus berlanjut. Walaupun Ana tahu bahwa secara medis, mustahil bagi Jorwil untuk sehat kembali seperti sedia kala, toh ia memohon juga kepada Tuhan untuk kesembuhan Jorwil yang sempurna. Dan ternyata Tuhan telah menjawab apa yang Ana minta dalam doanya. Seperti mimpi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, lewat doa Ana, sang istri, Tuhan memberikan kesembuhan bagi Jorwil. “Semua ini mukjizat dari Tuhan dan saya percaya Tuhan Yesus selalu bantu saya,” ujar Ana dengan bersukacita.
“Narkoba itu menjadi suatu kebanggaan bagi saya saat itu, saya pikir saya tidak gaul jika ke kafe atau ke diskotik tapi tidak menyentuh itu,” demikian Hilmar menceritakan masa lalunya.
Selama enam belas tahun Hilmar hidup dalam perzinahan dengan seorang wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak. Dia terbuai dengan hubungan gelap bersama wanita itu sampai lupa segalanya. Walaupun hubungan itu telah melukai hati ibunya, tetapi Hilmar tetap tidak memperdulikannya.
Suatu saat seorang kekasih Hilmar hamil. Dia akhirnya meminta kekasihnya untuk menggugurkan kandungannya. Dengan dibantu oleh seorang dokter yang menjadi kenalannya, kandungan kekasihnya itu digugurkan. Rintihan kekasihnya saat menjalani aborsi tidak membuat Hilmar bergeming. Bahkan setelah mengantarkan kekasihnya yang masih abg pulang, Hilmar melanjutkan malamnya dengan berpesta-pora seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
“Dengan kembalinya Hilmar, itu seperti kembalinya anak yang hilang. Dengan pertobatan Hilmar, mami bisa bicara lagi. Mungkin mami saya umurnya panjang karena Hilmar kembali. Mulai terasa ada damai di rumah ini. Dulu saya merasa malu dengan tetangga, karena ada masalah sedikit ribut. Tapi sekarang hal seperti itu tidak terjadi lagi,” dengan haru kakak Hilmar menuturkan apa yang dirasakannya.
Hal tersebut bermula dari suatu obsesi yang tak dapat dibendungnya sejak berusia 25 tahun. Magda ingin sekali memiliki suami orang asing karena secara fisik mereka menarik bagi Magda. Magda senang dengan gaya hidup modern dan Magda merasa bangga bisa memiliki pacar orang asing.
Hidup serumah tanpa ikatan pernikahan dijalani oleh Magda. Di tahun keempat, ketakutan sempat mengancam kehidupannya. Magda sempat hamil. Saat itu yang terpikir olehnya hanyalah bagaimana mencari jalan selamat saja, mencari aman jangan sampai orang tuanya tahu tanpa ia sendiri berpikir untuk bertanggung jawab. Aborsi pun menjadi pilihan. Saat melakukannya pun Magda tidak merasa menyesal.
Obsesinya yang terus mendarah daging semakin membuat Magda menjalani kehidupan yang penuh dengan seks. Karena Magda hanya berpikir kesenangan yang ia dapatkan lebih banyak daripada rasa sakit yang harus ia terima. Meskipun tujuan sampai ke pelaminan tidak tercapai, Magda terus berganti-ganti pasangan di dalam pergaulan kehidupannya. Magda tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukannya itu salah di mata Tuhan.
Ketakutan mencengkeram kehidupan Magda. Saat Magda berniat untuk melakukan aborsi, secara tidak sengaja Magda bertemu dengan temannya dan ia menceritakan segala persoalannya. Temannya langsung menyarankan Magda agar tidak menggugurkan kandungannya karena anaknya nanti pasti cantik. Magda pun berpikir ulang untuk mengaborsi kandungannya. Karena memang setelah ia dulu melakukan aborsi untuk pertama kalinya, Magda sadar kalau hal itu tidak memecahkan masalah dan ia sempat bertekad untuk tidak melakukan aborsi lagi.
Magda akhirnya berjuang agar dapat menafkahi dirinya dan anaknya. Pengalaman masa lalu yang menyakitkan menimbulkan kebencian yang mendalam. Magda harus menyaksikan bagaimana tidak tenangnya hidup anaknya yang lahir tanpa ayah. Magda pun hidup dalam dendam, dendam yang ia pendam.
Magda pun berdoa, meminta pengampunan atas segala dosa-dosanya dan ia menyadari apapun yang telah dilakukannya di masa lalunya, dirinya tetap berharga di mata Tuhan. Dan Magda sangat bersyukur akan hal ini karena Tuhan tetap mengasihi dirinya apa adanya.
Magda berusaha untuk memaafkan bapak dari anaknya, tapi tidak bisa. Tetap saja Magda tidak sanggup mengampuninya. Ada satu lagu yang Magda tidak hapal benar liriknya tapi intinya berkata tentang ‘aku sayang Kristus, aku cinta Kristus’. Saat Magda menyanyikan lagu itu, ia mendengar bisikan, “Kalau kamu sayang sama Aku, maafkan dia.” Meskipun Magda benar-benar tidak tahu bagaimana ia bisa memaafkan bapak dari anaknya, namun akhirnya pengampunan itu keluar dari hati Magda. Gejolak-gejolak nafsu itu tidak lagi dirasakan Magda. 
Menginjak kelas 2 SMP, Ferry mulai berhubungan dengan tante-tante. Menjelang kelulusannya dari SMP, Ferry pun pernah digilir oleh teman-teman tante-tante itu. Ferry tidak bisa melepaskan ketergantungannya terhadap seks. Bahkan beberapa pacarnya sempat mengandung hasil dari hubungan intim mereka. Pada saat SMP dua orang, di SMA juga dua orang. Ferry pun mengambil abortus sebagai jalan pintas. Dari keempat pacarnya, hanya satu yang dibawa ke dokter dan sisanya melakukan abortus di dukun.
Hal tersebut terus berlanjut sampai suatu hari Ferry merasa menyesal dan memberitahukan istrinya perihal perselingkuhannya. Pengakuan itu pun tidak dikatakannya dengan jujur sepenuhnya, karena Ferry mengaku ia baru melakukannya untuk pertama kali padahal sebenarnya ia sudah sering melakukannya. Hati Ida pun terluka. Ida merasa harga dirinya sebagai seorang wanita dan istri diinjak-injak. Sejak itulah Ferry dan Ida pun sering cekcok. Perbedaan pendapat sekecil apapun dapat menjadi masalah besar bagi mereka.
Suatu hari Ida mengikuti sebuah persekutuan. Salah seorang hamba Tuhan yang juga menjadi teman Ida mengingatkan agar Ida mengikis semua rasa sakit hati yang dirasakannya terhadap Ferry. Semenjak saat itu, Ida selalu berdoa bagi Ferry, suaminya, sekalipun Ferry tetap berselingkuh. Ida pun mengambil keputusan untuk mengampuni dan mengasihi Ferry, bahkan dengan iman Ida bersyukur karena Tuhan sudah mengirim suami yang baik kepadanya, bertanggung jawab terhadap keluarganya dan banyak hal positif lainnya. Ida sering memperkatakan perkataan iman itu di dalam doanya.
“Saya minta ampun sama mama, karena Tuhan sudah jamah saya. Yang saya rasakan, selama ini saya sudah menyiksa mama dan anak-anak,” ujar Ferry kepada Ida, istrinya.
Perubahan mulai terjadi dalam kehidupan Ferry dan Ida. Dengan hati nuraninya, Ferry pun dapat melepaskan keterikatannya terhadap seks dan perselingkuhannya dengan wanita lain. Hubungan yang terjalin di antara Ferry dan Ida pun berjalan dengan baik sekali. Ferry jadi sering mengucapkan kata-kata ‘sayang’ kepada anak-anaknya dan menjadi seorang kepala keluarga yang sangat perduli terhadap keluarganya.
Saat anak terakhirnya lahir, Merry mulai mengenal dunia malam. Merry mulai mengenal banyak sekali laki-laki, sampai akhirnya ia menjabat sebagai seorang wanita panggilan yang bisa dibayar. Merry sangat menikmati apa yang dilakukannya saat itu. Ia mendapatkan uang, mendapatkan apa yang ia inginkan. Tipe laki-laki seperti apapun bisa ia dapatkan. Tapi Merry sama sekali tidak mengabaikan tugas rumah tangganya untuk mengurus anak-anak.
Setelah tujuh tahun hidup bersama dengan seorang pria, Merry baru menyadari bagaimana ia sebagai seorang wanita hidup di atas penderitaan wanita lain. Pria ini adalah pria terakhir yang menjadi selingkuhan Merry karena Merry tidak dapat melupakan perlakuannya yang amat menyakiti hati.
Akhirnya Merry bertekuk lutut di kaki Tuhan dan Merry memohon agar Tuhan mengubah hidupnya dan menolongnya untuk menahan gejolak birahi itu yang datang begitu kuat. Merry hanya dapat berteriak, “Tuhan, tolong saya Tuhan… tolong saya…”
Dalam kekalutannya Indra pun meminta Desly untuk meminum berbagai ramuan untuk menggugurkan kandungannya, namun Desly menolaknya karena ia tidak ingin melakukan dosa yang lebih keji lagi. Kehamilan yang tak diinginkan ini membuat Desly stress berat. Seringkali saat Desly mandi, ia menekan perutnya dengan keras ke bak mandi dengan harapan janinnya keluar dari kandungannya. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena Desly memilih untuk pasrah dan membiarkan janin itu bertumbuh di dalam rahimnya. Namun Indra tetap bersikeras agar Desly menggugurkan kandungannya. Tuntutan Desly agar Indra menikahinya tidak digubris sama sekali karena Indra tidak ingin mengambil resiko menerima sanksi dinas dan juga menerima penolakan dari keluarganya.
sekali. Ia hanya berpikir untuk melindungi bayinya dengan menutupi perutnya dengan bantal. Saat mendengar suara langkah ayahnya masuk ke kamarnya, ketakutan Desly tak dapat dibendung lagi. Desly semakin erat memeluk bantal di perutnya.
Dalam keadaan hamil besar, Desly pun mulai menyelidiki kehidupan Indra di Jakarta dan mendatangi kontrakannya. Ternyata Indra telah pindah kontrakan tidak jauh dari sana. Dari informasi teman-teman Indra lah Desly mengetahui bahwa Indra telah memiliki wanita lain. Hal ini memaksa Desly untuk kembali melaporkan perbuatan Indra kepada atasannya. Laporan Desly sempat membuat Indra ditahan.
Dengan ribuan derai air mata, akhirnya Desly mendapati Indra kembali padanya. Akan tetapi hal itu tidak dapat berlangsung lama. Rekomitmen ulang dilakukan Indra dan Desly demi kelangsungan pernikahan mereka. Sikap Indra mulai berubah. Indra menyayangi Desly dan juga anaknya sampai akhirnya tanpa terasa mereka telah dikaruniai dua orang anak. Dengan kebanggaan memiliki suami yang baik, Desly pun dibutakan dengan kebaikan Indra sampai akhirnya Desly tidak menyadari kalau Indra telah mulai berselingkuh lagi.
Sampai akhirnya kecurigaan Desly terbukti. Tanpa sengaja, Desly membaca pesan singkat yang sangat mesra di telepon genggam suaminya. Membaca pesan singkat seperti itu, emosi Desly langsung memuncak. Dengan serta merta Desly mendatangi Indra yang sedang makan. Tidak cukup dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajan dan keras, tangan Desly pun mulai menampar Indra. Kaki Desly pun ikut beraksi dan mulai menendangi Indra. Anak-anak mereka sangat ketakutan melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat. Desly bahkan sempat berniat membunuh Indra dengan mengambil pisau dari dapur. Untuk menghindari keributan yang lebih hebat lagi dengan Desly, Indra memutuskan untuk pulang ke Jawa dengan membawa salah seorang anaknya.
Dalam banyak kesempatan, Desly mengorek informasi dari Indra mengenai wanita-wanita selingkuhannya di masa lalu. Namun kejujuran Indra tak dapat diterima oleh Desly. Tak kuat memendam sakit hatinya, Desly pun mulai sering menghajar Indra hingga babak belur. Dengan latar belakang karate yang dimilikinya, pukulan dan tendangan bertubi-tubi diarahkan Desly kepada Indra.
Desly menyadari betapa jahatnya ia terhadap Indra, suaminya sendiri. Namun kesadaran itu tidak pernah berlangsung lama. Kebencian Desly kepada Indra melebihi segalanya. Meskipun Desly merasa ia telah mengampuni Indra, namun kekerasan tetap dilakukannya terhadap Indra. Desly pun menyadari kalau pengampunannya terhadap Indra hanya di mulut, belum dari hati.
“Apa yang kata manusia tidak mungkin rumah tangga saya bisa pulih, ternyata Tuhan bisa membalikkan semuanya dan keluarga saya bisa pulih seperti saat ini. Keluarga saya dipulihkan, anak saya menjadi luar biasa dan istri pun sudah menerima saya apa adanya, demikian juga dengan saya, pokoknya sangat jauh berbeda dengan dahulu. Sekarang dalam hal apapun istri sudah bisa mempercayai saya, saya pun demikian sudah sepenuhnya percaya kepadanya. Setiap malam kami berdoa bersama, sangat jauh dibandingkan dahulu yang hanya diisi dengan pertengkaran demi pertengkaran. Hubungan di antara kami juga semakin dekat dan rumah tangga saya dipulihkan secara luar biasa berkat Tuhan Yesus,” ujar Indra menutup kesaksiannya dengan tersenyum lebar. 